Uang Angpau Lebaran Dan Kisah Kafilah Dagang Abdurrahman Bin Auf




               Lembaran Uang Baru
Dan
Kisah Abdurrahman bin Auf



Kalau lebaran tiba pitutur orang tua tentang ‘ Banyak Anak Banyak Rejeki’ jadi bener banget rasanya. Hahahaha. Punya anak setengah lusin kalau lebaran bikin mupeng emak-bapaknya. Lah gimana enggak, mereka ngitung duit angpaunya sudah semacam saudagar batik di pasar Laweyan Solo aja. Sudah gitu diulang-ulang lagi. Tambah bikin emaknya mupeng dan gigit jari. 



Meskipun anak-anak yang lebih gedhe sudah bisa megang uang sendiri tapi Miqdad tetap dong duitnya emaknya yang pegang. *Senyum lebar. Alhamdulillah, hahahaha. Si Miqdad mah gampang dibaikin. Dibeliin balon Ipin-Upin aja sudah girang tiada terkira. Sisanya yang lain masuk dompet emaknya. Hihihihi.

Sampai sekarang kami masih mengelola uang angpau anak-anak dengan cara konvensional sih. Kan kemarin ada postingan viral yang ngajakin para orangtua buat beliin Emas/ Logam Mulia dari duit angpau anak-anaknya. Tetapi kami sih realistis aja karena duit angpau anak-anak juga tidak terlalu besar. Masih wajarlah dipegang anak-anak.
Apalagi selepas lebaran masih liburan panjang. Aktivitas anak-anak belum mulai dengan normal. Jadi liburan diisi dengan berenang di dekat rumah. Kebetulan di dekat rumah kami banyak banget kolam renang. Dari yang murah meriah sampai yang kayak pusat bermain. Cuman bedanya biasanya kalau hari biasa sepi sekarang full manusia. Anak-anak jadi ngerti juga sih kalau liburan berarti tempat bermain banyak orang. Maklum anak homeschooling, ngertinya kalau berenang ya hari biasa jadi kolam renangnya berasa punya pribadi. Jadi bisa dibilang kemampuan anak-anak berenang lumayan bagus. Karena memang sering berenang. 

Nah kemarin anak-anak nraktir emaknya buat nonton Transformers. Sudah saya review juga nih baca Transformer. sisanya disimpan alias dititipin abinya buat sedekah. Oia tentang sedekah ini. Seperti biasa sehabis subuhan di masjid biasanya anak-anak ada taklim sama ayahnya. Nah, si bapak ini memang ahlinya kalau urusan menggiring orang buat berbagi. Maklum gaweannya di lembaga kemanusiaan. Hari itu si bapak bercerita tentang sahabat Abdurrahman bi Auf dan kafilah dagangnya.

Kisah kedermawanan Abdurrahman bin Auf memang ajaib. Pernah diceritakan dalam sebuah riwayat shahih bahwa Abdurrahman bin Auf pernah bersedekah dalam suatu majlis yang jika dinominalkan setara dengan 54 milyar lebih. Masya Allah. Nah hari itu si bapak bercerita tentang kafilah dagang Abdurrahman bin Auf yang baru saja datang dari Syam dan membawa banyak barang dagangan pulang ke Madinah. Kafilah dagangnya ini berisi penuh dengan bahan kebutuhan pokok masyarakat Madinah. Yang jika diuangkan sangat luar biasa harganya. Bahkan dalam riwayat disebutkan panjangnya kafilah dagang ini dari Madinah sampai keluar kota Madinah masih tak terlihat ujungnya. Masya Allah lagi. 

Pada saat itu musim paceklik menghimpit Madinah. Gagal panen dimana-mana, harga bahan makanan melonjak, binatang ternak sedikit menghasilkan susu. Dan Abdurrahman bin Auf dengan penuh kedermawanan menginfaqkan seluruh kafilah dagangnya beserta isinya untuk penduduk Madinah. Masya Allah lagi, nangis. 

Anak-anak termangu mendengar cerita ayahnya. Anak-anak yang sudah besar pernah mendengar cerita ini tetap saja takjub dan adik-adiknya lebih takjub lagi. Lalu ayahnya bilang “ Siapa yang ingin menjadi Abdurrahman bin Auf?”. Yang gedhe-gedhe senyum masam yang kecil-kecil langsung angkat tangan. Tetapi di akhir cerita sarung si bapak saat masuk ke kamar sudah berisi lembaran uang baru yang masih belum ada lipatannya sama sekali. Wanginya juga khas wangi duit baru. Hahahaha. 

Si bapak sumringah, anak-anak juga sumringah. Karena mereka tahu uang yang mereka titipkan lewat ayahnya insya Allah sampai ke tangan yang berhak.Karena sesungguhnya harta kita yang sesungguhnya diakhirat kelak adalah harta yang kita sedekahkan. Nah, sehabis lebaran gini langsung siapin duit buat nabung untuk Qurban besok. Anak-anak pasti semangat kalau diajak nabung buat Qurban soalnya duit mereka sedang banyak-banyaknya. Insya Allah pelajaran tentang Qurban menjadi lekat di otak mereka sepanjang hayat. Insya Allah.

3 komentar

  1. hahahaaa..ngakak tengah malam dulu, "punya anak setengah selusin" pastinya banyak rezeki ya Mak, banyak donk ladang pinjamannya xixixiix

    BalasHapus
  2. Terharu nih baca postingan mbak tentang semangat anak-anak untuk bersedekah. Salut banget sama mbak dan suami yang berasil mendidik anak-anaknya untuk semangt bersedekah.

    Salam kenal mbak!

    BalasHapus
  3. Terharu banget baca kisah Abdurrahman Bin Auf. Makin terharu ketika anak-anak tersentuh dan mengikuti jejak sang tokoh dalam cerita. Alhamdulillah anak-anak soleh dan solehah ��

    BalasHapus