Featured Slider

Cek Gejala Pikun Dengan Aplikasi EMS

 Festival Digital Bulan Alzheimer Sedunia



Di rumah saya dan suami sering ledek-ledekkan kalau ada yang lupa naruh kunci kendaraan langsung dijuluki “ Pikun” hahaha. Sepertinya istilah pikun ini menjadi lumrah di masyarakat kita. Padahal pikun adalah suatu penyakit yang bisa mengurangi kinerja masyarakat lo. Nah saya menyempatkan diri hadir di Seminar Kesehatan “ Festival Digital Bulan Alzheimer Sedunia” yang mengangkat hastag #ObatiPikun.

Toleransiku

 



Masya Allah ya ternyata tahun 2020 tinggal 3 bulan aja lagi huhuhuhu. Dan hampir setengah tahun ini #dirumahaja alias mapan karantina mandiri. Ga kemana-mana kecuali urgen semisal belanja kebutuhan dan kemarin ke dokter gigi buat ngurus akar gigi. Ish. Tapi setengah tahun di rumah aja ya kok keilmuannya ya gitu-gitu aja. Khatam qur’an juga pas kemarin Ramadhan aja. Huhuhu. Apalagi baca buku-buku agama. Huhuhu. Kemarin aku ngapain aja sih? Sambil menatap nanar nilai kuliah yang ternyata ga bagus-bagus amat. Hiks.

Mie Sehat Lemonilo Pilihan Keluarga Raffi Ahmad



Awal pandemi lalu sekitar bulan Maret 2020 kami sekeluarga mulai menertibkan kembali asupan gizi anak-anak di rumah. Apalagi saat berhembus kencang informasi tentang pentingnya imunitas tubuh demi melawan serangan virus. Tadinya saya masih nyetok mie instan buat di rumah tapi kemudian membatasi jumlah asupan mie instan dan mulai beralih ke mie yang lebih sehat. Pilihannya di pasaran ya cuma Lemonilo.

RIP Hati Nurani

 



Awal-awal pandemi saya sering menahan diri untuk tidak mendaftarkan blog maupun sosmed untuk beberapa kerjaan. Karena saya tahu betul betapa banyak kawan-kawan blogger yang terpukul dengan adanya musibah pandemi ini. Banyak kawan kehilangan pekerjaan. Kehilangan mata pencaharian. Event-event ditiadakan otomatis job-job teman-teman blogger berkurang. Jika ada event online pasti saingannya menjadi lebih banyak. Saya sadar diri bahwa masih banyak yang membutuhkan job blogger dibandingkan saya. Saya bersyukur sekali Allah masih menghidupkan hati nurani saya.

Yuk Ngemil Bijak Bersama Keluarga

 





Selama pandemi ini bisa dibilang kami se-rumah ‘Menggembul bersama”. Ya mau gimana lagi. Kerjaannya di depan hape dan ngemil aja. Buahahaha. Anak-anak sekarang lebih banyak belajar online. Bahkan kemarin mereka ujiannya versi online. Beberapa kegiatan ekstrakurikuler juga diliburkan entah sampai kapan. Huft. Mau ga mau emaknya menyiapkan lebih banyak cemilan di rumah. Dan ternyata yang menjadi hobby ngemil bukan hanya anak-anak tetapi juga saya dan pak suami. Sepertinya selepas pandemi kami akan menjadi keluarga dengan ukuran XL size. Hahaha.




Sebenarnya saya ga keberatan memberi anak-anak lebih banyak makanan. Tetapi harapannya makanan yang ‘menjadi daging’. Bukan sekedar ‘lewat’ saja. Nah kemarin saya ikut ngobrol nih tentang “ Ngemil Bijak” bersama IIDN dan Mondelez. Bayangan saya nih bakalan keras banget larang untuk ngemil. Lah ternyata. Ngemil itu ga salah sebenarnya. Karena ia juga bagian penting dalam menjaga kebugaran tubuh. Tetapi memang harus dilakukan dengan bijak.



Virtual sharing session dengan tema Tips & Trik #NgemilBijak Dalam keluarga bersama  Komunitas Ibu-Ibu Doyan Nulis dan Mondelez Indonesia berlangsung seru. Menghadirkan seorang psikolog klinis, mbak Tara de Thours, BA, M.Psi, Psi dan juga mbak Khrisma Fitriasari, Head of Corporate Communication Mondelez Indonesia.

Ada beberapa data penting yang bikin saya kaget nih. Antara lain

Dibandingkan rata-rata global, orang Indonesia lebih banyak mengkonsumsi camilan dibandingkan makanan berat

Dan 3 dari 4 orang Indonesia (77%) mengatakan bahwa cemilan yang praktis jauh lebih cocok dengan gaya hidup dibandingkan makanan berat. 

Sebagian yang lain (53%) mengatakan bahwa mereka tidak mempunyai waktu mengkonsumsi makanan berat.

4. Dan ternyata 80% dari para respondens adalah milenial lo. Wah, ternyata

 


Dari infografis di atas saya tambahi beberapa alasan ngemil untuk saya

1.     Kalau saya sendiri ngemil karena butuh energi di sela-sela jadwal makan berat. Meskipun saya jarang ngemil sebenarnya. Tetapi biasanya saya ngemil buah atau cemilan buatan sendiri.

2. Butuh untuk memperbaiki mood. Biasanya saya menyediakan beberapa batang Cadbury untuk menemani menulis saat malam atau dini hari.



Dan di rumah kami berusaha membangun kebiasaan ngemil sehat. Karena anak saya banyak biasanya kami memilih membuat cemilan sendiri. Kecuali beberapa cemilan seperti coklat atau biskuit yang memang menjadi favorti anak-anak yang tidak bisa saya buat sendiri.

Nah, kemarin dapat ilmu bagus dari mbak Tara tentang #Ngemilbijak ini.

Menurut mbak Tara #ngemilbijak itu harus dilakukan secara sadar bukan sambil disambi melakukan pekerjaan lain. Karena hasilnya nanti akan berbeda. Selain itu kesadaran bahwa kita ngemil karena butuh atau ngemil karena kasihan akan membawa dampak yang berbeda. Dimana ngemil karena kasihan itu lebih membawa efek negatif ke tubuh kita. Kita menjadi ngemil tanpa kontrol.

Nah berikut beberapa tips #ngemilbijak yang bisa kita, para ibu, lakukan di rumah untuk membangun kebiasaan ngemil yang baik.

1. Benahi perilaku makan kita. Membiasakan mindful eating

2. Atasi rasa cemas dan rasa bersalah karena merasa tidak bisa memberikan yang terbaik untuk anak. Bangun kebiasaan memberi cemilan karena love bukan pity.

3. Memberikan yang terbaik untuk anak bukan hanya berdasarkan apa yang diinginkan anak. Tetapi karena memang anak benar-benar membutuhkan cemilan tersebut.

   Selain tips di atas ada beberapa langkah ngemil bijak yang diajarkan mbak Tara nih. Sebagai seorang psikolog klinis beliau membantu banget dalam hal memperbaiki kebiasaan ngemil para peserta nih.



1.     Yuk cek sinyal tubuh. Ini penting banget. Kita bisa mengecek saya ngemil karena lapar atau karena pengen aja.

2.     Relaksasi. Turunkan emosi, naikkan logika. Biasanya saat rileks kita lebih logis dalam berpikir. Kita jadi lebih punya waktu buat mikir “ini beneran ga ya aku butuh ngemil” . kita juga bisa berpikir secara rasional tentang seberapa banyak makanan yang kita butuhkan

3.     Mindful eating & snacking. Kita memberikan pada ke-5 indera kita untuk memberikan sinyal yang tepat akan seberapa butuh kita terhadap makanan.

4.     Tunggu sebentar dulu. Kalau kata mbak Tara sih tunggu sekitar 15-20 menitan (duuh lama ternyata, hahaha). Ini sebenarnya untuk menunggu sinyal perut sampai ke otak, apakah kita perlu nambah snack lagi atau stop.

5. Perbanyak rasa syukur. Syukuri apapun yang masuk kita makan. Apapun yang tersedia di rumah. Syukuri apapun yang terhidang di meja makan. Syukuri apapun yang tersisa di kulkas. Biasanya rasa syukur ini membuat kita lebih bisa menahan diri untuk ga berlebih-lebihan dalam makan atau apapun yang ga penting.

 


Oia saya kemudian menyadari kenapa sesaat setelah memasak begitu banyak makanan enak saya jadi ga begitu berminat lagi untuk makan banyak. Paling ya cuma nyicip sedikit dan seperlunya aja. Ternyata karena Mindful eating dan snacking. Dimana langkah ini ternyata sangat berpengaruh lo terhadap kebiasaan kita saat mengemil. Kata mbak Tara saat mindful dan snacking ini yang membantu kita bisa menentukan bahwa ternyata kita menyadari bahwa kita ngemil karena butuh atau Cuma karena pengen aja.

Berikut langkah mindful eating dan snacking ya.

  •  Gunakan mata kita untuk mengamati makanan dengan seksama. Perhatikan bentuk, warna, penataan, dsb. Ajak indera penglihatan kita menikmati keindahan bentuk makanan yang terhidang.
  • Cium dan baui aroma yang keluar dari makanan. Nikmati sensasi aroma lezat makanan.
  • Biarkan tangan kita menyentuh makanan. Ajak indera penyentuh kita menikmati tekstur dari makanan.
  • Ajak lidah kita menikmati makanan yang masuk ke mulut. Rasakan sensasi nikmat makanan di lidah, di langit-langit mulut, di antara gigi, dll. Kan beda hasilnya saat kita makan langsung ‘telap-telep’ kayak orang kelaparan. Hahahaha.
  • Dan langkah terakhir ajak indera pendengaran kita yakni telinga untuk menikmati suara yang muncul dari makanan. Seperti: suara kunyahan, suara patahan biskuit yang kita makan, suara remasan kulit kuaci misalnya. Akan terasa sekali nikmatnya jika indera pendengaran kita ikut ‘makan’ juga.

 


Nah dari langkah mindful dan snacking di atas kemudian kita bisa mengajak seluruh indera tubuh untuk menikmati makanan. Sehingga saat indera tubuh kita sudah terpenuhi kita tidak akan segera terburu-buru menambah cemilan lagi. Kebiasaan ini bisa kita bangun di keluarga. Sehingga kita bisa menghidupkan kebiasaan ngemil bijak di keluarga. Anak-anakpun akan bisa lebih bijak saat mengemil. Mereka juga lebih mudah diatur untuk mematuhi aturan jadwal makan berat. Sehingga asupan nutrisi seimbang mereka ter[enuhi. Dan insya allah tumbuh kembang mereka juga lebih baik. 

Nah kalau begitu kita ngemil Oreo dulu ya. Diingat ya mindful snacking-nya. 




Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba Ngemil Bijak yang diadakan oleh Ibu-Ibu Doyan Nulis” cek linknya di sini ya https://bit.ly/lombablogngemilbijak da