Selasa, September 12, 2017

Melepas Anak Mandiri Saat Baligh


Anak SMA Mandiri, Bisakah?




Beberapa waktu lalu saya dan sulung sempat terlibat perbincangan serius tentang 'masa depan’. Diskusi kami mengerucut pada istilah mandiri saat baligh. Awalnya saya tanya Osama siap ga kalau menghidupi diri sendiri nanti kalau udah setara SMA. Osama tertawa tetapi dia tidak menyanggah dengan kalimat semisal “ ah mana bisa” atau sejenisnya. Dia cuman tertawa kecil seolah meyakinkan dirinya apa iya dia ditanya tentang itu.



Sebenarnya wacana tentang mandiri saat anak laki-laki akil baligh ini pernah kami diskusikan saat Osama mulai rutin membaca sirah sahabat nabi yang jadi buku wajib yang harus dia baca. Hampir semua kisah sahabat yang dibacanya para lelaki sahabat nabi sudah mulai mandiri saat mereka remaja. Sudah berdagang, ikut perang, bahkan memilih keyakinan (dalam hal ini memeluk islam) termasuk menikah di usia belasan tahun.

Oke kalau ada yang bilang zaman dulu berbeda dengan zaman sekarang. Zaman dulu mungkin biaya hidup tidak semahal sekarang. Ah apa iya? Kalau menilik biaya saya kira sama saja. Buktinya remaja yang ikut berperang bersama Rasulullah harus menyiapkan sendiri perbekalan perang mereka yang harganya tidak murah termasuk kuda perang (yang hari ini harganya bisa tembus ratusan juta) dan perlengkapan lain. Zaman dulu mungkin persaingan hidup tidak sebanyak sekarang dimana untuk mendapatkan pekrjaan misalnya harus bersaing dengan jutaan orang lain.




Yang saya bisa ambil dari banyak kisah sahabat nabi adalah para remaja ini mandiri secara finansial karena terbiasa bekerja baik berdagang maupun bekerja ikut orang lain. Itulah kenapa mereka berani mengambil keputusan sendiri termasuk keputusan besar dalam hidup semisal masuk islam dan menikah misalnya. Saya dan suami sendiri belum punya bayangan sekuat apa kami jika melepas sulung kami untuk mandiri di usia SMA besok. Tapi rencana untuk itu ada dan kuat insya Allah. Satu yang kami tekankan bahwa kemandirian itu tidak akan kami jalankan sebelum kami merasa khatam mengajarkan tentang makna kemandirian bagi seorang muslim. Sebagai contoh, pasti kami tidak akan melepas anak untuk hidup mandiri jika salat subuhnya saja belum berjamaah di masjid misalnya. Parameter paling sederhana untuk menilai kemandirian seorang remaja adalah saat ia berangkat salat berjamaah ke masjid di setiap waktu salat tanpa perlu ‘dioyak’ dulu. Itu parameter paling sederhananya. Buat saya jika punya anak remaja yang setiap adzan salat berkumandang dia berangkat salat ke masjid tanpa perlu diingatkan itu berarti orang tua nyicil adem sik. Parameter selanjutnya bisa sambil jalan.

Osama jualan kaos :)



Hal paling mendasar yang harus diajarkan pada anak laki-laki adalah berani mengeluarkan semua uangnya untuk kemanfaatan tapi mau bekerja keras untuk mengumpulkannya kembali. Jadi laki-laki itu tidak boleh pelit yang harus diajari adalah bagaimana pinter nyari duit. Hehehehe. Itulah kenapa saya bilang pada Osama lihat para sahabat kalau berinfaq semua harta yang mereka punya mereka berikan itu karena mereka tahu bahwa mereka bisa mengumpulkan kembali harta mereka dengan jalan bekerja (berdagang dsb). Jadi sebenarnya hal paling bagus sih memotivasi anak untuk terbiasa berinfak jadi mereka juga termotivasi untuk menghasilkan uang lebih banyak lagi dengan bekerja ataupun berdagang. Gitu kira-kira. Yang pasti sebagai orang tua kita bisa memperkirakan bahwa dengan kemandirian ini anak-anak remaja ini tetap bisa menuntut ilmu, mengoptimalkan potensi terbaik mereka dan menjadi manusia yang religius dan bermanfaat sekaligus. Dan ini orang tua yang punya peranan penting. Kalau anak bangun pagi saja sudah susah gimana mau dilepas cobak?. 

Oia satu yang perlu diingat bahwa ini bukan berarti orang tua menjadi lepas tanggung jawab pada anak ya. Atau malah orangtua kemudian meresa bebas karena si anak sudah tidak tergantung secara finansial lagi pada kita. Saya yakin semua orang tua pasti ingin menghidupi anak sampai mereka punya anak cucu. Ga bakalan orang tua tega melepas anak kalau kita sebagai orangtua tidak punya prinsip bahwa kemandirian itu harus diajarkan pada anak.

Sekarang sih Osama masih setara kelas 2 SMP wacana tentang kemandirian ini sudah mulai menjadi bahan diskusi kami dalam beberapa kesempatan. Dan Osama sepertinya fine-fine aja. Mungkin karena dia melihat selama ini dia sudah mulai punya penghasilan sendiri jadi dia melihat ‘kemandirian’ itu ga masalah buat dia. Atau mungkin dia ga sabar pengen cepet-cepet usia SMA itu datang biar bisa cepet mandiri dan pergi dari rumah -____- kalau begini emaknya jadi baper.

Dan satu hal lagi bahwa dengan kemandirian ini sebenarnya membuat anak lebih mudah untuk menikah di usia muda. Bukan dini ya. Entah kenapa kata dini itu buat semacam 'dewasa yang dipaksa' halagh. Maksudnya begini dini itu seperti ketidaksiapan, ketidak dewasaan berbeda dengan kata muda. Jadi saya lebih mendukung kalimat 'menikah muda' daripada 'menikah dini' misalnya. Karena kami sebagai orang tua mengajarkan pada anak-anak bahwa tidak ada pacaran dalam islam jadi untuk menjaga diri dan menggenapkan separuh dien kalian ya harus menikah. Dan menikah itu bisa dilakukan jika kalian mampu. Dan mampu itu di dalamnya termasuk 'mandiri' tadi. 


Aniway, sebanyak mungkin kami memperbanyak diskusi dan waktu bersama anak-anak. Agar saat ‘moment’ itu tiba kami siap dan ikhlas melepas anak-anak agar mereka bisa mengejar cita-cita mereka menjadi manusia yang bermanfaat bagi umat dan semesta. Aamiin.


Catatan ini ditulis sambil sedikit mewek. Hahahahaha. Mungkin ada orang tua lain yang punya pendapat monggo berbagi di sini. Mudah-mudahan kita bisa mendapat pencerahan. Oia buat keluarga kami ini berlaku untuk anak laki-laki ya bukan perempuan :). Kalau perempuan ada syarat yang lebih ketat lagi tentunya.

6 komentar:

  1. anak saya nih mak, ke mesjid berani sendiri tapi di rumah ke kamar mandi sendiri ga brani >< masih banyak PR nya..

    BalasHapus
  2. Insya Allah bisa mak. Harigini sebal banyak cowok abg yg gaya2 di medsos pdhl duit msh minta ortu. Dah gitu bawel2 pula. Cowok kudu strong & berani krn kelak jd tiang bagi keluarganya.

    BalasHapus
  3. Kalo kasih pendapat sih blm bs, secara anak masih piyik, tp kadang mslah kemandirian ini masalah kesiapan ortu ngelepas jg sih. Kuatkan hatimu Mak. Ntr sharing2 trs yaa..buat persiapanku. Hihi

    BalasHapus
  4. Baca keseluruhan jadi ikut merasakan rasanya punya anak laki ABG. Mudah2an Osama bisa menjadi laki2 sholeh yg mandiri ya nak. Aaamiinn. Punya umi hebat yg menghebatkan.

    BalasHapus
  5. jadi kepengan punya anak cowok, semoga Anaknya menjadi anak yang soleh dan berbakti kepada orang tua

    BalasHapus
  6. Saya juga ingin dan berusaha menyiapkan kedua anakku untuk mandiri baik secara financial dan mental saat usia mereka cukup dewasa.Ketika mrk mampu memilih jalan hidup mrk sendiri.

    BalasHapus