Sabtu, September 03, 2016

Queenie



 Queenie
Zayn malik Fans Fiction





Cerpen ini saya buat sekitar tahun 2013 kalau tidak salah. Sekedar iseng untuk di posting di wattpad kategori fansfiction. Iyah bener. Ini fansfictionnya Zayn waktu doski (doskii???) masih bergabung di One Direction. waktu masih imut-imut. Sekarang amit-amit. Hahahaha. Oia ini versi pendeknya. Soalnya saya buat versi novelnya dan sudah selesai juga. Baca di wattpad sana ya. Sekarang ga pernah nulis fiksi lagi. Ga pernah nulis wattpa lagi. Semacam author lupa password begitu kira-kira. Hatsyiiim


Queeni
Queeni terkantuk-kantuk di samping ayahnya. Mereka sedang menunggu di Lounge khusus penumpang VIP. Langit Amerika sedang tak bersahabat. Prakiraan cuaca setempat memperkirakan akan ada badai sampai tiga - empat jam kedepan. Pesawat pribadi keluarganya terpaksa taat aturan. Apalagi penerbangan mereka menuju Alaska. Umminya tadi pergi ke cafe memesan minuman hangat. Queeni melirik ke sekeliling. Bandara JFK memang bandara tersibuk di dunia. Dan lounge ini berisi golongan elit pengguna pesawat terbang yang terpaksa mematuhi hukum alam. Coba kau pikir siapa yang bernyali terbang bersama badai.
Tak lama masuk rombongan pemuda beserta pengawal-pengawal tegap. Queeni menduga itu pasti pasukan artis. Orang kaya baru. Mereka duduk di seberang kursi Queeni dan ayahnya. Ayahnya masih sibuk membaca di ipadnya. Sampai kemudian seorang pemuda mendekati tempat duduk mereka.
"Mister Wheeler?"
Ayahnya mengangkat kepala
" Yeah, mashaallah Zayn"
" Assalamualaykum" ucapnya.
" Wa'alaykumsalam" sahutku dan ayah berbarengan.
" Anda disini juga?" Tanyanya sambil tersenyum.
" Yeah begitulah" jawab ayah.
" Kalian hendak kemana?
" Kami ada tour di California" jawabnya masih dengan senyumnya. Ia kemudian menyalami dady. Dan menangkupkan tangan didepanku.
" Ini Queeni" tanyanya
" Ya" daddy menjawab
" Wah sudah besar ternyata sekarang" celetuknya. Aku tertawa dalam hati. “Kau pikir?”
 Ia tersenyum ke arahku. Dan mungkin ia menebak aku mengejeknya dalam hati
Ia dan dua orang temannya duduk di depan daddy. Aku terpaksa menegakkan tubuhku dengan terpaksa. Haduh, batal deh tidur-tidur ayam ku.
Mereka mengobrol dan sesekali melibatkanku. Aku hanya menjawab pendek.
" Sekarang Queeni kelas berapa" tanya zayn
" Tahun kedua  di haigh school, Uncle Zayn" jawabku
Dan tawa teman-temannya meledak. Ayah tersenyum. Aku bingung.
" Hey cukup Zayn saja tak perlu pakai uncle. Aku belum merasa tua" sahut Zayn tersenyum. Aku tersenyum malu. Untungnya daddy tanggap.
" Queeni jika kau bosan kau boleh berkeliling. Minta ditemani Uncle Saad saja" kata daddy dan aku melirik ke arah uncle Saad pengawal kami yang duduk sekitar 10 meter dari kami masih menyesap kopinya. Aku hanya mengangguk.
" Ayo kutemani" sahut temannya Zayn. Ia berambut putih. Rasanya namanya Nial. Ia menoleh ke ayah
" Bolehkan mister Wheeler" ia minta persetujuuan ayah. Ayah mengangguk.
" Ayoo kita jalan-jalan. Aku juga bosan dari tadi di dalam sini terus" ucapnya dengan mimik lucu.
Aku berdiri, sebenarnya aku ingin sendiri berburu foto. Tetapi aku tidak bisa menolak pria berambut putih ini kan. kami berjalan beriringan. Uncle Saad berdiri juga ketika melihat aku beranjak pergi. Ia ikut berjalan bersama kami. Si nial ternyata lucu juga. Aku yang terbiasa diam dengan orang asing sesekali ikut tersenyum. Kami mengobrol. Aku tepatnya mendengar obrolan mereka.
Aku sibuk mengambil foto. Nial juga menjepret ke sana kemari dengan iphonenya. Uncle saad menawarkan mengambil foto kami berdua. Aku hanya mengangguk. Ia mungkin agak heran melihatku yang tdk terlihat antusias berfoto bersama artis. Tak lama Zayn dan Liam temannya menyusul kami. Kami berkeliling sekitar lounge mencari tempat sepi karena khawatir dilihat fans.
Zayn bertanya banyak hal. Aku hanya menjawab pendek. Aku banyak tidak ingat hal tentang Zayn. Yang ku ingat ia pernah membintangi film yang ditulis ummiku. Ia pernah mampir ke rumah kami di Dubai ketika aku masih berusia 8 tahun an. Dan film yang dibintanginya berkisah tentang dia dan aku. Hadeh, ummi memang berimajinasi tinggi. Film itu di buat untuk konsumen Indonesia. Aku tidak ingat siapa pemeran wanitanya. Aku hanya ingat aktris itu sebenarnya tidak berjilbab jika tidak bermain film.
Aku hanya mendengarkan mereka mengobrol dan tertawa. Aku sendiri sibuk dengan kameraku. Aku suka hunting foto. Uncle Saad sesekali mengobrol dengan pengawal Zayn dkk. Aku malah celingak-celinguk. Iseng ah, akhirnya aku memisahkan diri. Aku menyusuri lorong disamping eskalator khusus tas. Menuju arah bagian imigrasi kemudian berbelok ke menuju eskalator penumpang menuju lantai dibawahnya.
Aku menyusuri pinggiran dekat kaca. Memandang keluar. Orang-orang berlalu lalang. Mengambil angle dan membidik ke sana-kemari. Mengepaskan lensa dan men zoom pesawat-pesawat jauh di depan sana. Melangkahkan kakiku menuju bagian bawah. Melewati eskalator. Dan mengayun langkah asal saja. Sampai aku menyadari lorong ini sepi. Hm, aku dimana. Dan sialnya di belakangku dua pemuda bertampang hispanik mengekoriku. Dan mereka menyadari kalau diriku mulai curiga. Mereka berjalan semakin cepat. Dan aku semakin mempercepat langkahku. Ya Allah lorong ini kapan berakhir. Aku menambah kecepatan dan mulai berlari kecil. Dan mereka mengejarku. Aku memang jago lari tetapi jika dalam keadaan panik dan dikejar oleh laki-laki dewasa entahlah. Akhirnya aku berbelok dan naik ke eskalator. Dua pemuda itu juga tetap mengejarku. Aku melompati tangga eskaltor dengan cepat. Dan. Naik lagi ke eskaltor berikutnya. Dan bergabung bersama kerumunan orang. Sampai diatas aku bingung ini lantai berapa. Aku menepi dan mencoba bersembunyi di balik tembok dengan nafas hampir putus
" Kau disini?"
" Aaaa" aku menjerit hampir mati.
" Kau kenapa?" Zayn bertanya. Ia memegang bahuku dan aku reflek menghindar. Semua orang yang ada disitu menoleh ke arah kami dan curiga kepada Zayn. Zayn jadi salah tingkah.
" Ups maaf. Kupikir kau siapa”
aku berucap kesal
Dua pemuda yang tadi mengikuti akhirnya berbalik arah. Dan aku merapatkan tubuhku ke arah Zayn. Meskipun tidak bersentuhan tapi aku dan Zayn sama kagetnya dengan refleksku. Aku kemudian menunjuk ke arah dua pemuda yang menjauh tersebut dan Zayn mengerti.
" Ayo balik, semua orang mencarimu" ujarnya gusar. Aku menekuk bibir. Antara kesal dan merasa bersalah. Kami berjalan beriringan dia di depan aku dibelakang. Kemudian dia berhenti.
" Ayo jalanlah disampingku. Nanti kita terpisah lagi. Kau takut padaku?" Tanyanya sambil memicingkan matanya. Dan aku refleks menggeleng.
" Kalau begitu ayo sini" ia menggerakkan dagunya memintaku berjalan di sampingnya. Aku maju dan berjalan bersisian. Ia menoleh dan tersenyum padaku. Aku diam dan menunduk lagi.
Sampai di lounge kulihat daddy dengan wajah lega melihatku. Ummi langsung menhampiriku. Bikin malu saja membuat semua orang panik. Teman-teman Zayn senyam senyum. Zayn tersenyum ke arah daddy dan mereka berbicara entah apa yg dibicarakan. Dan ummi langsung menyodoriku susu coklat. Ya ampun rasanya seperti menjadi anak-anaklagi.

Zayn
Gadis itu menjerit dan aku terkejut atas refleknya. Dia polos dan masih muda. Dia ketakutan. Aku berniat mengejar dua pemuda dan menghajarnya tapi melihat Queeni yang mengkerut disampingku akhirnya ku batalkan.

Aku suka melihat caranya memandangku. Tidak pernah ke arah mata. Kalau tidak ketelinga ya kearah daguku. Dia cantik dan manis. Ya ampun Zayn dia masih 17 tahun. Berbeda 13 tahun denganku. Dan ia putri keluarga Wheeler. Ia terlihat lugu. Giginya saja masih dikawat. Tingginya saja masih di bawah bahuku. Jilbabnya lebar sampai menutupi dada dan terulur melebihi pahanya.
Dan aku kaget ketika mereka pamit hendak berangkat. Ia menoleh ke arahku dan mengucapkan
" Zayn, terimakasih sudah menolongku tadi" ucapnya pelan sambil berlalu. Ia kemudian mengekori ayah dan ibunya dan diikuti pengawal keluarganya
" Wah Zayn, jangan bilang kau naksir anak abege" ucap Harry sambil tertawa
" Nanti kau dipanggilnya dengan paman Zayn lagi" dan meledaklah tawa teman-temanku. Aku hanya tersenyum masam.
Tetapi sampai akhirnya kami naik ke pesawat aku selalu memikirkannya. Dan aku tersenyum ketika melihat layar iphone ku. Aku tadi mengambil gambarnya. Ketika itu ia menoleh ke arahku. Matanya bulat dan indah. Hm, entahlah kapan lagi kami akan bertemu. 

1 komentar: