Ketika anakku TIDAK SEKOLAH jilid I


           































                 Apa yang anda bayangkan dan ucapkan  ketika melihat seorang anak tidak pergi kesekolah dipagi hari, bukan waktu libur. "Dasar pemalas, pembolos," atau "Orangtuanya kemana sih", atau "Kasihan" atau "Sebodo teuing, anak anak orang bukan anak gueh"....
           Ketika saya dan anak-anak memutuskan untuk tidak sekolah begitu banyak jawaban yang akan kami persiapkan jika orang bertanya. Bahkan saya sendiri membuka banyak referensi agar bisa menjawab pertanyaan orang yang berkaitan dengan tidak sekolah ini. Sampai akhirnya saya sadar kenapa sekarang subyeknya adalah orang lain bukannya anak-anak yang notabene adalah sebagai pelaku. Tapi butuh waktu berbulan-bulan agar kami tidak peduli dengan banyak pertanyaan orang diluar sana. Saya hanya perlu meyakinkan diri kami sebagai orang tua dan juga anak-anak agar kami bisa mencapai semaksimal mungkin apa yang kami harapkan. 
         

         Saya berharap banyak agar anak-anak mendapatkan pendidikan yang terbaik dan bagus. yang ramah anak dan ramah otak. tapi semakin saya menunjukkan kriteria yang saya inginkan semakin kecewa saya dengan kenyataan. semakin saya berharap semakin tinggi dilangit harapan itu menggantung. Seperti kata Ayah Edy penggagas Indonesia Strong From Home     



"Banyak orang berpikir agar Negeri ini bisa berubah mestinya presidennya harus begini, menterinya harus begitu....
Mengapa kita terus berharap pada orang lain, mengapa kita terus berfokus pada apa yg tidak bisa kita lakukan." (Ayah Edy, Indonesia strong From Home)

Banyak keluarga yang heboh menjelang tahun ajaran baru seperti sekarang. Karena pendidikan adalah prioritas utama bagi banyak keluarga. Memang pendidikan adalah investasi abadi bagi setiap orang. Tapi bagi keluarga kami tahun ajaran baru seperti hari biasa. Bukan berarti kami mengabaikan pendidikan bagi ke5 buah hati kami. Bahkan pendidikan menjadi pilar dalam keluarga kami. Bahkan bagi kami keharusan untuk terus belajar menjadi kewajiban yang harus dipenuhi. Bukan apa-apa, karena ke-4 anak-anak kami tidak menempuh pendidikan normal. Mereka bersekolah dirumah (Homeschooling).
Banyak orang tidak bisa membedakan tidak sekolah dengan bersekolah dirumah. Sekolah hari ini adalah di gedung bagus, seragam keren dan bersepatu. Duduk manis mendengarkan guru dan menjawab ketika ditanya. Adalah sebuah keanehan melihat anak belajar sendiri, mengaduk pasir, menimbang adonan roti didapur pada jam-jam sekolah. Bagi kami sekolah bisa dimana saja tidak terikat waktu dan ruang. Belajar matematika bagi anak-anak adalah membawa uang dan kantong belanja ke pasar. Memilih bahan untuk dimasak dan menawar harganya dan kemudian membayarnya. Belajar sains bagi anak-anak adalah terjun langsung kesawah, menangkap kodok, menghitungnya, melihat cara hidupnya dan kalau perlu memelihara telurnya didalam toples dan menyimpannya dikamar tidur. Dulu saya harus berpikir keras bagaimana mengajarkan nilai pecahan matematika pada anak-anak. Ternyata, membagi pizza ataupun cake bundar dan mengiris semangka adalah cara mudah menghitung pecahan. Belajar bahasa asing tak harus mahal biarkan anak bertanya tentang apa saja dan jawablah dengan bahasa asing yang kita kuasai. Jika sebagai ibu kita belum bisa bahasa asing ya belajarlah bersama anak-anak. Percayalah itu akan lebih mudah dibanding kita belajar sendiri. 



Anak-anak yang bersekolah dirumah juga tidak kekurangan teman. Malah mereka bergaul dengan siapa saja dibanyak tempat. Mereka bertemu orang baru setiap hari. Ya sejak anak-anak bersekolah dirumah sebagai ibu saya banyak belajar hal baru. Dan saya kadang takjub dengan semangat pembelajar anak-anak. Mereka belajar karena dua hal: ketidaktahuan dan keingintahuan. Ah rasanya menyenangkan jika kita terus belajar hal-hal baru seperti anak-anak.




Harus kami akui betapa cobaan kami sangat besar membentang didepan kami. tapi bukankah seperti kata pepatah bahwa " kapal yang berlabuh di dermaga akan aman dari badai dan gelombang tapi bukan untuk itu tujuan kapal itu dibuat". Ya-Ya, setiap masalah sebenarnya adalah pelajaran hidup yang akan semakin menguatkan kita. Dan saya ingin anak-anak juga belajar langsung pada kehidupan. Target kami saat ini sederhana (?) bukan anak pandai matematika, pandai cas-cis-cus bahasa asing atau mengerti semua percobaan IPA yang tampaknya terpelajar dan ilmiah itu (yang sejatinya sederhana) target kami sangat sederhana (?) yakni: ketika Adzan salat memanggil mereka sudah tidak perlu lagi diingatkan untuk salat, dan langsung berlarian kemasjid untuk berada dibarisan paling depan, yang ketika selesai salat mengangkat ke-2 tangannya mendoakan emak dan bapaknya yang banyak dosa ini dan senantiasa untuk "IQRA" segala hal yang memang membuat mereka menjadi manusia yang lebih baik dari hari kemarin dan mengerti untuk apa mereka diciptakan.


Kadang-kadang terselip rasa'minder' ketika melihat anak kerabat, tetangga atau teman yang baru saja mendapat pelajaran tambahan ini-itu disekolah yang sepertinya terlihat hebat. Tapi kemudian saya kembali mematut diri. Ada banyak hal yang dipelajari oleh anak-anak dibandingkan teman-temannya yang sekolah disekolah formal. 


 ini adalah foto jepretan Usamah (kebetulan dia sangat visual), karyanya lumayan 'aneh-aneh'


Seperti beberapa waktu lalu saya agak gemes dengan kemampuan anak-anak dalam masalah penambahan dan pengurangan. Mereka tidak mau mengerjakan latihan soal matematika jika lebih dari 3 angka (maksudnya ratusan). OKE pelajaran saya hentikan. Esoknya saya menceritakan pada mereka tentang gugatan Apple pada Samsung yang berbuah 9 trilyun untuk Apple. Saya minta mereka menghitung jumlah angka nolnya. " Lihat bagaimana mereka tidak menguasai dunia, angka nol dibelakangnya saja ada DUABELAS. Sedangkan kita masih pada tahap menghitung ratusan saja sudah tidak mau. Bagaimana bangsa Yahudi tidak menindas kita ketika mereka hitungan sudah sampai trilyunan kita baru masuk ratusan udah gitu masih salah lagi".....hehehe, sejak itu anak-anak tidak pernah sudi lagi diberi soal pada tahap ratusan. Mereka sudah jutaan dan milyaran. Meskipun sekarang mereka sudah menggunakan komputer untuk berhitung. Tapi saya ingin mereka berpikir bahwa ada hal yang penting dan krusial kenapa kita harus belajar matematika. Bukan nilai atau pujian yang dikejar. Tapi jauh lebih mulia daripada itu.
Sungguh saya takjub dengan kemampuan belajar setiap anak. Sungguh anak-anak adalah pembelajar sejati. Teruslah Belajar Nak....ada banyak hal INDAH diluar sana.

16 komentar

  1. sy pernah mantap memutuskan utk meng-HSkan kedua anak sy. Jd sy tidak perna menjudge buruk thd anak2 yg HS.. Cuma ada alasan2 tertentu sy akhirnya memilih sklh formal..

    Mnrt saya apapun pilihan pendidikan utk anak kita selama kita bisa menjalaninya dg baik hasilnya akan baik kok :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. ya betul mbak...karena yang menjalani adalah kita dan anak-anak maka harus juga ditanya apakah anak-anak juga nyaman melakukannya...alhamdulillah semakin kesini kami bs menemukan pola yang mulai nyaman.klo dlu diawal..hadeeehhhhh :(

      Hapus
  2. subhanallah keren banget. Mbak ada silabusnya enggak untuk metode home shooling ini? mau dong

    BalasHapus
    Balasan
    1. dlu diawal saya pake silabus mbak..tapi skrg sudah ga krn anak-anak mulai menemukan polanya sendiri...malah kadang silabus itu membuat kita streng dan agak kecewa jika hasilnya ga seperti yg diharapkan.saya pake buku pelajaran sm seprti sklh pd umumnya. tapi hanya sebagai pegangan untuk tahap belajar. malah kadang lompat2.misalnya anak2 blm pengen belajar itu, sy ganti pelajaran lain meskipun itu masuk kelas diatasnya...

      Hapus
  3. Alhamdulillah . . .^^ banyak org telah memilih pilihannya, namun, tentu qt akan menghadapi ombak besar dari sana sini yg siap menghadang langkah kita dan terkadang ombak itu membuat banyak org tidak setia pd pilihannya, bukan karena dia tidak yakin, karena dia jg hrs mendengarkan pertimbangan dr sana-sini yg semuanya bermuara untuk kebaikan masa depan putra-putrinya. Apapun pilihannya, semoga istiqomah ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin...semoga diberi kemudahan.

      Hapus
  4. orang tua yang paling mengerti apa yang terbaik untuk anak-anaknya, saya juga tertarik dengan homeschooling ini tapi seperti yang sudah ditulis, akan ada rintangan besar dari keluarga. Salut sama orangtua yang pikiranya maju dan berbeda dari orang2 lain,,,, kutipannya dari ayah edy saya copas ya....

    BalasHapus
    Balasan
    1. jangan lupa masukkan anak sebagai pertimbangan..setiap anak punya keunikan sendiri...krn mereka yg menjalani jadi tanyalah pada mereka..

      Hapus
  5. homeschooling yg dilakukan tiap keluarga beda-beda ya... sesuai kreativitas dan kebutuhan masing-masing. Kalau ini bener2 hs karna gurunya adalah ibu/bapaknya sendiri.Ada juga homeschooling yang seperti sekolah biasa cm bedanya anak2 itu dikumpulkan di sebuah rumah yg juga memiliki guru tersendiri, jml anak terbatas dan mereka ga pakai seragam. HS model ini menguras biaya juga. Tp jaman sekarang klo HS malah keren loh, artis aja banyak tuh yg HS. Kalau sy memilih HS+sekolah formal (dg berbagai pertimbangan). Dalam menentukan metode belajar dan sekolah, tiap anak dan keluarga memiliki kebutuhan unik yg berbeda satu sama lain. Sepanjang itu semua berhasil, why not? oya aku suka loh sama metode yang dipakai disini. Seharusnya sekolah alam jg ga perlu mahal2, artinya fasilitas ga perlu semuanya ada di sekolah, kan bisa permisi ke sawah/kebun sekitar. Juga soal belajar MTK/ekonomi ke pasar, sy setuju banget (pernah jadi bahan diskusi sama dosen waktu kuliah akta 4).

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya-ya skrg kayaknya HS keliatan keren...hehehe...klo tentang metode sebaiknya disesuaikan dng kondisi tiap klg...krn tiap klg beda2 sih.....tapi benar deh klo belajar langsung dialam ga pernah kehabisan ide...:D

      Hapus
  6. dulu anak-anak saya juga homeschooling.. setelah mereka besar, pengen nyobain pergi sekolah, pake seragam, belajar di kelas bareng teman-teman (sekolah formal), kami ijinkan.. intinya proses belajar itu harus menyenangkan, bukan menuruti ego nya orangtua yang kepengen anaknya pinter ini, pinter itu, sekolah di sini, sekolah di sana..

    hebat, mak.. salut..! :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah Mak sary saya belum hebat...baru belajar koq...saya malah banyak belajar dari anak2..soalnya dlu kebanyakan sok tau nya.:D

      Hapus
  7. sebenarnya klo dipikir2 justru metode sekolah di rumat lebih mantap krn anak berhadapan langsung dgn satu guru yaitu ortu sementara klo di sekolah 40 siswa dgn satu guru, namun kadang2 formal itu perlu, krn selain ilmu, di indonesia ini perlu ijazah, hehehhehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. setiap pilihan ada resiko kan mak...:)...

      Hapus
  8. keren mak, saya dulu tertarik untuk HS, sudah browsing sana sini, tetapi pada akhirnya saya memilih sekolah formal, dan sekarang tiap kali melihat ada orang tua yang seperti emak ini, saya suka merasa iri, saya dulu tidak tahan dengan omongan banyak orang, yah memang tiap tiap pilihan pasti ada resikonya. Salut untuk emak2 yang sukses melaksanakan HS :)

    BalasHapus
  9. sewaktu membaca tentang HS ini dari Ayah edy, saya sempat tertarik, namun bagaimana ya mengajar anak saya, sedangkan saya masih bekerja... galau :(

    BalasHapus