Mendidik berorientasi manusia

 


Salah satu yang saya syukuri dalam hidup adalah bisa melanjutkan kuliah lagi khususnya tentang ilmu pendidikan. Rejeki bener bisa menuntut ilmu lagi. Meskipun harus ngos-ngosan bagi waktu dengan bekerja dan membesarkan anak-anak. Tapi masya Allah selalu ada tenaga buat menyelesaikan semuanya satu persatu. Feeling grateful huhuhu.


Satu hal penting yang saya pelajari dalam dunia pengasuhan adalah “ pendidikan/pengasuhan itu harus berorientasi manusianya bukan fisik bangunan, atau asesoriesnya seperti lomba-lomba dan pialanya”. Kalau ada teman bertanya kepada saya tentang urusan memilih sekolah, selalu saya sarankan “Lihat bagaimana pihak sekolah ‘melihat’ anak kita”. Sekolah yang berorientasi pada manusia pasti dia akan berusaha betul bagaimana men-treat anak-anak didiknya dengan kasih sayang dan ketulusan. Dan jarang-jarang ada sekolah kayak gini. Even sekolah-sekolah internasional ataupun boarding-school islam yang mahal-mahal itu. Belum tentu mereka bisa men-treat anak didik dengan kasih sayang dan ketulusan. ini sampai saya ulang dua kali. karena Memang urusan mentarbiyah manusia itu sunnatullahnya dengan kasih sayang dan ikhlas. Aturan islam seperti itu.

Makanya perhatikan betul apa yang disampaikan pihak sekolah ketika kita minta keterangan tentang sekolah. Jika kalimat-kalimat yang muncul lebih banyak tentang fisik sekolah, semacam gedung ini gedung itu, lapangan ini lapangan itu, buat saya itu red flag. Seriously!. Jika sekolah berorientasi manusia harusnya yang mereka sampaikan adalah program-program dan kurikulum-kurikulum yang mendukung tercapainya anak-anak didik menjadi manusia yang baik. Tidak ada hubungannya dengan gedung sekolah bahkan lapangan parkir. Sejujurnya saya agak kecewa dengan salah satu pondok islam di Jogja ketika membagikan kalender akhir tahun yang dipajang di kalender adalah gambar lapangan parkir. Allahurobbuna. Ga ada hubungannya lapangan parkir dengan pendidikan anak ke depannya. Adanya lapangan parkir itu justru berorientasi dunia. Seolah-olah kendaraan pribadi itu lebih priveledge dibandingkan angkutan public, yang justru semakin bagus angkutan publik di suatu negara maka semakin maju negara tersebut. Orang-orang yang terbiasa menggunakan angkutan publik sebenarnya adalah orang-orang yang merdeka.

Saya akan lebih senang jika pihak sekolah me-mention semisal: program-program sekolah, koleksi buku-buku perputakaan, menyebut kualifikasi guru dan juga kurikulum-kurikulum yang berorientasi anak didik.

Tapi mungkin focus setiap orangtua berbeda antara satu keluarga dengan keluarga lain. Tetapi yang pasti, seharusnya sebagai orangtua kita harus mulai belajar. Bahwa urusan mendidik anak itu pure urusan dedikasi dan integritas. Bukan masalah melulu fisik.

Tidak ada komentar

Terima kasih untuk kunjungannya. Semoga bermanfaat. Harap meninggalkan komentar yang positif ya. Kata-kata yang baik menjadi ladang sedekah untuk kita semua.