Kenaikan Cukai Rokok, Apakah Efektif?






Dua minggu lalu saat jalan-jalan pagi di Sunday Morning UGM tak sengaja kami melewati stand yang ramai pengunjung. Apalagi MC nya heboh banget. Saya tertarik karena mendengarkan sedikit  kalimat yang disebut oleh pembawa acara, yakni: protes kepada pemerintah terhadap harga jual rokok. Akhirnya saya dan pak suami mampir dan membaca brosur yang dibagikan. Ternyata saat itu sedang ada kempen penolakan terhadap peraturan cukai rokok yang dianggap meringankan para perokok untuk membeli rokok. Dengan kebijakan cukai rokok yang rendah ditengarai harga rokok jadi murah dan anak-anak dengan mudah ikut membeli rokok. Duuuh. Ga rela.


Jujur saya sebal banget dengan para perokok ini. Terutama perokok orang Indonesia. Yang kalau merokok ga lihat-lihat tempat. Di Jogja saja banyak tempat wisata keluarga yang masih membolehkan para perokok untuk merokok di ruang terbuka. Padahal banyak anak-anak di situ. Saya sampai sempat mensyen ke sebuah pusat wisata keluarga di Jogja. Protes kenapa mereka tidak mengeluarkan peraturan Dilarang Merokok’ di sana. Dan ditanggapi oleh mereka dengan segera. Dari situ saya sedikit bahagia nih. Berarti sebenarnya kalau kita sebagai masyarakat ikut peduli maka pihak yang memiliki wewenang akan mempertimbangkan suatu keputusan yang dampaknya untuk public. Wah.
Begitu juga dengan ramainya kontra terhadap kebijakan Cukai Rokok terbaru ini.
Abdillah Ahsan mengatakan, kebijakan kenaikan cukai rokok yang diikuti kenaikan harga rokok ini bagi konsumen merupakan sebuah angin segar bagi kita semua. Secara tahun 2019 cukai rokok tidak mengalami kenaikan. Itu artinya konsumsi rokok meningkat. Untuk mengerem kenaikan konsumsi ini pemerintah menaikkan cukai dan harga rokok.
“Komitmen politik seperti itu dibuat untuk kesehatan masyarakat. Kesehatan masyarakat lebih penting daripada pendapatan negara atau atau keuntungan industri rokok.” (ujar Abdillah)

Menurut Menteri Keuangan Sri Mulyani beliau menekankan tentang  tiga aspek dalam kebijakan cukai, yaitu pengendalian konsumsi (kesehatan), penerimaan negara, dan pengaturan industri.





Peta Kebijakan Cukai Rokok

Sebagai informasi bahwa kenaikan cukai dan harga rokok 23-35% secara rata-rata itu tidak diterapkan kepada semua jenis rokok. Menurut Abdillah, cukai rokok dibagi menjadi 3 jenis. Pertama cukai untuk industri kretek mesin, kedua untuk rokok putih mesin dan ketiga untuk rokok kretek tangan.
Industri rokok kretek mesin dibagi lagi menjadi dua, pertama golongan produksi 3 Miliar ke atas dan golongan kedua industri yang produksi dibawah 3 Miliar.
Kretek tangan itu sendiri dibagi menjadi 5 atau 6 jenis. Sehingga secara keseluruhan terdapat sepuluh jenis golongan cukai rokok. Kebijakan naiknya cukai rokok ini belum tahu yang paling tinggi tarifnya kepada golongan mana dan diberlakukan untuk siapa.
Dan Abdillah melanjutkan bahwa “Apa yang pangsa pasarnya tidak laku hasilnya akan minimal. Alias tidak ada efek. Yang dikawal saat ini adalah kenaikan tarif diberikan kepada rokok yang laku di pasaran. Yaitu kretek mesin yang mana pangsa pasarnya mencapai 73%. Sementara rokok putih tidak lebih dari 5%. Adapun kretek tangan dari tahun ke tahun selalu menurun dari 20-15%. Karena itu golongan ini cukai dan harganya pun termasuk paling murah.”

Anomalinya, justru rokok yang mahal hasil kretek mesin golongan satu dengan produksi di atas 3M itu yang sangat laku, dengan kisaran 63%. Nah sigaret kretek mesin golongan satu ini yang diharapkan naik cukainya.


Cukai dan Pajak

Kita tahu bahwa Cukai diberlakukan untuk mengendalikan konsumsi. “Sesuatu yang ada unsur bahayanya, seperti rokok, minuman beralkohol dsb dikenakan cukai untuk membuat harga lebih mahal. Diharapkan orang jadi mikir lagi kalau mau beli.” Paparan oleh Vid Adrison, Peneliti Ekonomi UI yang hadir di Ruang Publik KBR 68H.

Harapannya sih dengan cukai yang tinggi membuat harga rokok tinggi, sehingga orang berpikir dua kali untuk membeli rokok. Karena sebagai informasi nih keuntungan cukai rokok “Cukai rokok dipakai salah satunya untuk biaya kesehatan di daerah.” Whuaaa, sama aja dengan bohongkan ya kalau begini. Keuntungan untuk membiayai kesehatan para perokok. Pengen bilang kasar jadinya.

Sementara bedanya dengan pajak, ialah kita membayar sesuatu yang hasilnya tidak dinikmati langsung. Tetapi suatu saat dengan bentuk lain entah itu sarana dan prasarana, fasilitas dari negara dsb. Pajak tidak mengikat ketentuan apa yang kita bayar dengan apa yang kita terima.

Dengan adanya penjelasan itu, diharap masyarakat memahami kenapa Presiden sepakat menaikkan tarif cukai hasil tembakau (CHT) atau cukai rokok 23% dan harga jual rokok eceran naik 35% sebagaimana disampaikan Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, Jumat (13/9/2019).

Bagaimana Nasib Petani Tembakau?


Beberapa pihak mengatakan pemerintah tidak berpihak kepada petani tembakau dengan adanya kenaikan cukai ini, Menteri Keuangan Sri Mulyani justru menyebutkan nasib petani yang jadi salah satu pertimbangan pemerintah untuk menaikkan cukai rokok.
Sebagaimana dikatakan Abdillah, cukai naik bukan berarti menelantarkan petani tembakau. Karena selama ini industri rokok golongan satu justru menggunakan tembakau hasil impor. Jadi jika benar ingin menyejahterakan para petani tembakau, coba bantu dulu supaya impor tembakau dibatasi, upah pekerja dinaikkan, dan atau harga tembakau dari petani lokal ditinggikan.

Karena sebenarnya masalahnya bukan hanya pada nasib petani. Tetapi juga buruh rokok yang dipertaruhkan di sini. Tapi menurut saya sih. Meskipun harga rokok mahal petani dan buruh rokok tetap tidak bisa sejahtera sih hidupnya. La wong harganya dimainkan oleh tengkulak.

Alasan utama kenaikan Cukai rokok adalah alasan kesehatan yang saat ini menduduki peringkat besar masalah kesehatan di Indonesia. Sebagaimana informasi nih jumlah perokok dari kalangan anak muda dan perempuan mengalami peningkatan menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) angkanya terus naik. Terlebih rokok ternyata banyak dikonsumsi oleh masyarakat miskin. Dengan naiknya harga rokok, diharapkan jumlah perokok akan menurun.

Cukai Rokok Naik apakah bisa dinikmati oleh masyarakat yang terdampak rokok?
Nah ini nih yang penting yang perlu dibahas. Masalahnya kenaikan cukai rokok ternyata tidak berpengaruh signifikan terhadap kesejahteraan masyarakat miskin. Masyarakat jangan sampai berpikir BPJS naik 100% masa rokok hanya 23-35%, padahal banyak perokok pasif yang sangat membutuhkan pengobatan. Jujur, saya sebal banget sama ini. Maunya tuh mereka ga boleh berobat. Lah salah sendiri merokok.
Nah saya setuju nih dengan saran Pak Adbillah di akhir sesi acara kalau ingin betul-betul mengurangi komsumsi rokok yang harus dilakukan pemerintah adalah
1.     Mengurangi aksesnya; yaitu dengan menetapkan peraturan layaknya minuman keras yang tidak dapat ditemukan di sembarangan convenience store atau toko-toko bahkan warung-warung kecil di pinggir jalan
2.     Iklan rokok dilarang
3.     Kurangi import tembakau dan tetapkan bea masuk tinggi untuk importnya sehingga otomatis harga rokok pun naik sehingga mengurangi pengkonsumsi rokok
4.     Selesaikan permasalahan para petani tembakau, tetapkan harga beli yang cukup mahal pada harga tembakau.
5.     Senjatai para petugas cukai dengan senjata yang memadai untuk mengawasi industri rokok
Dan kalau saya sih ngasih pendapat. Kalau mau mengurangi dampak rokok di Indonesia yang kita bisa meniru negara tetangga seperti Singapore dan Malaysia. Di sana jarang kita temukan perokok di ruang public. Mereka akan dikenakan denda yang sangat besar jika merokok di ruang public. Tak hanya itu harga rokok di sana pun muahal banget. Gila-gilaan harga rokok di luar negeri. Sedangkan Indonesia bagaikan surge bagi para perokok.

13 komentar

  1. Rokok emang selalu problematis dan dilematis buangeett ya Mba
    Semoga semoga semogaaaaa ada solusi terbaik untuk keberadaan industri di republik ini.
    --bukanbocahbiasa(dot)com--

    BalasHapus
  2. hihi jadi serba salah ya..mau naikin diprotes..harga murah..gak cocok juga.. Setiap kebijakan emang gak bisa memuaskan semua pihak sih ya...

    BalasHapus
  3. Semoga dengan ini jumlah perokok mengalami penurunan ya karena merokok pastinya berdampak bagi kesehatan. Aku kena asap rokok aja udah pusing kepala haha.

    BalasHapus
  4. Ini jadi semacam lingkaran yang gak putus. Kalau ada campaign stop rokok atau naikkan cukai, selalu ada lanjutan pertanyaan tentang nasib para petani tembakau. Ketika ada yang membela petani tembakau, kemudian ada yang membahas tentang masalah kesehatan yang timbul karena rokok. Dari zaman rikiplik begitu terus hehehe.

    Saya masih suka mikir, memang tembakau hanya untuk rokok? Maksudnya bisa gak ya petani tembakau tetap sejahtera, tetapi bukan karena rokok? Udah googling belum dapat juga jawabannya. Tetapi, harapan saya tentu aja akan ada kebijakan yang terbaik bagi semua pihak. Agar permasalahannya gak muter-muter melulu, tetapi belum ada solusi yang nyata

    BalasHapus
  5. Sedih banget deh kalau soal rokok ini. Alasan untuk petani dan buruh rokok sebenarnya ga nyata. Karena mereka ya begitu2 aja dapetnya

    BalasHapus
  6. Nah ini,sepengetahuan saya pun industri rokok golongan satu menggunakan tembakau hasil impor.
    Orang luar sampai bilang, enak banget di Indonesia, bebas merokok :( kan sedih jadinya.

    BalasHapus
  7. murah salah mahal juga salah. duh negara berflower ini sebenernya gimana sih. pengen banget indonesia jadi negara sehat bebas asap rokok

    BalasHapus
  8. Kalo aku sih setuju aja cukai rokok Naik karena suamiku gak merokok, jadi Aman. Yang gemes itu melihat anak-anak SMP udah merokok.

    BalasHapus
  9. Bicara masalah rokok, yang ada bikin serba salah sih. Bingung ._.

    BalasHapus
  10. Emang bikin gemess masalah rokok dari dulu. Ya Ampuuunn saking gemesnya suka kepengen doain yang masih ngerokok ditempat umun supaya dapat hidayah 😶

    BalasHapus
  11. Ya Allah.. tembakau aja import ya. Duh, Indonesia yaa.. tapi dengan menaikkan harga rokok rasanya blm pas. Karena bagaimanapun perokok mania akan mampu membeli selama masih bs di keteng. Nah larangan mengeteng ini nih yg harusnya dipertegas selain harga rokok dinaikkan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah ini, alasan bisnis rokok jalan kan demi kesejahteraan petani lokal eh malah tembakau nya import

      Hapus
  12. Masalah rokok ini memang seperti menegakkan benang kusut!
    Tidak cukup diselesaikan dengan doktrin-doktin dangkal.
    Semua pihak harus duduk bersama, meski tidak dalam tempo yang singkat, untuk memberikan solusi yang berkeadilan bagi semua pihak.

    BalasHapus

Terima kasih untuk kunjungannya. Semoga bermanfaat. Harap meninggalkan komentar yang positif ya. Kata-kata yang baik menjadi ladang sedekah untuk kita semua.