Menjelajah Kota Gedhe Demi Kipo

Menjelajah Kota Gedhe Untuk Bertemu Kipo




“Mengambil gambar setiap makanan yang kita temui saat berkunjung ke suatu tempat secara tidak langsung turut serta melestarikan kuliner suatu daerah”



 
Gerbang Masjid Perak Kota Gedhe


Ada yang ingin berkunjung ke Jogja dalam waktu dekat? saya sarankan mampirlah ke Kota Gedhe. Banyak hal yang bisa kita lakukan di Kota Gedhe. Kita bias mengunjungi Masjid Gedhe Kota Gedhe yang menjadi masjid tertua di Yogyakarta. Kita bisa blusukan di kampong Kota Gedhe yang berupa benteng-benteng kecil. Atau berburu perhiasan perak sebagai souvenir untuk orang tercinta dan sahabat.




Nah jika mampir ke Kota Gedhe jangan lupa mencicipi panganan khas Kota Gedhe yang bernama KIPO. Panganan ini memang khas Jogja yang hanya ada di Kota Gedhe saja.

Kipo sendiri menjadi panganan langka. Jarang ditemukan di luar Kota Gedhe. Karena yang membuat kipo memang hanya penduduk Kota Gedhe saja.

kipo

Kue kipo terbuat dari tepung ketan yang diberi pewarna dari daun pandan dan santan dan diisi dengan enten-enten yakni parutan kelapa yang dimasak menggunakan gula merah dan pewangi daun pandan. Kemudian kipo di bakar diatas panci yang terbuat dari tanah liat. Setelah matang sempurna dengan dibolak-balik kipo diletakkan diatas daun pisang. Sempurna banget wanginya. Bentuknya yang tidak lebih dai jempol orang dewasa membuat kita ketagihan. Dijamin!.

Nama Kipo sendiri muncul dari kebiasaan setiap orang yang bertanya apa nama dari kudapan manis nan lezat ini " Iki Opo?" kemudian disingkat Kipo.

Pembuat kipo terkenal di Kota Gedhe adalah ibu Djito yang mewarisi resep ini turun temurun dari keluargannya. Kios Kipo Bu Djito berada di jalan Mondorakan no 27 Kota Gedhe Yogyakarta. Kios Bu Djito dari pasar Legi Kota Gedhe ke barat sekitar 100 meter.
pict from JogjaNyam


Kudapan kipo ini sebenarnya sederhana dan murah. Dan saya yakin ada banyak lagi panganan khas nusantara yang sederhana tapi enak dan murah meriah. Itulah kenapa saya selalu membiasakan diri mengambil foto setiap kuliner yang saya temui jika saya berkunjung ke berbagai daerah di Indonesia. 

Tradisi mengambil foto makanan yang kita temui sebenarnya adalah salah satu mata rantai untuk pelestarian makanan-makanan khas nusantara. Tidak usah menyebut seseorang alay setiap dia mengambil gambar untuk setiap makanan yang di cicipinya. Saya sendiri mencoba untuk berpikir positif bahwa itu adalah turut serta dalam menjaga pelestarian budaya terutama kuliner Indonesia dan dunia.

Yang sering kita permasalahkan adalah kesulitan membawa perangkat digital yang memadai untuk mengambil foto. Nah smartphone hari ini sebenarnya cukup memadai lho untuk membuat rekam jejak digital kita.




13 komentar

  1. Itu hanya dibakar bisa mateng ya, Mbak, dalemnya? Kupikir ini tadi klepon, ternyata KIPO. Uniknya cara masaknya dibakar pula.

    BalasHapus
  2. Wah aku sering nyobain, baru tau namanya Kipo. Tapi gak dibakar sih kuenya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Klo ga dibakar mirip klepon

      Hapus
  3. Kota Gede emang gudangnya kuliner Mak Irul,kayaknya perlu nyempetin seharian gunting kuliner di deket2Pasar Kota Gede nih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Eh ayuuk kita hunting foto di Kotagede

      Hapus
  4. Aku baru tau lho yang namanya kipo ini, penasaran pengin nyobain.

    BalasHapus
  5. Aku 10 tahun di Jogja, sempat sering banget wira-wiri Kotagedhe juga, tapi baru tahu kalau daerah ini punya makanan khas bernama kipo setelah nggak di sana lagi. Gara-garanya baca status temen yang asli sana, hahaha. Insya Allah kalau nanti ada kesempatan ke Jogja lagi bakal mampir ke Jl. Mondorakan untuk nyicipin kipo. Wajib. Biar orang luar Jogja nggak cuma kenal bakpia, yangko, atau peyek belut aja.

    BalasHapus
  6. blom pernah makan itu, gak tau itu rasanya kaya gimana hahah, jadi penasaran

    BalasHapus
  7. Kipo tak kirain kepo. .

    Mau dong coba

    BalasHapus
  8. Ya ampun, saya kira Kipo ini nama orang ternyata nama camilan, hehehe.

    BalasHapus