Pantai Kartini dan Sepenggal cerita ubur-ubur yang malang

mencoba merenung ala RA. Kartini..tapi ga bisa lama (panas oyy)



Liburan di pantai itu memang menyenangkan. Meskipun sering banget berkunjung ke pantai kami tak pernah bosan. Apalagi di Yogyakarta berderet pantai-pantai indah. Mulai dari Parangtritis (yang sekarang ga indah lagi ) sampai deretan pantai-pantai di Gunung Kidul yang berpasir putih serta pemandangan sunsetnya yang amazing itu.
deretan kapal yang siap mengantar pengunjung menyebrang ke Pulau Panjang











Kali ini kami sekeluarga mengunjungi pantai Kartini di Jepara, Jawa Tengah. Pantai ini di beri nama pantai Kartini karena konon dulu sering digunakan oleh RA. Kartini untuk melarikan diri kebisingan (jiaah, kebisingan, apa coba?). Pantai ini bisa ditempuh sekitar dua jam naik mobil dari kota Kudus. Karena kebetulan kami saat itu menginap di Kudus. Tapi jika ingin menginap disekitar pantai sepertinya tersedia penginapan terjangkau. Karena pantai ini banyak dijadikan tempat pemberangkatan jika ingin mengunjungi Karimunjawa.



kapal untuk menyebrang ke pulau



pelampung tersedia di setiap kapal. tapi sepertinya tidak sesuai jumlah penumpang


Penyu, Ikon pantai Kartini










Ikon pantai Kartini itu gedung berbentuk Kura-kura atau penyu...............kayaknyanya Penyu deh..hehehe. Pantainya berbatu-batu. Dan asyiknya kita bisa nyebrang ke pulau Panjang. Hanya sekitar 10 menit dari pantai juga keliatan. Kalau mau ke Karimunjawa naik speedboat sekitar dua jam kalau naik kapal..haduh ga tau deh nyampainya kapan..hahaha…kalau mau ke pulau Panjang cukup bayar 13 rebu per-orang. Kalau mau ke Karimunjawa sekitar 110 ribu per-orang (pakai kapal). Tapi memang kalau ke Karimunjawa ada jam-jam dan hari-hari tertentu tertentu kapalnya berangkat. Karena kami bawa anak-anak segambreng dan tidak persiapan juga mau ke Karimunjawa akhirnya kami ke Pulau Panjang saja..entar ke Karimunjawanya berdua aja sama bapaknya  :D….
Sebenarnya jika mengikuti standart kemanan penyebrangan dengan kapal kita harus menggunakan pelampung. Tapi saya malu mengenakannya. Mosok saya sendiri yang pake, eh, disebelah ada anak-anak naik dan langsung memakai pelampung..jempol deh untukmu Nak...


gerbang selamat datang




sepertinya tulisan ini tidak memberi pengaruh apapun :(






salah satu vegetasi / tanaman yang ada di pulau Panjang (ga tau namanya)









Oia pulau Panjang itu sebenernya indah banget. Pasirnya putih, banyak pohon-pohonya. Sayangnya kurang terawatt. Fasilitasnya kurang memadai. Aku gemes liatnya bayangin kalau dilirik orang asing pasti sudah berdiri bungalow-bungalow keren disitu dan harganya mahal dan orang-orang kayak saya jadi ga bisa masuk lagi…pilihan yang rumit..ciaaa, Ah, sudahlah biar pak Beye yang mikirin…:P
Ada warung-warung kecil disana. Ya, lumayanlah kalau mau cari Pop Mie (maaf sebut merk), segelas es teh atau sebotol Mizone….sayangnya kotak sampahnya sangat-sangat-sangat tidak memadai. Harapannya sih mungkin pengunjung membawa kembali sampahnya. Tetapi pada kenyataannya malah pada buang ke laut…haduh pengen nangis saya…..asli pengen nangis, pulau seindah ini tidak lama lagi hanya menjadi tempat gunungan sampah.




pulau Panjang diliat dari kapal..pantainya pasirnya putih banget





Saya sudah wanti-wanti sama anak-anak bahwa tidak diperkenankan membawa apapun mahkluk hidup dari pantai ini. Karena mereka tidak akan bisa hidup kalau kita pelihara..coba piker emang dese bisa nyediain air laut setiap hari. Tetapi sedihnya lagi, hampir semua pengunjung membawa pulang botol yang isinya ikan-ikan mungil sejentik, ubur-ubur bahkan kerang-kerang dan kepiting laut. Sepertinya kita memang harus mengajarkan dengan benar-benar pada anak-anak kita bahwa sesuatu itu sudah di berikan tempat yang paling sempurna, jika kita memindah habitatnya ke tempat lain tanpa alasan yang ilmiah (semisal untuk penelitian) maka itu sama dengan berlaku dzalim pada makhluk hidup tersebut.  Saya sampai gimana gitu ketika teman seperjalanan kami membawa botol yang isinya ikan hias dan ubur-ubur hasil tangkapan anaknya. Ada rasa bangga terselip karena bisa menangkap ikan. Dan melihat wajah anak saya yang kecut karena saya minta mengembalikan kepitingnya kembali ke laut. "Nak, Emak berharap ketika di masa depan kau bisa mengingat moment ini dan mengambil pelajaran". Amin



Saya jadi merenung, mengajarkan matematika bisa dalam waktu 6 bulan sudah kelihatan hasilnya tetapi nilai-nilai luhur perlu waktu bertahun-tahun. Nilai-nilai luhur seperti membuang sampah pada tempatnya, menghargai makhluk hidup, dan sejenisnya itu butuh kesabaran. Tetapi jika tidak diajarkan seperti apa masa depan mereka kelak?..#selfreminder…




Sebagai oleh-oleh kami memilih membeli kaus bertuliskan Pantai Kartini dan Karimunjawa, okelah belum sampai Karimunjawa nyicil kaosnya dululah...hahahah. Ini lebih baik daripada bawa botol berisi ubur-ubur yang ujung-ujungnya hanya mati. Sebenarnya kita bisa membawa pulang kerupuk ikan dan ikan asin. Tetapi saya langsung menolak, kepikiran nanti di mobil baunya kemana-mana….
Setelah puas keliling dan main air, kami kembali ke pantai. kemudian leyeh-leyeh dulu menikmati indahnya pantai..dan pulang deh.....

2 komentar

  1. betul, Mak. Mengajarkan karakter itu butuh wkt bertahun2 :)

    BalasHapus
  2. Bagus & bersih ya sekarang. SUdah pernah ke pantai Kartini jaman kuliah dulu tp cuma sebentar.

    BalasHapus