Membangun rasa percaya diri anak untuk menghindari FOPO (fear of other people's opinion)

 


Keyakinan saya bahwa setiap anak itu unik benar-benar terbukti secara teoritis maupun empiris ketika melihat anak-anak di rumah. Memiliki enam anak meskipun DNA diwariskan dari emak bapak yang sama mereka tetap punya ‘kekhasan’ yang menjadikan mereka Istimewa. Beberapa anak menjadi anak yang aktif secara motoric maupun verbal. Tetapi beberapa anak ada yang cerdas kognitif dan lemah di motoric. Ada anak yang public speakingnya bagus ada juga yang kalau bisa “gue ga usah ngomong lah ntar soal ujianmu tak kerjain” hahaha. Ada anak yang teman-temannya dari ujung kampung sampai kampung sebelah tetapi ada juga yang temannya sendiri akrab dengan abangnya, itu ada di rumah saya.



Meskipun saya tidak masalah dengan anak-anak yang tidak mau tampil di depan public tetapi saya selalu kuatkan mereka bahwa mereka tetap harus percaya diri. Percaya diri sebagai seorang muslim yang taat, sebagai anak muda yang berilmu dan sebagai orang yang bewawasan luas. Ada anak yang kalau mau melakukan sesuatu mikirnya panjang banget. Dengan alas an nanti orang lain berpikiran jelek kalau dia melakukan kesalahan. Nah ini yang memang harus menjadi warning bagi kita sebagai orang tua. Ini masuk ke FOPO nih, apa sih FOPO. Fear of other people's opinion. Ketakutan dengan pendapat orang lain ini bisa menghambat tumbuh kembang anak. Bahkan jika ini dibiarkan sampai anak teenagers bisa mempengaruhi keputusan penting yang dia ambil di masa depan. Sedikit tips sih dari saya untuk teman-teman yang anaknya memiliki FOPO ini.



1.     Tingkatkan rasa syukur. Ajak anak untuk memperbanyak rasa Syukur atas segala nikmat yang diberikan Allah. Bersikap qonaah terhadap segala pemberian Allah itu meningkatkan rasa syukur anak. Jangan mengadakan yang tidak ada. Dan yang ada ya secukupnya tidak perlu berlebihan. Anak-anak yang terbiasa bersyukur atas segala nikmat yang allah limpahkan biasanya jadi percaya diri dan tidak insecure atas pencapaian orang lain.

2.     Biasakan untuk tidak hidup berlebih-lebihan. Saya sendiri selalu menekankan pada anak-anak dan diri saya sendiri. Anak-anak yang dibiasakan hidup sederhana biasanya mampu beradaptasi dimanapun mereka berada. Tidak terlihat seperti orang papa tetapi juga tidak terlihat bermewah-mewah. Bersama orang-orang tidak punya mereka bersikap sayang tetapi juga tidak terlihat ‘katrok’ atau norak Ketika bertemu kemewahan. Biasa aja Ketika main di sawah berlumpur tetapi saat diajak staycation di hotel mewah mereka bisa membaur dan ga norak.

3.     Memperbanyak diskusi keluarga. Mau tidak mau diskusi keluarga merupakan pemantik utama untuk menyampaikan nilai-nilai baik di rumah. Ada seorang siswa saya yang pernah bilang “ Saya tuh ustadzah, hampir ga pernah bisa mengobrol dengan ibu saya yang ujungnya ga berdebat. Yakin dzah, setiap ngobrol ujungnya berdebat ga jelas”. Hahaha, ini kayaknya semua permasalahan orangtua ya. Saya sendiri selalu berusaha menahan diri biar ga mendebat anak saat dia mengeluarkan pendapat pribadi. Ya Lord, its so much harder. Ini kayaknya para orang tua terutama para ibu harus mengikuti terapi untuk terbiasa menahan diri tidak berkomentar minimal selama lima menit saat anaknya mengeluarkan pendapat pribadinya. Keahlian mendengarkan memang harus diterapkan saat berhadapan dengan anak.

Ini sedikit tips sih ya dari saya tetapi sepertinya butuh jalan panjang untuk mewujudkan ini. Sebagai orangtua kita sendiri terus berbenah di saat bersamaan kita tetap harus mengajari anak-anak yang pertumbuhannya tidak bisa di ‘pause’ masya Allah beratnya tanggung jawab sebagai orangtua. Semoga jalan ini dilimpahi keberkahan dan berbuah pahala yang terus mengalir in sya allah.

23 komentar

  1. Bener nih mak, hal ini juga yang sempet aku pikirkan, gimana ya caranya supaya anak gak perlu terlalu memikirkan omongan orang tentang dirinya? Perbanyak rasa syukur tuh harus ya, dan memang harus diajarkan supaya mereka gak gampang iri dan bisa menerima apapun yang ada. Ah, PR juga ya jadi orangtua yang siap mendengarkan dan menahan komentar yang ada aja di kepala xp

    BalasHapus
  2. Terima kasih mbaaa, ya kayaknya skill mendengarkan aku sama halnya dgn skill membaca ya mba 😄 butuh ditingkatkan lagi. Aku sebagai ortu, yg kalau anak berpendapat, kadang lgsg ngecut nih 😅
    Huaa sadar nggak sadar, suka keceplosan

    BalasHapus
  3. Iya, mbak...teknik mendengarkan dan menyimak itu idealnya harus kita pelajari sebagai orang tua. Anak yang sedang berbicara memberikan opininya ya biarkan saja terus sampai selesai, jangan dipotong. Anak2 yang enggan atau malu tampil di muka umum memang sulit juga ya..itu aku zaman kecil maluuuuu-an banget. Tapi setelah remaja sampai sekarang udah ga malu lagi hihihi.

    BalasHapus
  4. selain fomo ada lagi istilah fopo. haha.. ada2 aja. tapi knp takut ngeluarin opini ya? sebenernya kalo opini kita sesuai fakta dan data, jangan takut dong beropini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya benerr...td pas sekilas (banget) baca kata fopo di judul malah kupikir review gadget wkwkw. Fopo ini berbahaya bgt krn kalau ga bisa kendalikan kita jd ga akan pede mau ngapa2in. Mana kita ga bisa bikin semua orang setyju dg tindakan kita kan..Makasib tipsnya mak hairul

      Hapus
  5. Mak sepertinya pas juga nasihat itu saya terapkan kepada Fahmi putra saya. Meski belum tentu ia fopo, tapi ia pemalu. Saya pikir pas juga kalau semua cara saya terapkan juga. Terimakasih ya Mak

    BalasHapus
  6. Ada FOMO, ada juga FOPO ya, Mak. Aku dulu termasuk yang takut salah, takut dengan pendapat orang lain, makanya waktu sekolah dulu teliti dan hati-hati banget. Imbasnya, jadi takut melangkah, ngga pedean, suka cari aman. Kalau suka cari aman mah sampai sekarang masih ada. Sesimpel makan di luar, takut mencoba menu baru atau makan di restoran yang baru buka. Takut kecewa sama rasa dan harganya.

    Weh, ternyata FOPO ini dampaknya bisa kemana-mana, yaa...

    BalasHapus
  7. Wah, makasih tipsnya. Aku dulu termasuk yang suka cemas dengan pendapat orang lain. Jadinya sering gak pede. Boro-boro tampil di depan publik. Sekarang sih alhamdulillah jauh lebih baik. Kalau punya anak nanti, sebisa mungkin membuat mereka lebih berani dalam banyak hal

    BalasHapus
  8. MashaAllaa yaa..
    Anak yang dekat dengan orangtua ini memiliki ketahanan yang lebih kuat ketika menghadapi FOPO yaa..

    Aku salut karena semuanya sama-sama belajar.
    Nuhun insightnya, karena aku sendiri punya anak pra-remaja yang kudu tau nih, celahnya agar bisa "dekat" walau kita sekarang tinggalnya terpisah karena anak sulungku uda di pesantren.

    BalasHapus
  9. ternyata selain fomo ada juga istilah fopo. baru tahu nih. penting banget membangun rasa percaya diri anak supaya bisa tangguh dan nggak ada lagi fopo yang membayangi. makasi sharingnya mak :*

    BalasHapus
  10. Bener banget Mak, jadi orang tua tuh masya Allah luar biasa amanah yang harus ditanggung. Semoga Allah mampukan untuk menjadi orang tua yang lebih baik dari hari ke hari. Aamiin.

    BalasHapus
  11. Aku banget tu "gw gk usah ngomong lha ntar PRmu takkelarin" wkwkwk :D
    FOPO ki pancen sebuah penyakit yang terbentuk dari masyarakat yang hobi komen apalagi zaman sosmed sekarang hahaha.
    Ada kalanya emang perlu bersikap masa bodo aja dan emang paling bener membangun kepercayaan diri anak sejak dini supaya punya prinsip dan selalu yakin kalau apa yang dilakukannya sudah sesuai asal gak melanggar apapun sih yaaa

    BalasHapus
  12. Iya kebayang sih ini kalau anak mengalami FOPO belum lagi pergaulan anak sekarang ya. Noted nih mak untukku yang punya anak sekolah SD, sebagai orang tua memang kita tuh harus pandai-pandai berkomunikasi dengan anak. Aku setuju dengan tips diatas untuk menghadapi fopo.

    BalasHapus
  13. Others opinion memang bisa menguntungkan tapi gak selalu, kadang kita harus bisa memilih mana opini yang memang bisa membangun kualitas diri mana yang tidak

    BalasHapus
  14. Ya Allah bener banget tipsnya, rasa percaya diri emang harus dipupuk sejak dini ya. Supaya terbiasa hingga dewas. Terlebih 3 tipsnya bermanfaat banget. Ternyata diskusi bareng keluarga juga perlu ya

    BalasHapus
  15. Masya Allah bagus banget tipsnya, Mak. Memang enggak mudah mendidik anak-anak apalagi yang jelang remaja dan remaja. Anakku juga kadang mikirin pendapat orang lain, pengen seperti temennya, dll. Dan jangan lupa ngeyelnya. Haha.
    Makasih tipsnya, Mak :)

    BalasHapus
  16. aku yang anak dua aja udah kelihatan perbedaan anak-anak, hehe...
    kami pernah buat games untuk menempelkan gambar sesuai kelebihan atau kekuatan masing-masing. Dari situ mau menunjukkan ke anak bahwa tiap individu hebat dengan kelebihan yang berbeda-beda jadi enggak perlu fopo.

    BalasHapus
  17. Aku juga jadikan anak-anak tidak FOPO
    Apalagi yang sulung itu lembut banget
    Apa yang disampaikan orang bikin dia kepikiran
    Makanya harus dideketin sejak dini supaya memaknai argumen orang dengan bijak

    BalasHapus
  18. Terima kasih remindernya Mak, saya juga sedang berusaha lebih banyak mendengarkan pendapat anak-anak walaupun rasa ingin ngoceh besar ya haha, mereka sudah remaja, dan punya pendapat sendiri..sebisa mungkin tidak mendebat mereka..

    BalasHapus
  19. aku yang udah gede kadang masih FOPO juga, harus pinter2 menjaga hati sendiri :')

    BalasHapus
  20. Wah iya juga ya maaaak, fopo bisa dihindari kalo kita bisa membangun rasa percaya diri yaaaaa.. Makasi tipsnya yaaa maaaaak

    BalasHapus
  21. Kok relate banget ya mak denganku yang udah pengiiin aja komentar ini itu kalau diajak ngobrol sama anakku hehehee... Emang kudu belajar menahan diri agar anak2 nyaman berkomunikasi dengan kita.

    BalasHapus
  22. selain mengajarkan bagaimana menghargai orang lain, mungkin perlu ditanamkan bahwa hidup itu gak mesti harus jadi nomor satu, gak mesti harus terlihat hebat, bahwa manusia berbagai karakter, ada yang baik, ada yang jahat, sehingga jika ada yang meremehkan mereka mereka tidak frustasi, karena apa yang dikatakan orang lain tentang kita, tak semua benar tak semua harus didengar.. sehingga anak tidak takut mencoba pengalaman baru

    BalasHapus

Terima kasih untuk kunjungannya. Semoga bermanfaat. Harap meninggalkan komentar yang positif ya. Kata-kata yang baik menjadi ladang sedekah untuk kita semua.