Ajari 5 Hal Ini Pada Anak Untuk Siaga Bencana





Alhamdulillah saya belum pernah sih mengalami banjir yang parah. Kalau banjir kecil-kecilan yang memang rutin mengunjungi rumah kami saat di Kalimantan dulu ya pernah sih. Tapi karena memang rumah kami berada di tepi sungai besar. Jadi ga heran memang kadang datang banjir. Rumah saya yang di Jogja ini juga ga jauh-jauh banget dari sungai Kali Progo. Dan tahun 2017 lalu Jogja pernah diterjang banjir termasuk Kali Progo ini. Untungnya banjirnya cuman sampai halaman rumah kami aja.




 Alhamdulillah. Tetapi saat itu saya aware banget dengan yang namanya siaga bencana.
Nah, meskipun ga kena banjir tapi kami pernah mengalami gempa hebat tahun 2006 dulu. Jogja sampai lumpuh, dan korban dimana-mana. Rumah kami sendiri luluh lantai. Yang selamat hanya dapurnya yang kebetulan saat itu saya berada di dapur. Ga kebayang kalau saya berada di pendopo rumah. Karena pendopo utama rumah kami luluh lantak diterjang gempa. Subhanallah. Traumanya sampai sekarang ga hilang-hilang. Dengar suara gemuruh aja saya bisa keringat dingin. Makanya ga heran sejak kecil anak-anak selalu saya ingatkan tentang Siaga Bencana. Apalagi kami tinggal di Jogja yang termasuk daerah rawan bencana alam. Kami berada di tepi laut selatan, berdampingan dengan Merapi dan sebalah kampong kami Kali Progo.


Berikut beberapa hal penting yang saya ajarkan pada anak-anak saat bencana terjadi
     1.     Anak-anak harus hafal nama orang tua dan alamat rumah
  2. Anak-anak diusahakan hafal nomor telpon orangtua. Bahkan di rumah saya menempelkan nomor telepon penting di kulkas. Mulai dari nomor telepon ayah, umi, ninik, simbah, om dan budhenya.
   3.  Saat terjadi bencana menjauhlah sejauh mungkin dari lokasi bencana. Pokoknya ga usah mikir ayah dimana, umi dimana. Kami orangtua pasti bisa berusaha (kalau ada kesempatan) untuk menyelamatkan diri. Tidak usah memikirkan keselamatan kami.
  4. Jangan panik. Usahakan berdzikir dan memperbanyak menyebut nama Allah agar bisa mengurangi kepanikan. Memang sih ini kayaknya klise. Tetapi inilah yang seharusnya selalu ditanamkan pada diri anak-anak. Bahwa kita sebagai manusia ini lemah tanpa pertolongan Allah. Bahkan gempa yang hanya hitungan detik saja bisa menghancurkan kota, meruntuhkan bangunan tinggi dan merobohkan jembatan kokoh sekalipun.
  5.  Cari bantuan segera mungkin. Bisa ke polisi, tenaga medis, orang yang dikenal, dll. Saya biasanya memberi tahu anak-anak dengan mengatakan pada mereka “ Cari orang yang pake seragam”.
Hal-hal seperti ini penting sekali diajarkan pada anak. Agar saat terjadi bencana dan mereka tidak bersama kita kita tahu bahwa anak-anak melakukan hal-hal yang benar. Kita tahu bahwa anak sudah mendapat pengantar penting dalam siaga bencana.

19 komentar

  1. Saya juga dulu diajarkan soal siaga bencana, mbaaa :D

    Jadi waktu kecil di sekolah pun diajarkan kalau gempa bagaimana, kalau banjir bagaimana, dan lainnya. Terus ortu juga selalu standby 1 tas ransel kecil isi semua keperluan siaga bencana, yang isinya snack, baju cadangan, ini itu, data dan lainnya terus saya ingat, ayah saya selalu bilang, kalau nanti ada apa-apa, lari dan bawa tas ini ya~

    Jadi tasnya diletakan nggak jauh dari pintu ke luar rumah dan tas itu selalu di pojokan sana sampai saya lulus SMA hehehe. Cuma 2x saya ambil waktu gempa 1x sama waktu rumah saya kebanjiran 1x. Padahal gempanya juga nggak terlalu besar, dan banjirnya pun hanya semata kaki saja. Tapi karena omongan ortu terngiang-ngiang terus jadi langsung sigap dilakukan dan lari ke luar :D

    Setelah saya hidup sendiri, saya tetap punya ransel khusus untuk siaga bencana. Apalagi tahun lalu Bali banyak diguncang gempa. Nah isi tas ransel saya yang sekarang lebih komplit dari jaman kecil saya hehe, ada charger, dompet dengan kartu cadangan, senter, baju cadangan, sampai pembalut dan snack-snack juga ada. Cuma kalau snack itu setiap berapa bulan sekali saya ganti sama yang baru takut kadaluarsa haha.

    Semoga anak-anak mba selalu ingat pesan mba as ortu yaaa :D
    Jadi bisa menyelamatkan diri di manapun mereka berada kelak.

    BalasHapus
  2. Kalau sudah terjadi bencana, entah banjir atau gempa yg bisa menghancurkan segalanya dalam hitungan detik, kebayang takut dan bingungnya seperti apa. Siaga bencana memang perlu diajarkan kepada anak agar tetap bisa waspada dan bisa menyelamatkan diri terhadap segala kemungkinan.
    Semoga kita semua selalu dalam lindunganNya.

    BalasHapus
  3. Noted Mba, saya jadi ingat buku-buku cerita yang saya baca, ada cerita anak yang terpisah dari orang tuanya karena bencana gunung meletus.
    Memang penting bagi anak diajarin beberapa hal salah satunya mengenal nama orang tuanya ya.

    Meskipun zaman now sudah lebih mudah, karena bisa mencari melalui medsos

    BalasHapus
  4. Waah bener juga ya hal2 kaya gini perlu diantisipasi, untuk anak2 terutama supaya ngga blank ketika naudzubillah terjadi sesuatu.

    BalasHapus
  5. Tips yang harus jadi perhatian semua orangtua ini.
    Nama anak, nama orangtua, dan nomor kontak yg bisa dihubungi harus diketahui anak, ini utk antisipasi rasa panik jika anak terpisah dr orangtua, bahkan jika tidak dalam suasana bencana sekalipun.
    Semoga alam Indonesia baik2 aja y mba.

    BalasHapus
  6. Saya suka semakin khawatir setelah anak-anak remaja begini. Kan mereka gak selalu terus-terusan sama saya. Malah lebih banyak di luar. Sekelibat suka parno kalau ada bencana dan mereka sedang tidak di dekat orang tuanya. Memang penting banget deh mengajarkan mereka tentang sigap terhadap bencana

    BalasHapus
  7. Ponakanku waktu mulai sekolah, udah kubilangin nama ortu, keluarga, kalau bisa alamat rumah kudu tahu. No hp belum sih, walaupun mungkin sekarang sudah bisa hafal. Terus kubilang juga jangan panik, cari perlindungan dulu

    BalasHapus
  8. Bener banget mba, kita harus siapsiaga menghadapi bencana kapan saja. Untuk anak-anak yang udah usia 5 tahun ke atas memang perlu banget diajarin dan disuruh ngapalin nama orangtua, alamat dan mungkin juga no telepon penting. Tentu, dilakukan secara bertahap yaa... ah aku sedih loh kemarin ada berita banjir di Jakarta itu. Dampaknya cukup parah ya.. semoga ke depan lebih baik lagi dan gak banjir lagi.

    BalasHapus
  9. Bagus banget mba tipsnya ini untuk anak-anak, aku jadi inget waktu anakku pernah hilang sejenak di mall pas lagi main sama sepupunya dibawah pengawasan adeku. Kebetulan saya lagi kerja waktu itu, lah pas adik saya nyamperin loh kok cm 2 bocah, anakku mana. Duh, itu rasanya darah berhenti terpompa ke seluruh tubuh, pucat pasi mba. Antara marah, sedih, takut, khawatir. Untungnya anakku itu kembali ke titik awal dia main di playground. Abis itu langsung aku wanti-wanti untuk ingat info bahwa kalo kepisah dari orang tua cari satpam/polisi dan minta bantuan.

    BalasHapus
  10. Kalau pesan alm mama, kalau Ada bencana maka keluarlah dari rumah, yang penting rumah di kunci lalu pergilah ke masjid.

    Di masjid tempat berlindung yang Aman.

    BalasHapus
  11. iya ya penting juga buat anak hafal nama lengkap org tua, org tuanya org tua dan juga alammatt lengkappp,,, klo perlu hafal ketua RT nya jugaa gituu atau tokoh tersohor di wilayah rumah

    BalasHapus
  12. Ini banget nih yang kudu diajarin ke anak-anak, ya. Duh, aku masih banyak PR untuk ini. Anak-anakku belom pada bisa ngapalin nomor teleponku atau bapaknya. Alamat rumah kayaknya pada tahu. Nama orangtua juga tahu. Tapinya, mereka masih panikan. Kudu mulai belajar mereka

    BalasHapus
  13. Lah kok sama waktu Merapi dulu aku juga di dapur. Waktu itu aku juga masih di selatan, di kotagede. Lah sekarang malah di utara, lebih dekat lagi. Piye to?

    BalasHapus
  14. Mengajari hak seperti ini memang perlu menurut aku mbak biar anak-anak lebih leluasa

    BalasHapus
  15. Saat bencana anything can happen ya mba.. bener banget hal mendasar seperti ini diajarkan ke anak - anak supaya tidak panik ya mba

    BalasHapus
  16. Betul banget nih mak apa yang kauajarkan pada anak-anak. Dari kecil mereka udah bisa diajari untuk menyebutkan nama orang tuanya. Pernah kejadian soalnya nih anak lanangku pas kecil main agak jauh, tersesat, terus ditanya nama orangtuanya siapa dia bungkam nggak mau jawab.

    BalasHapus
  17. Pokoknya setiap tahun delalah Indonesia itu ada yang daerah kena banjir ya Mba. Penting banget ini diterapkan dan diedukasi kepada masyarakat agar lebih siap dan siaga kalo banjir terjadi. Semoga Indonesia ke depannya bisa menanggulangi banjir yang setiap tahun datang ini

    BalasHapus
  18. Setuju, Mbak, anak-anak perlu diajari hal-hal penting terkait kehidupan dan hal-hal apa saja yang mungkin terjadi. Dulu Audiku begitu udah mulai masuk playgroup, dia udah kuajarin nama lengkapnya, nama orangtua, alamat rumah, termasuk nomor telepon aku atau rumah. Untuk hal lain semacam berlindung ketika ada gempa, dan apa yang harus dilakukan saat bencana, juga diajarkan tapi masih yang sederhana dulu. Jaga-jaga saja supaya dia juga tanggap ketika bencana terjadi

    BalasHapus
  19. Sebagai seorang guru saya selalu berpikir bahwa sekolah perlu memasukkan program "sadar bencana" untuk siswa-siswinya. Negara kita adalah negara raean bencana, mulai dari tsunami, banjir, gunung meletus, gempa dll. Rasanya perlu menanamkan kesiao siagaan ika bencana datang. Setelah baca artikel ini daya jadi berpikir rasanya semua orang tua perlu juga melakukannya seperti mbak ini. Biar kalau ada bencana kita tidak sibuk saling menyalahkan sana sini tapi berfokus pada penyelamatan diri dan orang-orang sekita. Nice article mbak 👍

    BalasHapus

Terima kasih untuk kunjungannya. Semoga bermanfaat. Harap meninggalkan komentar yang positif ya. Kata-kata yang baik menjadi ladang sedekah untuk kita semua.