Mengajarkan Keberanian Pada Anak Lelaki



Saya lupa film bertema perjuanagna yang pernah saya tonton. Maksud saya saya lupa judulnya tetapi mungkin ingat jalan ceritanya. Misalnya film si Jendral Naga Bonar, Si Pitung, Serangan Umum 1 Maret, atau perang 10 November di Surabaya.



Nah yang paling saya sukai dan sering saya ceritakan pada anak-anak adalah kisah heroiknya Bung Tomo saat membakar semangat para pejuang pada perang 10 November yang pecah di Surabaya. Buat saya itu sangat luar biasa. Terutama pada kalimat takbir yang beliau kumandangkan. Kenapa beliau memilih kalimat takbir? Bukan kata misalnya: “ Semangat kakak” atau “ Ayo bakar!” dan sejenisnya. Saya hanya menjelaskan sedikit pada anak-anak menurut inprestasi saya bahwa kalimat Allahuakbar itu punya semangat juang luarbiasa di dalamnya. Ada semangat, ada keberanian, ada rasa keperwiraan, ada rasa jantan, ada rasa percaya diri, ada rasa ketundukan dan kepasrahan pada Allah. Itulah mengapa rekaman audio suara bung Tomo saat berpidato tanggal 10 November itu kami simpan di laptop. Dan kami dengarkan berulang-ulang pada anak-anak.

Kami ingin membangun semangat perjuangan dan ketidakrelaan dijajah oleh bangsa manapun. Karena sebagai seorang muslim sendiri islam itu artinya merdeka dari menyembah sesuatu selain Allah. Jadi penjajahan itu sendiri sebuah penghinaan luar biasa bagi pribadi seorang muslim dan penghinaan bagi umat islam pada umumnya. Dari semangat takbirnya Bung Tomo ini saya membangun jiwa perwira anak-anak saya di rumah. Kebetulan, Alhamdulillah saya dikaruniai lima anak laki-laki yang luar biasa yang saya harap mereka kelak menjadi pemimpinnya kaum muslimin seprti doa yang selalu saya panjatkan setiap selesai salat  “ Robbana hablana min ajwajina wadzurriyatina qurrota a’yun waj’alna lil muttaqina imama” . Jadi mendoakan anak-anak tidak sampai hanya berharap menjadi orang shalih saja tetapi mendoakan mereka agar menjadi pemimpinnya orang-orang yang muttaqin. Orang yang bertaqwa. Masya allah.

Makanya kami di rumah punya banyak film-film bertema perjuangan terutama perjuangan para pejuang muslim. Kami punya kisahnya Umar bin Khattab, kami punya film tentang Shalahuddin al ayyubi, kami punya film Umar Muhtar, kami punya filmnya kisah Ashabul Kahfi. Banyak sekali film-film bertema perjuangan yang sudah ditonton anak-anak di rumah. Agar anak-anak lelaki saya tahu bahwa seorang lelaki itu dilahirkan sebagai pejuang bukan yang lain. Ada satu perkataan yang saya simpen dari buya Hamka
"Anak lelaki tak boleh dihiraukan panjang, hidupnya ialah buat berjuang, kalau perahunya telah dikayuhnya ke tengah, dia tak boleh surut palang, meskipun bagaimana besar gelombang. Biarkan kemudi patah, biarkan layar robek, itu lebih mulia daripada membalik haluan pulang"
( Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck oleh Buya Hamka)

Masya Allah, itu kalimat yang luar biasa dari seorang ulama Indonesia. Dan anak-anak saya harus tahu itu. 

1 komentar