Rabu, Januari 28, 2015

Resolusi Hijau 2015



Resolusi Hijau 2015 
di mulai dari Rumah Tangga 
dan Komunitas


Sebenarnya bisa di bilang sejak keluarga kami menjalani Homeschooling kami berusaha untuk hidup ramah lingkungan. Komitment untuk go green memang tidak di canangkan secara eksplisit tetapi dalam kehidupan sehari-hari kami berusaha untuk menerapkan hidup ramah lingkungan dengan bentuk yang sederhana. Nah, tahun 2015 ini ada banyak komitment untuk menjalani hidup yang lebih ‘hijau’. 

Berikut adalah #ResolusiHijau2015 yang saya dan keluarga upayakan untuk di jalani di tahun 2015 ini.

1.      Menerapkan pertanian FAITH
Secara sederhana FAITH adalah upaya untuk memenuhi sumber makanan dari rumah tangga sendiri. Alias menanam tanaman yang bisa memenuhi kebutuhan pangan keluarga. Dan mulai akhir tahun 2014 kemarin saya terkena 'racun' FAITH ini dari seorang teman blogger dan keranjingan sampai sekarang. Bahkan saya bertekad untuk menjalani pertanian FAITH ini secara lebih serius lagi. Prinsip sederhananya menanam itu bukan masalah tempat tapi masalah niat. Jadi lahan terbatas itu bukan halangan untuk berkebun. Dan tentu saja pertanian FAITH (Food Always In The Home) ini sesuai dengan prinsip ‘hijau’ keluarga kami. Apalagi anak-anak menjadi bersemangat untuk turut membantu. Mereka membuat jadwal berkebun sendiri dalam kegiatan harian mereka. 
 
sebagian koleksi benih milik saya


beberapa pot hasil FAITH kami ^^








2.   Katakan tidak untuk popok sekali pakai
Prinsip untuk hidup tanpa pospak ini mulai saya jalani awal tahun ini. Kebetulan saya baru saja melahirkan bayi awal Januari 2015 ini. Saya sadar betapa besar sekali dampak buruk pospak bagi bumi. Sampah pospak sulit untuk di urai sampai ratusan tahun kedepan. Padahal ada jutaan bayi setiap tahunnya yang memakai pospak. 
Menurut detik.com Hasil temuan Nielsen Consumer Panel Service dari bulan Oktober 2011-September 2012 yang mencakup 5.600 panel rumah tangga di daerah urban di Indonesia menemukan penggunaan popok sekali pakai mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 26,2 persen.
 Dan sebagai  pengganti pospak saya beralih ke clodi alias cloth diaper alias popok kain. Bahkan saya mulai mencicil membeli clodi ketika usia kehamilan empat bulan,  dan popok kain lebih sehat dan aman buat kulit bayi kami. 
 
sebagian koleksi popok kain milik bayi saya

3.      Meninggalkan pembalut sekali pakai
Sejak memutuskan beralih ke clodi saya juga meninggalkan pembalut sekali pakai. Saya beralih ke pembalut kain yang hari ini mulai banyak di temukan di pasar. Apalagi pembalut sekali pakai sangat tidak nyaman karena sering menimbulkan iritasi. Dan dampak pembalut sekali pakai juga sama bahayanya dengan popok sekali pakai. Sejak beralih ke pembalut kain saya merasa lebih nyaman dan merasa lega karena bisa mengurangi sampah untuk bumi.


4.      Mengurangi pemakaian plastik.
Menghindari plastik memang sulit tetapi bukan berarti tidak bisa. Paling sederhana adalah membawa kantong belanja sendiri bila pergi belanja. Membawa bekal makanan danminuman sendiri jika bepergian. Dan memakai kembali plastik kresek yang didapat untuk keperluan yang lain. Bahkan bisa di bilang saya termasuk kolektor tas belanja aneka rupa. Anak-anak yang mendapat tugas belanja ke pasarpun sangat concern dengan prinsip nope for plastik ini. Sehingga mereka menolak jika mendapat plastik yang berlebihan dari penjual.


membawa kantong belanja sendiri jika belanja dan  membawa bekal makan dan minum sendiri ketika bepergian   





5.      Being Local.
Alias menjalani hidup sebagaimana penduduk lokal. Dalam hal ini adalah kebiasaan memakan makanan yang tumbuh dan hidup di lingkungan kita berasal. Menjalani hidup sehat dengan memakan makanan lokal. Hari ini betapa banyak makanan lokal yang sudah di olah dengan baik. Dan tentu saja kebiasaan memakan makanan yang berasal dari tempat kita tinggal bisa memutus jalur distribusi yang biasanya menggunakan lebih banyak kemasan.
salah satu makanan lokal favorit keluarga kami



6.      Menghidupkan kembali komunitas untuk Kampanye Hidup 'Hijau"
Kebetulan saya mendirikan sebuah komunitas untuk para ibu di kampung saya yang saya beri nama Emak School. Kami rutin mengadakan pertemuan sebulan sekali untuk berbagi ilmu tentang pengasuhan anak, keluarga dan menghidupkan lingkungan yang lebih ramah. Saya pernah mengadakan pelatihan pembuatan kompos rumah tangga untuk para ibu di Emak School.
 Juga pembuatan penyaring air sederhana. Pembagian poster Hemat Air karena besar sekali dampak penggunaan air secara benar ini bagi kehidupan. Semakin banyak orang pindah ke kawasan urban, membuat kota-kota di seluruh dunia mengalami tekanan yang tinggi untuk menambah pasokan air tawar demi mendukung pertumbuhan mereka. Malah, penelitian pertama untuk sumber air dan tekanan untuk kawasan urban yang telah dipublikasikan oleh Global Environmental Change (2/6) menunjukkan bahwa kota-kota besar dunia ‘menggerakkan’ 504 miliar liter air – cukup untuk mengisi 200.000 kolam renang ukuran olimpiade – menempuh jarak 27.000 kilometer setiap harinya. Walaupun hanya menempati 1% dari permukaan Bumi, kota-kota besar dunia mengambil air dari daerah aliran sungai (DAS) yang mencakup 41% dari total luas permukaan tersebut. Kualitas air tawar mereka pun tergantung pada penggunaan DAS yang ada (sumber: www.nature.or.id).
Juga membagikan stiker  “larangan merokok di dalam rumah bagi keluarga yang memiliki bayi, balita, ibu hamil dan lansia”. 
bersama Komunitas Emak School
Pembagian Poster dan Stiker Hemat Air ke para ibu anggota Emak School


Kampanye Hemat Air bersama teman-teman Komunitas Omah Parenting
 
alat peraga untuk Penyaring Air Sederhana
Karena saya percaya membangun komunitas yang peduli lingkungan akan sangat besar dampaknya bagi kehidupan. Karena kita tidak bisa menjaga bumi ini sendirian. Kita harus menjalin tangan untuk bersama-sama berkomitment untuk hidup yang lebih ‘hijau’ bagi kelangsungan bumi yang lebih nyaman.


Harapannya Resolusi Hijau 2015 yang saya canangkan ini bisa berjalan dengan lancar. Dan bisa menjadi kebiasaan bagi keluarga dan lingkungan tempat tinggal kami.
Bahkan saya berharap komunitas kami bisa ikut serta dalam program konservasi lingkungan yang diadakan oleh TheNature Conservancy Program Indonesia dan bisa menjadi mitra ke depannya.



Tulisan ini di ikut sertakan dalam lomba blog "Resolusi Hijau 2015" Blog Challenge

7 komentar:

  1. wah,keren bangettt...itu penyaring airnya dari apa mbak??

    BalasHapus
    Balasan
    1. penyaringnya pakai botol bekas, pasir, kerikil dan kapas mb hana

      Hapus
  2. Saya terkesima dengan FAITH, rencana sudah dari lama, realisasi belum juga. Makasih mba Irul, menginspirasi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. ayo uni yosi kita ber FAITH ria :)

      Hapus
  3. Pakai popok kain untuk sehari2, menggunakan popok sekali pakai saat anak udah berusia 6 bulan lebih dan saat bepergian saja.

    Tapi kalo untuk menggunakan pembalut, masih nyaman dgn yg sekali pakai dan buang. Dengan syarat ganti setiap 3 jam sekali.

    Penyaring air alhamdulillah sudah diterapkan juga di rumah. :)

    Semangat Mak Irul untuk membangun komunitasnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. pembalut kain itu nyaman banget

      Hapus
  4. setujuuu mak...semua mulai dari kita, dari keluarga...dari hal-hal sederhana yang bawa dampak luar biasa...sukses go greennya maaak...

    BalasHapus