Yuk Berhenti Menggunakan Pembalut Sekali Pakai

TPA Piyungan Yogyakarta
(Pict by radar jogja) 





Kami tinggal di desa Segoroyoso, Pleret Bantul Yogyakarta. Dan di dekat tempat kami ada sebuah Tempat Pembuangan Akhir. Dikenal dengan nama TP Piyungan. Menurut Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan DIY, bapak Sutarto, setiap harinya TPA Piyungan tersebut menerima sampah mencapai 520 ton perhari. Sebuah angka yang ga main-main untuk kota yang tidak terlalu besar seperti Yogyakarta. Bahkan di hari libur seperti libur tahun baru atau hari besar agama, sampah yang diantar ke TPA Piyungan bisa mencapai 610 ton. Bayangkan sebesar apa gundukan sampah TPA Piyungan ini. Dan saya tahu betul bagaimana tidak nyamannya jika berpapasan dengan truk pengangkut sampah di jalan yang setiap hari kami lalui.



Dan saya sering bertanya dengan petugas pengangkut sampah yang kebetulan tetangga desa. “ Sampah apa sih yang paling tidak bisa dimanfaatkan kembali?”. Dan jawaban beliau bikin kaget juga. Jawabannya adalah “ pembalut sekali pakai”. Dan di Tempat Pembuangan Akhir limbah bekas pembalut sekali pakai memang akan berakhir pada penimbunan. Karena tidak bisa diolah sama sekali.

Seiring berjalannya waktu pembalut tersebut akan mengeluarkan gas metana yang berakibat pencemaran lingkungan. Pembalut sekali pakai dilangsir oleh mongabay.co.id, berdasarkan penelitian dari University of Exeter, metana adalah salah satu unsur gas rumah kaca yang menyebabkan kenaikan temperatur di permukaan bumi, dan menyebabkan dampak pemanasan lebih jauh karena kekuatan metana 25 kali lipat dalam menyebabkan pemanasan global dibandingkan karbondioksida (National Geographic Indonesia). 
Hitungan kasarnya jika setiap perempuan produktif Indonesia menngunakan minimal 4 lembar pembalut sehari selama 6 hari. Maka ada 24 sampah pembalut dalma sebulan. Dikalikan jumlah perempuan indonesia yakni 131,88 juta (tahun 2018). Berarti ada sekitar 26 ton sampah pembalut setiap harinya. (Liputan6.com).

Belum lagi jika sampah pembalut tersebut dibuang bukan tempat pembuangan sampah. Masih banyak yang membuang sampah ke sungai, selokan atau tanah kosong. Bahkan data dari United Nations Environtment Program, produksi pembalut sekali pakai menyumbang emisi gas karbon sekitar 15 juta ton pertahunnya. Ini setara dengan 35 juta barel minyak yang digunakan untuk kebutuhan masyarakat. Wow.

Saya Berhenti Menggunakan Pembalut Sekali Pakai



Saya sendiri mulai mengambil keputusan ekstrim untuk berhenti menggunakan pembalut sekali pakai sejak Februari tahun 2019. Hampir 1,5 tahun ini saya konsisten tidak menggunakan pembalut sekali pakai. Benar-benar berhenti menggunakan pembalut. Bisa dibilang berhenti menggunakan pembalut sekali pakai ini salah satu keputusan terbesar yang saya ambil.

Beralih ke Menstrual Cup

Pict nya hellosehat

Sudah setahun lebih saya menggunakan menstrual cup setiap periode haid datang. Benar-benar tidak menggunakan pembalut sama sekali. Menstrual cup sendiri adalah cawan berbentuk corong kecil yang terbuat dari bahan karet atau silicon. Berfungsi sebagai penampung darah haid. Berbeda dengan pembalut, menstrual cup ini dimasukkan ke dalam vagina. Jadi alat ini menampung darah haid di dalam vagina.

Yang menjadi problem adalah penggunaan menstrual cup memang tidak terbiasa dilakukan oleh kebanyakan perempuan. Karena penggunaannya yang harus dimasukkan ke dalam vagina sehingga tidak semua perempuan berani melakukan hal tersebut.
Keuntungan Menggunakan Menstrual Cup
     1.     Hemat
Kita tidak perlu lagi membeli pembalut. Uang untuk pembelian pembalut bisa dialokasikan untuk kebutuhan lain. Misal dalam sebulan kita menggunakan 1 pak pembalut seharga minimal 20.000. Maka kita bisa menghemat 20.000 x 12 yakni senilai 240 ribu. Itu belum termasuk pantyliner dan biaya sabun dan air untuk mencuci bekasnya. Padahal jika kita belikan menstrual cup cukup sekali pembelian di awal saja untuk bertahun-tahun penggunaan.
      2.     Lebih bersih dan tidak ‘becek’
Kelebihan menggunakan menstrual cup adalah bersihnya area underwear yang menyebabkan rasa ‘becek’ karena kumpulan darah. Bahkan kumpulan darah di pembalut juga menimbulkan bau tidak sedap. Sedangkan dengan menstrual cup underwear kita akan kering. Mengeluarkan isinya juga tinggal tuang ke kloset dan siram. Tidak ada bau karena darah yang mengumpul di pakaian dalam.
   3.     Tidak ada sampah yang dihasilkan
Benar-benar tidak ada sampah dengan menggunakan menstrual cup. Bahkan kita cukup membuang isinya dan menyiram menstrual cup dengan air dan menggunakannya kembali. Tidak perlu dikucek sebagaimana kita mencuci pakaian dalam yang terkena darah haid.
     4.     Lebih hemat air
Menggunakan menstrual cup menyetop penggunaan air berlebihan saat mencuci bekas darah haid. Bahkan kemasan menstrual cup kebanyakan adalah kain yang bisa gunakan sebagai wadah jika menstrual cup sedang tidak digunakan.
   5.  Nyaman digunakan untuk beraktivitas. 

    Karena ia ada di ‘dalam’ sehingga tidak ada seperti sesuatu yang mengganjal di pakaian dalam. Selain itu penampungan darahnya bisa mencapai 5-9 jam.

   6. Lebih Aman Untuk Tubuh
   Mau tidak mau penggunaan pembalut sekali pakai memberi dampak bagi kesehatan perempuan. Paling minimal adalah ruam pada kulit. Dampak paling ekstrim adalah kanker karena pembalut sekali pakai memang menggunakan bahan kimia dalam proses pembuatan dan juga bahan pengisi. Dan menstrual cup terhitung aman dari bahan kimia. 

Bagaimana memulai menggunakan menstrual Cup
Saran saya adalah bangun rasa bersalah terhadap bumi dalam pikiran kita jika kita menggunakan pembalut sekali pakai. Lalu setelah memutuskan untuk menggunakan menstrual cup memang saat pemakaian awal kita agak merasa risih karena tidak terbiasa. Tipsnya adalah “ Rilex”. Nyamankan diri kita saat akan menggunakannya. Untuk tutorial penggunaannya bisa dilihat di yutub. Pilih cara yang paling nyaman buat kita. Memang sih butuh pembiasaan. Saya sendiri mulai terbiasa menggunakan menstrual cup di bulan ke-3 penggunaan. Sekarang, saya benar-benar ga pernah lagi beli pembalut sekali pakai bahkan pantyliner sekalipun. Karena untuk pantyliner saya menggunakan kain biasa. Benar-benar lebih plong rasanya. Kalau dulu, rasanya berat sekali melihat tumpukan bekas pembalut saya sendiri. Padahal sudah saya cuci bersih. Bisa nih mampir di tulisan saya tentang pengalaman pertama menggunakan menscup 
Jadi semoga tulisan ini bisa memberi pandangan baru kepada teman-teman yang masih ragu meninggalkan pembalut sekali pakai. Yuk gunakan yang lebih ramah lingkungan untuk kualitas udara yang lebih baik.
Saya sudah berbagi pengalaman soal climate change. Anda juga bisa berbagi dengan mengikuti lomba blog “ Climate Change” yang diselenggarakan KBR (Kantor Berita Radio) dan Ibu-ibu Doyan Nulis“. Syaratnya bisa anda lihat di https://bit.ly/LombaBlogPerubahanIklimKBRIxIIDN

20 komentar

  1. Selalu bahagia membaca hal-hal seperti ini, dari yang awalnya saya baca merinding, lalu baca kedua dari lainnya, masih merinding, sampai akhirnya lama-lama jadi pengen ikutan pakai menstrual cup aja.

    Masih pengen aja sih, ngumpulin keberanian dulu.
    Terlebih setelah baca-baca, katanya memang lebih hemat dan nyaman :)

    BalasHapus
  2. Sudah beberapa lama aku baca-baca tentang menstrual cup ini mak, belum juga bisa mantap memutuskan untuk menggunakannya. Padahal kan lumayan banget ya mengurangi timbunan sampah yang tak bisa diolah.

    BalasHapus
  3. Omg takut! Seriusan belum brani, itu gimana rasanya mbak? Trs ga bocor apa ya?

    BalasHapus
  4. saya belum berani pakai menstrual cup mbak :( padahal beberapa teman saya sudah mengajak saya untuk beralih

    BalasHapus
  5. Aku belum pernah coba pakai menstrual cup.
    Apakah sampah popok sekali pakai lebih bisa didaur ulang dibandingkan pembalut?

    BalasHapus
  6. Penasaran pengen coba menstrual cup ini, tapi cara masangnya itu koq bikin ngilu ya masi takut euy kawatir gagal pasang hahah

    BalasHapus
  7. Wow..salut aku dg kemantaban mba. Aku sudah sering baca, tapi tak.juga berani mencoba menggunakannya..

    BalasHapus
  8. Aku pengin banget pakai menstrualcup biar nggak pakai pembalut kain lagi tp apalah daya aku belum belum berani nih. Do'akan ya semoga aku bisa mengikuti jejakmu aamiin.

    BalasHapus
  9. hiks aku masih pake pembalut biasa nih, mbak. belum bener2 mantab untuk mencoba menstrual cup, masih kudu banyak riset produk dulu nih.

    BalasHapus
  10. Kak,
    Aku mau rekomendasi merk yang sehat dan nyaman dipakai doonk...
    Terus ukurannya gimana menentukannya?
    Aku pengen banget beralih ke menstrual cup.

    BalasHapus
  11. Aku pakai penbalut kain, emang ribet sih pas nyucinya, kayaknya nggak bersih-bersih dan boros air, pengen coba mestrual cup tapi blom berani, dih liat alatnya aja jadi ngilu, beneran mesti menguatkan tekad ya

    BalasHapus
  12. Saya belum berani menggunakan menstrual cup Mbak. Takut gak nyaman, selain itu belum tau cara pakainya, hehe..
    Beli menstrual cup di mana sih mbak? Saya hampir tidak pernah melihat toko yang jualan. Bentuknya saja saya lihat hanya dari foto-foto google

    BalasHapus
  13. Wah baru tau ada menstrual cup gini. Jadi pengen coba. Biasanya tau pembalut kain biasa. Ternyata ini beda

    BalasHapus
  14. Saya sudah tidak butuh apapun yang sehubungan dengan haid, ha-ha-ha...sudah menopause kali.
    Tapi ini saya rekomendasikan ke anakku dan adik-adikku, semoga mereka berminat dan berani tentunya. Oh yah, pertanyaan sama dengan mbak Lendy, menstrual cup itu beli di mana, ukurannya bagaimana dst.

    BalasHapus
  15. Mbak, aku masih ngeri kalau ngomongin ini. Barang segede itu, dari silicon, masuk ke vagina. Nyamn kah? Tapi, kok ya pengen banget ngurangin pemakaian pembalut sekali pakai.

    BalasHapus
  16. Sakjane pingin kek bunda irul, meminimalkan penggunaan pembalut karena emang nyampaahhh bgttt. Cuma harus berusaha banget untuk bersahabat dg corong ituuu. Bener, kudu menanamkan cinta lingkungan.

    BalasHapus
  17. Saya mau nyobain menstrual cup ini mbak.. gara gara liatin YouTubers pake ini, eh suami juga nyaranin sih.. suruh nyoba heheh

    BalasHapus
  18. Aku pernah kepikiran pakai menstrual cup tapi ngeri banget takut masuk kedalam huhu apalagi aku lumayan aktif

    BalasHapus
  19. Aku udah sering baca bahkan sampe nonton video tentang menscup ini mba tapi masih belum berani takutnya dah keubun2 duluan hehe padahal banyak untungnya yah

    BalasHapus
  20. Hiks sebegitu banyaknya limbah pembalut sekali pakai
    Aku berusaha pakai kain sekarang bahkan disaranin pake menstrual cup tapi aku masih nunggu keadaan membaik

    BalasHapus

Terima kasih untuk kunjungannya. Semoga bermanfaat. Harap meninggalkan komentar yang positif ya. Kata-kata yang baik menjadi ladang sedekah untuk kita semua.