Pengalaman Tinggal Di Perbatasan Indonesia-Malaysia



Ketika kecil saya pernah tinggal di perbatasan Indonesia –Malaysia. Kebetulan waktu itu bapak bekerja di sebuah perusahaan asing yang bergerak di bidang ekspor kayu. Beberapa kali bapak pindah kerja sampai akhirnya di tempatkan di daerah namanya Purukcahu yang dekat banget dengan perbatasan Kalimantan Timur dengan Malaysia.
Waktu itu saya melihat sendiri banyak warga Negara Indonesia yang memilih membeli kebutuhan mereka di Malaysia ketimbang di Indonesia. Apalagi bagi warga sekitar perbatasan kalau mau menyebrang ke Malaysia tidak butuh paspor hanya semacam kartu tanda pengenal saja kayak KTP gitu.


Bahasa masyarakat setempat juga bercampur antara bahasa Dayak, bahasa Banjar dan bahasa Melayu. Bahkan ada beberapa warga yang menikah dengan warga Malaysia. Tak hanya itu karena perusahaan tempat bapak bekerja adalah perusahaan asing saya juga melihat banyak pekerja asing di lingkungan sekitar kami. Dan saya juga jadi ngerti istilah kawin kontrak soalnya beberapa tetangga kami di mess para karyawan menikah dengan warga Negara asing. Dan baru ngeh artinya kwain kontrak setelah saya duduk di bangku SMA. Polos banget waktu itu.

Tetapi jika ditanya apakah saya senang tinggal di perbatasan? Jawabannya tidak. Jujur saya trauma. Bahkan sampai hari ini saya agak gimana gitu melihat warga Negara asing. Karena saya pernah melihat sendiri pembantu RT tetangga saya mengalami pelecehan seksual oleh warga Negara asing. Huhuhuhuhu. Seumur-umur ga pernah saya cerita tentang ini kepada orang tua. Takutnya bukan main. Bahkan saat beranjak besar kalau bertemu orang asing secara langsung saya bias keringat dingin. Alhamdulillah trauma itu berkurang seiring dengan bertambahnya usia. Meskipun sampai sekarang saya masih agak-agak ngeri dengan orang asing.
Yang saya tidak sukanya adalah sikap orang-orang kita yang begitu menghormati warga Negara asing seolah-olah mereka berkedudukan tinggi. Bahkan tetangga saya perempuan banyak yang senang kalau dekat dengan orang asing.
Untungnya ketika SMU saya melanjutkan sekolah ke Jogja saya bertemu dengan banyak suku bangsa bahkan warga Negara asing dan saya belajar bahwa banyak juga orang asing yang sopan dan menghormati orang lain.

Saya kemudian memegang prinsip “ Apapun suku bangsamu kamu adalah manusia terhormat selagi kamu menjaga sikap dan menghormati orang lain”. Itulah mungkin kenapa saya bersikap biasa aja kalau liat bule. Ga tertarik atau seneng kalau ketemu mereka. Karena saya tahu banget bahwa wajah yang rupawan itu ga menjamin seseorang juga berhati rupawan. Eaaaaa. Mending orang Indonesia asli. Biar kulitnya coklat tapi hatinya manis. Hatsyiiiim. Hahahahaha.

2 komentar

  1. Memang semuanya tergantung pribadi masing-masing ya Mak Irul.
    Btw aku baru tau header blog sudah ganti, lucuuuuu :D

    BalasHapus
  2. Bunda juga suka sama yang hita manis dan berbadaan kekar, uhuk...uhuk...jadi batuk-batuk deh. Btw mau donk belajar di Sekolah Perempuan tuuh...Belajar apa aja, ya. Ini kedua kali deh bunda nama tentang Emak School kalau gak salah inget.

    BalasHapus