Selasa, Agustus 01, 2017

Desa Gerabah Nglipoh, Sisi Lain Borobudur



Borobudur Punya Sisi Lain





Saya membuat gerabah karena ini turun temurun dari zaman kakek-nenek saya dulu. Sudah sejak Borobudur berdiri dusun kami juga ada

Saya sering berkunjung ke beberapa desa wisata di sekitaran Jogja-Jawa Tengah. Maklum rumah saya itu di desa. Kiri-kanannya ada banyak desa wisata. Rumah saya daerah Pleret ke selatan dikit sudah ketemu Imogiri dan berjejer tuh desa wisata di sana. Dari sekian desa wisata yang pernah saya kunjungi mungkin desa wisata Nglipoh menjadi salah satu desa wisata yang berkesan buat saya.




Klipoh dalam sejarah

Kenapa Nglipoh berkesan buat saya? Sebelum saya cerita tentang kesan saya saya cerita dulu ya tentang Nglipoh ini. Desa Dusun Klipoh, yang kerap diucapkan Nglipoh, berada di barat daya Candi Borobudur, tepatnya di Klipoh merupakan nama dusun yang terletak di desa Karanganyar, kecamatan Borobudur, kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Hampir sebagian besar warga dusun kecil ini bekerja sebagai pembuat gerabah dari tanah liat. Menurut warga, 80 persen warga Klipoh yang berjumlah sekitar 180 kepala keluarga bekerja sebagai pembuat gerabah.






Dusun Nglipoh terkenal sebagai dusun pembuat gerabah. Ada banyak bukti orisinal tentang keberadaan desa Nglipoh yang sangat kuat sudah ada sejak abad ke-9 bersamaan dengan kehidupan disekitar candi Borobudur. Bahkan bukti yang paling otentik adalah produk pelita minyak kelapa misalnya persis seperti yang terdapat di salah satu panel candi. Bentuknya persis seperti yang di relief Borobudur.

Gerabah dan Perempuan Perkasa

Yang sangat berkesan buat saya adalah kebanyakan pengrajin gerabah yang ada di dusun Nglipoh adalah perempuan. Bahkan sebagian besar diantara mereka berusia lanjut. Dan mereka membuat gerabah konvensional semacam anglo, pelita minyak kelapa, dan kuali. Hanya sedikit saja yang mulai berinovasi membuat gerabah dengan bentuk-bentuk yang kekinian. Dusun Nglipoh berbeda dengan desa wisata Kasongan Yogyakarta yang lebih up to date dalam mendesain gerabah mereka. Tak heran penghasilan para pengrajin gerabah di dusun Nglipoh masih terbilang kecil. Bahkan saya sempat bertanya berapa penghasilan mereka dari gerabah, rata-rata menjawab 5 ribu sampai 10 ribu perhari.


A post shared by siti hairul /catatansiemak.com (@siti_hairul) on




Saya sendiri selain berbincang dengan para pengarajin menyempatkan diri mencoba membuat sebuah kuali kecil dari gerabah. Jangan tanya hasilnya, seorang mahasiswa di samping saya nyeletuk "ehm, mbak mending moto aja deh daripada bikin gerabah", maksud lo -___-

Meskipun penghasilannya kecil para penduduk Nglipoh ramah sekali terhadap pengunjung. Dan mereka bangga sekali bercerita tentang dusunnya. Bangga bahwa dusun mereka ikut serta ‘membesarkan’ candi Borobudur. Ya, gerabah dusun Nglipoh menjadi pekakas sehari-hari masyarakat sekitar candi Borobudur sejak abad ke-9. Tak heran banyak relief di candi Borobudur yang menggambarkan beberapa bentuk gerabah.

Saat berkunjung ke Nglipoh saya berangkat bersama teman-teman National Geography Indonesia. Jadi ceritanya kami hunting foto ke sana dan salah satu rencana awalnya adalah berburu sunrise. Tapi kami telat, sampai di sana matahari sudah terang benderang -___- . mamak ini kecewa hahahaha. Dan sorenya saya nyempetin berburu sunset.  Meskipun dekat dengan candi Borobudur mayoritas masyarakat Nglipoh beragama Islam. Selepas Maghrib  anak-anak yang salat di mushola tidak langsung pulang, mereka memilih berbaris rapi menunggu antrian membaca Qur'an pada seorang pak kaum. Toleransi yang sangat kental yang dibangun oleh masyarakat sejak zaman dahulu. 

Malamnya saya menikmati candi Borobudur dari beranda rumah tempat saya singgah. Duuuh, syahdu. Jadi kalau ke Borobudur sebaiknya nyempetin ke Nglipoh. Ada banyak pilihan transportasi yang bisa diambil. Yang paling populer sih naik andong sambil menikmati pemandangan desa dan melewati pematang sawah. Karena dulu kami harus berjalan agak lumayan dari tempat pemberhentian bis agar bisa sampai di dusun ini. Karena jalannya tidak bisa dilewati oleh bis.




Saya berharap pemerintah mau ikut aktif menawarkan potensi dusun Nglipoh sebagai salah satu objek wisata yang harus dikunjungi saat datang ke Borobudur. Dan berharap suatu saat menemukan karya para pengrajin Nglipoh di salah satu gerai khusus gerabah yang diminati para wisatawan asing. Semoga. 

noted: semua foto adalah dokumentasi pribadi www.catatansiemak.com






5 komentar:

  1. Mutiara yg jarang terlihat

    BalasHapus
  2. nice sharing mbak

    BalasHapus
  3. Waaah... keren nih. Dulu waktu SMP pernah prakarya bikin gerabah. Musimnya film Ghost waktu itu. Hasilnya? Jangan ditanya... muter2 ratusan kali jadinya gak berbentuk sama sekali haha.

    Sayang kemarin ke Borobudur gak sempat mampir kemana2. Lain kali pasti kunjungan ke Klipoh jadi agenda wajib

    BalasHapus
  4. Aku sampe harus nyekrol ke bawah pas baca paragraf pertama. Krn gak tau gerabah itu apa. Hehe...
    seandainya desa ini dijadikan salah satu destinasi wajib bagi wisatawan yg berkunjung ke borobudur, pasti akan menambah pemasukan utk desa itu ya mba.

    BalasHapus
  5. wah baru tahu di sekitaran borobudur ada desan pembuat gerabah

    BalasHapus