Sabtu, Agustus 06, 2016

review Film " Me Before You"

Me Before You, Belajar Membuat Hidup Kita Berarti
 
pict from here




Beberapa waktu lalu saya sempet marathon nonton beberapa film yang menurut saya bagus. Uhuk. Rencananya sih pengen ngereview The Martiannya Matt Damon bintang favoritnya mbak Uniek Kaswarganti blogger asal Semarang itu. Tapi setelah liat-liat film Matt Damon yang lain kenapa jadi kok kayaknya ga cocok deh sekarang ngereview film the Martian. Hahaha. Lah film itu favorit anak-anak. Maklum film dengan latar belakang luar angkasa selalu menarik untuk ditonton berkali-kali di rumah.

Nah akhirnya saya pilih ngereview film Me Before You aja deh. Film ini diangkat dari sebuah novel dengan judul sama “ Me Before You” karya Jojo Moyes. Film ini baru beredar di tahun 2016 ini jadi masih anget-anget lah. Tadinya saya termasuk jarang nonton drama romantik maklum ya kalau film keluaran Hollywood kalau genre drama rata-rata diatas 18+. Maklum kita masih 17 kakaaaa ^__^. Hahahaha. Tetapi film ini kalau liat bukunya ga ada adegan hotnya jadi okelah kita tonton saja. Sebenarnya lebih penasaran ke arah keputusan untuk memilih opsi mengakhiri hidupnya di Dignitas sih yang akhirnya membuat saya memutuskan untuk menonton filmnya.

            Gara-gara film ini saya semalaman gugling tentang Dignitas. Dignitas sendiri adalah sebuah organisasi yang membantu orang-orang dengan penyakit akut untuk mengakhiri hidupnya. Ada sekitar 800 ribu orang dari seluruh dunia yang mengakhiri hidup mereka di klinik Dignitas di Zurich setiap tahunnya. Wow. Angkanya fantastik ya. Jadi semacam ‘Bunuh Diri Terhormat’ gitu. Eh emang ada bunuh diri jadi terhormat?. Phewww.

Kembali ke film Me Before You. Film ini berkisah tentang Louisa Clark diperankan oleh Emilia Clark seorang gadis muda yang butuh pekerjaan karena lilitan finansial keluarganya. Lou seorang gadis yang periang dengan gaya berpakaian yang eksentrik. Lou mendapat pekerjaan untuk merawat seorang pria yang lumpuh karena kecelakaan motor. Will, pemuda tersebut tadinya seorang pemuda aktif dan populer. Paska kecelakaan yang membuatnya tidak bisa bergerak kecuali menggerakkan jempol jarinya untuk menggerak kursi roda otomatis. Untungnya keluarga William Traynor diperankan oleh Sam Claflin adalah keluarga kaya di Inggris. Jadi gitu deh pas di awal-awal si Lounya ceria banget si Will nanggapinya dengan songong gitu. Nyebelin banget pokoknya tingkahnya si will ini. Apalagi Sam Claflin kan terkenal banget dengan senyumnya yang aneh gitu antara semacam mengejek dan tulus. Hish apa itu. hahaha. Entahlah kenapa saya selalu suka dengan orang-orang yang mempunyai kesamaan dengan saya, berlesung pipi. Hatsyiiim. Hahahaha

Film ini hidup karena dialog-dialog antara Lou dan Will yang sarkasme. Lou yang ceria bertemu Will yang pesimis. Yang satu bersemangat menjalani hidup yang satu ‘yah sudahlah’ gitu deh. Diliat-liat film ini jadi mirip-mirip jalan ceritanya dengan The Fault In Our Stars-nya John Green. Jadi setelah insiden tidak sengaja dimana Lou mendengar keputusan Will untuk mengakhiri hidupnya di dignitas enam bulan lagi. Lou bertekad untuk mencoba membuat Will membatalkan niatnya.

Dirancanglah sebuah perjalanan yang mengajak Will menikmati hidup. Mengunjungi tempat-tempat indah. Dan melakukan banyak hal yang masih memungkinkan untuk orang yang terkena adriplegia karena cedera tulang belakang yang parah.

Film bikin saya tertawa di beberapa scene dan terharu di scene yang lain. Mewek sendirian hahaha. Sambil mikir duh hidup itu kok jadi rumit begini sih. Beda dengan hidup saya yang lempeng-lempeng aja, Alhamdulillah. Kalau novel aslinya tebel banget yang versi terjemahan oleh Gramedia aja tebalnya 600 halaman lebih. Ngik. Itu novel apa bantal sih?. Tapi filmnya bagus kok. Mengalir.

Terus gimana dong, berhasil ga Lou membuat Will membatalkan niatnya. Kalau yang sudah baca novelnya pasti ngerti endingnya. Tapi saran saya nonton filmnya deh. Ini mengajak kita untuk benar-benar menghargai kehidupan. Kehidupan itu cuman sekali berbuatlah sekeren mungkin.


15 komentar:

  1. Ah si emak ini, membuat penasaran saia...

    BalasHapus
  2. tebal novelnya 600 hal? ngik... gimana bacanya ya? hihihi...
    ceritanya sepertinya cerita kebanyakan ya, maksudnya nothing special, eh... bener gak sih? hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. kemarin aku penasaran sama Dignitasnya sih akhirnya baca hahahaha

      Hapus
  3. Mak bisa dapet filmya dimn? Wkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. download mah, etapi saranku sih jangan download di internet deh gada sensornya :P mending nyari VCDnya aja

      Hapus
  4. Mak bisa dapet filmya dimn? Wkwk

    BalasHapus
  5. ini sih film suamiku banget Mak irul, tapi kalau buat Mbak Uniek tetep lah Mas Matt yg paling ganteng

    BalasHapus
    Balasan
    1. eh suka sama Sam Claflin maksudnya? :)

      Hapus
  6. Penasaran sama bukunya. Kata teman2 bagus...

    BalasHapus
  7. Hihih aku jgua penasaran mbak hehe

    BalasHapus
  8. Anonim18/5/17

    entah bagaimana saya melihat cerita ini sebagai film yang menceritakan penghianatan.
    sisi romantis ya bisa di bilang orang yang jatuh cinta pasti punysa sisi romantis.
    jika saja yang punya penyakit ce juga apa si lou akan jatuh cinta?
    dan menyemangatinya dengan rasa cinta?
    dan kenapa tidak menyemangatinya sebagai teman?
    apakah karna si yang berpenyakit ini kaya? (layaknya beaty and the beast)
    dilihat dari sisi lainnya ceritanya hanya memperlihatkan bagaimana seseorang jatuh cinta ditempat dimana ia bekerja hingga harus meninggalkan kekasihnya yang sudah selama 7 tahun menjaga dan selalu ingin membuat si lou bahagia.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya sih aku ga sreg jg sama si Lou ini, phewww.

      Hapus