Sabtu, Januari 31, 2015

Mendidik Anak Untuk Menjaga Salat




Perjalanan Terjauh dan Tersulit adalah Perjalanan ke Masjid




Sebagai keluarga pembelajar mandiri alias sekolah rumah (Homeschooling) tentu saja pendidikan karakter adalah materi utama dalam kurikulum kami. Meskipun tak pernah sedikitpun kami mengabaikan pendidikan yang bersifat akademis. Namun selalu saja saya dan suami ulang-ulang dalam kehidupan kami bahwa ketaatan kepada Allah adalah hal utama. 


Hidup untuk beribadah dan memberi manfaat bagi sesama manusia. Dan menjaga salat adalah tiang agama


Sebagai emak dari 6 anak dengan usia beragam tentu saja saya butuh trik khusus agar pembelajaran kami efektif. Usia anak saya mulai dari 11 tahun sampai berumur 1 bulan. Pembelajaran khusus salat selalu di dengungkan untuk setiap anak lelaki. Salat berjamaah di masjid. Saya katakan pada mereka bahwa perjalanan tersulit itu bukanlah mendaki gunung tertinggi di dunia, atau membelah samudera ataupun menjelajah negeri-negeri terjauh. tetapi perjalanan terberat dan tersulit itu adalah pergi ke masjid di waktu-waktu salat. 

itulah mengapa komitment untuk mengajarkan hafalan salat saya yang pegang kendali. Salat itu wajib dan sepanjang hayat. Alangkah ruginya saya jika pahala mengajarkan doa-doa salat di ambil oleh orang lain. Lima kali sehari mendirikan salat seumur hidup.


Setiap pagi ketika kami akan memulai pelajaran kami maka kami memulainya dengan salat Dhuha. Itulah mungkin kenapa anak-anak saya cepat menghafal surat Ad-Duha dan Asy-syam. Bagi anak-anak yang masih belum hafal doa salat maka kami melafalkan doa dengan suara nyaring. Dari takbir sampai salam di baca nyaring. Ditambah dzikir selepas salat, doa untuk emak-bapak, doa-doa lain plus doa salat dhuha. Dan bisa saya katakan dengan metode ini jika rutin di lakukan selama lima hari saja dalam seminggu. In Sya Allah anak-anak hafal dalam kurun waktu 2-3 bulan seluruh doa dalam salat. Coba deh. 

Selain itu saya mewajibkan anak-anak yang masih kecil untuk bangun di waktu-waktu salat. Jika itu subuh maka saya membangunkan mereka meskipun mereka tidak ikut salat. Minimal mereka mendengar adzan dan mulai hafal waktu-waktu salat. 

Dan bagi anak laki-laki maka di mulai mereka bisa menjaga diri dari berhadas  alias bisa menjaga pee dan puu nya maka mereka akan ikut si bapak berjamaah di masjid. Lima dari enam anak saya adalah lelaki. Tugas terberat saya adalah agar menjaga salat mereka selalu berjamaah di masjid.  Maka di mulai hari-hari penuh cerita tentang orang-orang yang menjaga salat mereka di masjid. Saya dan si bapak juga punya award sederhana untuk anak-anak yang rutin ke masjid. 

Dan untuk satu-satunya anak perempuan kami adalah mengajarkan padanya menjaga aurat yang sempurna agar ibadah salatnya menjadi lebih sempurna. Yang paling menggelitik adalah pertanyaannya seputar “mengapa Ummi tidak salat?” pada saat saya berhalangan salat. Jawaban saya sederhana “ karena ummi perempuan dan perempuan punya tugas istimewa”. Saya jelaskan sederhana bahwa hanya perempuan yang bisa hamil dan melahirkan dedek bayi sekaligus memberinya ASI. 

Begitulah usaha saya dan suami mengajarkan salat pada ke-6 anak kami. Dan tak lupa dalam setiap akhir sujud saya saya panjatkan doa:


رَبِّ ٱجعَلنِى مُقِيمَ ٱلصَّلَوةِ وَمِن ذُرِّيَّتِى رَبَّنَا وَتَقَبَّل دُعَآءِ
 O my Lord! make me one who establishes regular Prayer, and also (raise such) among my offspring  O our Lord! and accept Thou my daPrayer.



Dan ada rasa terharu ketika membaca buku Anakku Surgaku. Ternyata hebohnya mengajarkan anak-anak utnuk menjaga salat tidak saya alami sendiri. Ada banyak orang tua yang senasib dengan saya. Tetapi satu kesamaan kami semua. sesulit apapun mendidik anak untuk salat tetap akan kami lakukan karena dengan salatlah agama ini di tegakkan.

14 komentar:

  1. pkoknya seru ya mak irul mengajarkan anak sholat

    BalasHapus
  2. saya harus belajar banyaaaak dari mak irul niih...masih banyak bolongnya mengajarkan anak-anak...makasih untuk sharingnya ya mak..sukses juga lombanya :)

    BalasHapus
  3. ini blog kedua yang aku kunjungi dan sama - sama membahas tentang sholat. Memang orangtua terlebih dahulu yang memberikan contoh untuk ditiru anak - anak ^^

    BalasHapus
  4. Mengesat air mata membaca ini. Makasih banyak, Mak Irul :)

    Terima kasih banyak

    BalasHapus
  5. Alangkah ruginya saya jika pahala mengajarkan doa-doa salat di ambil oleh orang lain. Lima kali sehari mendirikan salat seumur hidup....

    ini bikin membaranya semangat yaaaa :D

    BalasHapus
  6. Follow kami yuk Moms, banyak informasi menarik seputar kehamilan, breastfeeding tips dan parenting >> http://id.mamitalk.com ; Facebook: MamiTalk

    BalasHapus
  7. Mbak Irul...aku jd sedih krn bukan aku yg ngajarin surat2 ke anak2... Tp insyaaAllah, menjaga sholat anak2 di rumah itu aku yg pegang kendali. Wish me luck yaa

    BalasHapus
  8. Perjalanan Terjauh dan Tersulit adalah Perjalanan ke Masjid <-- kalimat yang tak terbantahkan.

    BalasHapus
  9. "Alangkah ruginya saya jika pahala mengajarkan doa-doa salat di ambil oleh orang lain. Lima kali sehari mendirikan salat seumur hidup."

    Makjleb banget ini Mak. Iya, ya. Kadang malah banyak yang menyerahkan anaknya ke TPA aja biar lebih mudah. Hiks. Ternyata ini kewajiban orangtua seharusnya. :( Makasih ya Mak, insyaAllah aku mau ngajarin anak2 lagi. :)))

    BalasHapus
  10. Wah iya nih mak. Peer biatku soalnya Ais masih kadang males2an solatnya. Hehe

    BalasHapus
  11. smoga sy bisa mneladani panjenengangan mbak...

    BalasHapus
  12. Dan ada rasa terharu ketika membaca buku Anakku Surgaku.

    BalasHapus
  13. Tetap Semangat Posting ya kak :3

    BalasHapus