Rabu, Desember 17, 2014

Ketika Bayi Saya Sunsang

Amankah Posisi Janin Sunsang


Hasil USG minggu ke-32 yang bikin galau itu 

Di minggu ke-32 kemarin dokter kandungan tempat saya rutin periksa mengabarkan bahwa bayi ke-6 kami berada posisi sunsang. Alias kepalanya di atas. Pedahal kehamilan yang dulu-dulu biasanya ketika sudah diatas 30 minggu posisi bayi kepalanya sudah di bawah. Kata dokter sih bagi kehamilan anak berikutnya posisi bayi dengan kepala di atas memang wajar. Itu di sebabkan ruang rahim yang sudah lebih luas di banding kehamilan anak pertama. Otomatis janin mempunyai ruang gerak lebih luas untuk jumpalitan #tsaaah ^.^. memang sih sebelum periksa itu saya sedikit merasa sesak karena terasa ada yang menyundul-nyundul di dada. Ternyata itu kepala bayi.



 Apakah posisi sunsang berbahaya?. Kata bu dokter sih tergantung. Jika itu kehamilan pertama dan sampai HPL alias hari persalinan posisi janin masih sunsang biasanya tenaga medis tidak berani mengambil resiko. Tetapi untuk kelahiran selanjutnya masih bisa di tolerir dengan syarat tertentu. Misalnya posisi kepala di atas masih lebih aman ketimbang melintang. Janin tidak terlalu besar karena jika bobot janin besar akan sulit keluar dari panggul. Tekanan darah ibu normal dan ibu tidak kesakitan. Tetapi sebaiknya sih si ibu lebih banyak berkonsultasi ke tenaga medis tentang persiapan bayi dengan posisi sunsang ini.

Saya sendiri mendapat saran dari dokter untuk melakukan posisi yang mempermudah bayi untuk balik ke posisi semula yakni kepala di bawah

1.     Melakukan posisi menungging selama 3 kali sehari yang masing-masing 10-15 menit. Dianjurkan juga untuk memperpanjang masa sujud ketika salat. Karena jujur nungging selama itu bikin nafas ngos-ngosan ternyata (hadeh) jadi mending sujud  sekalian salat saja. Toh jadi dihitung ibadah kan ya? #gakmaurugi ^_^



2.     Saran ini saya dapat dari bu bidan Mugi Rahayu pengagas persalinan Maryam. Ketika malam hari cari kepala bayi, lalu letakkan senter yang menyala kemudian di tempelkan di kulit perut. Terus gerakkan dengan pelan ke bawah ke arah vagina secara melingkar. Lakukan pada saat bayi aktif. Pelan-pelan saja ya. Ga usah terlalu dekat jaraknya dan sambil bayi di ajak ngobrol.


Alhamdulillah saya melaksanakan dua metode di atas secara rutin selama hampir tiga minggu dan kemudian kepala bayi berbalik ke bawah.

Meskipun demikian selama tiga minggu itu saya tetap saja dihinggapi rasa khawatir. Khawatir jika posisi janin tidak mau berbalik ke bawah. Saya kemudian bertanya-tanya ke beberapa teman yang pernah mengalami posisi sunsang pada kehamilannya. DAN ternyata, posisi sunsang bisa di perbaiki secara manual. Alias di ubah posisinya dari luar oleh tenaga medis lo. Wiiiii ngeri. Tapi memang ada tenaga medis dan non medis yang berani melakukan praktik itu. Jika di dokter-dokter mereka akan melakukan hal ini dengan sebelumnya si ibu di anastesi terlebih dahulu. Karena memang katanya lumayan nyeri. Tetapi jika di bidan-bidan senior mereka melakukannya tanpa anastesi. Dan biasanya para tenaga medis ini melakukan pemutaran manual ini di atas kehamilan 34 minggu. Bahkan seorang teman menawarkan pada saya untuk mendatangi ibunya yang seorang bidan senior untuk melakukan putar manual ini. Dan juga ternyata banyak juga lo dukun-dukun bayi yang mampu melakukan putar manual ini. Bahkan hanya dengan sedikit sentuhan dan sepatah mantra….hehehe, bayi kemudian berputar dengan sendirinya. Wuih, sakti juga ya dukun-dukun bayi kita.


Saya sendiri sempat tertarik dengan putar manual ini dan berkonsultasi dengan suami. Tetapi apa kata suami. Saya dianggap melanggar hak janin, walah, kok bisa.


 “Mbok ya biarin kepalanya di atas sementara, kalo kamu sudah sujud panjang tapi bayinya belum mau muter ke bawah itu artinya si bayi paling mengerti bahwa itu posisi paling nyaman dan aman buat dia”.

 Mak jleb rasanya. Hiks. Si bapak ini kalau ngomong memang nyelekit terkadang, tapi kalau dipikir-pikir ya benar juga sih. Akhirnya saya urungkan niat untuk putar manual ini. Saya serahkan semua urusan pada Allah. Yang penting setiap habis salat saya menungging lagi selama 10-15 menit. Bahkan biasanya si bapak yang baru pulang dari masjid jadi ikut-ikutan duduk di sebelah saya sambil ngelus-ngelus punggung sambil mulutnya komat-kamit baca doa. Hiks, jadi terharu #dasar emak cengeng.


Sekarang Alhamdulillah posisi bayi sudah mapan dengan kepala di bawah. Tinggal menunggu lounching saja tahun depan. Semoga persalinan saya normal dan lancar. Saya dan bayi saya sehat, selamat tidak kurang suatu apapun dan rejeki kami juga lancar dan berkah. Aamiin. 



Senin, Desember 15, 2014

Berapa Biaya Homeschooling? #2


 Apakah Bersekolah di Rumah / Homeschooling itu Mahal?






Banyak orang mengira-ngira seberapa besar biaya pendidikan anak-anak yang kami keluarkan. Sebagai keluarga pelaku sekolah rumah ada yang mengira kami memilih HS karena murah alias tak berbayar #garuk2tembok. Ada juga yang mengira HS itu mahal karena banyak yang membandingkannya dengan lembaga HS yang sekarang menjamur.


 Sebagai seorang Muslim saya dan suami sepakat bahwa menuntut ilmu itu perlu dana. Imam Syafi’i rahimahullah berkata: menuntut ilmu itu membutuhkan tiga hal: membutuhkan [1] biaya/materi, [2] mendapat bimbingan guru (ustadz), dan [3] membutuhkan waktu yang panjang. (Diwan Asy-Syafi’i).
Tidak ada ilmu itu yang gratis. Paling tidak kita butuh dana minimal untuk belajar. Lalu seberapa besar anggaran keluarga kami dalam pendidikan anak-anak. Meskipun saya sepakat bahwa ilmu itu tidak gratis bukan berarti harga pendidikan setinggi langit menjadi lumrah buat kami. Kami berusaha untuk seimbang dalam pendidikan anak-anak.


Biaya paling tinggi tentu saja untuk buku dan sumber-sumber ilmu semacam majalah, Koran dan cd-cd yang memang susah untuk di ungguh di internet. Setiap awal tahun pelajaran kami sudah mempersiapkan diri untuk membeli buku-buku penunjang untuk anak-anak. Biasanya saya sudah menyusun kurikulum sederhana untuk masing-masing anak. Jadi bisa dibilang sejak dulu ketika memulai HS kami sudah menggunakan kurikulum 2013 (hatsiiim ) ^_^.

si sulung mengikuti workshop pembuatan film anak  di Perpus Kota Yogyakarta
dan kemudian terpilih menjadi kameramen terbaik pada event itu

Berdasarkan itu baru kami membuat daftar buku yang kami butuhkan. Dana yang lumayan besar juga untuk percobaan-percobaan sains dan keterampilan. Biaya traveling untuk mengunjungi tempat-tempat yang sekiranya berkaitan dengan pembelajaran. Biaya untuk pelatihan-pelatihan untuk anak semisal workshop pembuatan film, outbond, les robot, dsb. Saya beruntung tinggal di Yogyakarta. Yang notabene banyak event berlangsung selain bagus dan berkualitas seringnya sangat terjangkau bahkan free. Itulah kenapa saya dan suami selalu jeli melihat brosur-brosur yang menempel di tempat-tempat publik semacam perpus kota, masjid-masjid bahkan sekolah-sekolah yang biasanya menempelkan papan pengumuman suatu event.

Karena sekarang si sulung persiapan untuk ikut ujian kesetaraan jadi kami mempersiapkannya dengan les privat untuk mata pelajaran yang diujikan. Kebetulan kami bekerjasama dengan seorang teman yang baru saja lulus dari pendidikan luar sekolah Universitas Negeri Yogyakarta ( UNY). Itu sangat menguntungkan untuk kami. Jadi si guru ini lumayan pahamlah bagaimana mengajari anak-anak yang bersekolah rumah.

Jadi bisa dibilang biaya pendidikan sekolah rumah kami seperti keluarga lain yang menyekolahkan anak-anak mereka di sekolah formal. Jadi tidak ada yang gratis. Hanya saja memang biaya itu menjadi mutlak milik kami dan bisa di wariskan ke adik-adiknya terutama buku-buku dan cd-cd keilmuan. Kami rutin membeli beberapa majalah anak setiap minggu dan bulan dan juga komik.  Bisa di bilang anak-anak saya gagal move on dari komik Conan dan Kungfu Boy (halagh). Sayangnya anak-anak saya bukan pecinta novel semacam KKPK begitu. Kata si sulung itu bacaan anak perempuan #tsaaahhh. Bahkan di rumah kami bertebaran hasil karya anak-anak. Mulai dari kerajinan dari flannel, robot-robot aneh beraneka bentuk, percobaan-percobaan sains yang kadang gagal, sampai sayuran organic yang di tanam si sulung di depan rumah.

Yang pasti dalam seminggu anak-anak pasti ada hari crafting alias hari karya cipta. Dimana mereka bebas membuat suatu karya apa saja.

Jadi bisa dibilang salah besar jika ada yang bilang kami memilih HS karena minim biaya. Bahkan bila di hitung-hitung biaya pendidikan kami jatuhnya lebih besar di banding anak-anak yang bersekolah di sekolah negeri. Tapi saya dan suami tidak pernah merasa rugi untuk dana yang kami keluarkan dalam menuntut ilmu. Tetapi bukan berarti biaya HS juga mahal seperti lembaga-lembaga HS yang hari ini bermunculan.



Oia, sebaiknya anak-anak di daftarkan menjadi member di perpus-perpus umum milik daerah. Di Yogyakarta sendiri perpus milik daerah memiliki koleksi buku yang sangat memadai dan juga setiap masa liburan selalu mengadakan event-event bagus yang kadang berbayar maupun gratis. Kami juga berusaha untuk memfasilitasi minat dan bakat anak-anak. Misal si sulung yang sangat visual dan pecinta fotografi. adiknya yang memilih menghafal Qur'an di sebuah rumah Tahfidz dan adiknya yang perempuan yang sangat menyukai film animasi. 

Mudah-mudahan penjelasan saya ini bisa memberi pencerahan bagi keluarga yang berminat untuk menjalani sekolah rumah.

Sabtu, Desember 06, 2014

Pecinta jilbab segiempat


Fans Garis Keras Jilbab Square



Saya fans garis keras jilbab segi empat. Hehehe. Hampir semua jilbab saya berbentuk square alias harus dipasang dengan peniti. Saya punya jilbab instant berbahan kaos hanya dua biji. Dan itupun hanya di pakai di rumah. Bahkan sering pula saya menerima tamu dengan berjilbab segi empat. Bagi saya jilbab instant memang praktis dan cepat di pakai. Tapi koq saya merasa jilbab dengan peniti masih jauh lebih rapi dan pas di wajah saya #tsaaaah apa coba ^_^….



 Alasan lain selain karena jilbab segi empat itu pas untuk pipi saya yang agak2 chubby ini #cubit2pipisendiri. Biasanya jilbab instant itu kadang tidak pas bagian di bawah dagunya. Karena mungkin jilbab itu di buat stanndart bagi orang-orang berwajah lonjong atau oval dan menyampingkan kebanyakan perempuan berwajah bulat -_____- hahahaha.


sebagian square hijab koleksi pribadi :)

 Jadi daripada harus menambah peniti lagi di bawah dagu biar jilbabnya ga kedodoran saya memilih jilbab segi empat sebagai kostum harian. Apa tidak ribet mak? Anak banyak, aktivitas harus cepat tapi harus makai peniti pula?. Itulah sebenarnya esensi yang ingin saya sampaikan pada anak gadis kami satu-satunya. Bahwa berhijab itu bukan masalah praktis. Berhijab itu mau dia repot, ribet, butuh waktu dan sebagainya kita tetap akan memakainya karena itu adalah Syariat. Jadi kadang saya agak tersinggung juga jika ada muslimah lain yang menyepelakan para hijaber lain yang memilih jilbab segi empat yang harus pakai peniti atau jarum pentul. Dan menyindir mereka dengan ungkapan ‘ menyulitkan diri sendiri”. Hey….tidak ada yang menyulitkan jika itu berkaitan dengan syariat bukan?. Seperti saya juga yang tidak mau nyinyir dengan para hijaber lain yang memilih jilbab instant untuk pakaian sehari-hari. Ayolah. Syariat itu bukan untuk bahan mengolok-olok pelakunya. Mari kita saling menguatkan dengan sesama pengguna hijab. Semakin banyak orang yang berhijab semakin kuat kita bukan? Aamiin.



dan sekarang gadis kecil kami satu-satunya juga niru-niru emaknya. Pecinta jilbab segi empat. Dan entahlah ini mungkin pendapat saya pribadi saja. Koq saya merasa terlihat lebih muda jika memakai jilbab segiempat #kabuuuuuur  >0<…….