Minggu, Agustus 31, 2014

Sebuah Carita dan Harapan Dalam Bingkai Kamera Untuk Sebuah Property Layak Bagi Pengungsi Perempuan


Mengabadikan Kehidupan Para Pengungsi Perempuan Dalam Bingkai Kamera dan Pemukiman Layak Untuk Mereka




“Orang yang paling picik adalah orang yang merendahkan cita-citanya”
 ( Umar Bin Khattab)

Jangan pernah bercita-cita rendah. Bermimpilah setinggi langit. Karena jika kau jatuh kau akan jatuh diantara bintang-bintang. Kata-kata ini sering menjadi penyemangat ketika saya sedang lelah dengan impian-impian yang belum terwujud. Saya membuat daftar impian saya dan memasukkannya ke sebuah kotak kaca. Saya menyebutnya Dream Box. 
Ini Dream Box saya ^_^


Ada satu impian saya yang dulu saya pikir terlalu muluk untuk seorang ibu Rumah tangga yang kariernya bisa di bilang mentok. Saya ibu beranak lima dan memilih metode Homeschooling untuk mengajari mereka. Hampir tak ada waktu untuk mengejar impian-impian aneh. Tapi saya yakin setiap doa-doa kita akan dikumpulkan oleh malaikat di langit dan menanti untuk dikabulkan satu persatu. Apa impian aneh saya itu. Saya ingin sekali mempunyai dokumentasi perjalanan – perjalanan ke tempat-tempat pengungsian dari negeri-negeri konflik. Ingin sekali menjadi videographer khusus pengungsi-pengungsi perempuan. Ingin sekali mengabadikan detil-detil wajah duka mereka dan menyampaikannya pada dunia. Pada perempuan-perempuan lain yang lebih beruntung.
 
menjadi satu-satunya emak2 diantara para peserta workshop pembuatan film dokumenter ^_^




Beberapa waktu lalu saya pernah terhubung dengan beberapa perempuan pengunsi dari Rohingya. Dan itu membuat banyak mimpi saya berubah. Selama ini hanya sedikit orang yang bersinggungan dengan perempuan pengunsi dari negeri-negeri konflik. Bagaimana kehidupan mereka di pengungsian dan bahkan duka mereka ketika menjalani peran ganda sebagai ibu dan sebagai ayah di Negara-negara lain jauh dari tanah air mereka. Saya juga menulis tentang pengungsi perempuan dari Suriah yang melarikan diri ke Malaysia. Rasanya ingin sekali bercerita banyak tentang perempuan-perempuan yang dilupakan ini pada dunia. Saya ingin membuat film dokumenter tentang kehidupan pengungsi perempuan. Untuk mewujudkan mimpi ini saya sampai mengikuti pelatihan pembuatan film dokumenter yang di isi oleh seorang videografer dari National Geographic. Kemampuan fotografi saya yang terbatas juga saya asah dengan mengikuti beberapa workshop fotografi. Diantaranya workshop Fotografi bersama National Geographic Indonesia dalam rangka " Jelajah Imaji Indonesia". 


Saya juga mengikuti seminar dan diskusi tentang Rohingya bersama Greg Constantine seorang fotografer yang mengabadikan pengungsi Rohingya selama 8 tahun. Saya sangat ingin menjadi bagian orang yang terlibat langsung dengan orang-orang terpinggirkan seperti para perempuan Rohingya. Saya yakin ada banyak kisah luar biasa di balik sikap diam dan pasrah yang mereka tampakkan. 


Di Libanon, tercatat ada sekitar 1 juta pengungsi Suriah. Sebanyak 80 persennya adalah perempuan dan anak-anak. Mereka tinggal berdesakan dalam apartemen murah, garasi dan bangunan yang belum selesai di kota-kota di seluruh negeri itu. Para pengungsi termiskin hanya mampu tinggal di tenda perkemahan tenda informal yang ada di pedesaan.

( http://international.sindonews.com/read/887498/43/pilu-wanita-suriah-jadi-psk-di-pengungsian).

Dalam krisis-krisis terkini, lagi-lagi wanita dikorbankan. Para perempuan Suriah di kamp-kamp pengungsian bahkan dijual melalui suatu laman Facebook, sebagaimana dilansir dari ANSAmed, 23 Mei 2014.
Hanya butuh beberapa ribu euro untuk membeli wanita-wanita Suriah, termasuk bocah-bocah perempuan, yang mengungsi dari negeri mereka dan hidup di kamp-kamp pengungsi, demikian dikabarkan oleh kelompok-kelompok hak azasi manusia (HAM) Arab.
Kelompok-kelompok HAM ini memberikan peringatan sehubungan dengan para wanita yang dijual melalui Facebook.
Fenomena ini bukanlah hal baru. Tahun lalu, terbit beberapa laporan yang menengarai adanya para perempuan Suriah yang hidup di kamp-kamp pengungsian di Yordania, Turki, dan Iran yang telah dijual kepada pria-pria dari negara-negara Arab, terutama dari kawasan Teluk. Kelompok-kelompok HAM juga menyingkapkan kasus-kasus kekerasan dan pelecehan seksual yang korbannya termasuk bocah-bocah berusia 12 atau 13 tahun.
 ( http://news.liputan6.com/read/2054668/miris-perempuan-pengungsi-suriah-dijual-lewat-facebook).



anak-anak pengungsi Syria yang menjadi yatim
Foto: dokumen pribadi




seorang janda Syria dengan anaknya
foto: dokumen pribadi



Menurut Kementerian Imigrasi, yang dikutip dari Thomson Reuters Foundation, ada sekitar 1,33 juta pengungsi Rohingya di Bangladesh. Banyak dari mereka yang mengalami tindak kekerasan dan penganiayaan. Mereka juga tidak bisa berpergian, menikah atau bahkan sekadar untuk menerima layanan kesehatan tanpa izin pemerintah setempat. (http://www.bumisyam.com/tak-ada-hari-raya-bagi-pengungsi-rohingya.html/) 








pengungsian Suriah di Turki
images from: http://www.islampos.com/wp-content/uploads/2014/07/syrian-refugee-children-f-023.jpg?1d327d








Pengungsian warga Rohingya di Bangladesh
images from: here




Dan Oktober ini saya berencana mengikuti perjalanan Road For Peace Asia
peralatan 'perang' untuk pembuatan dokumentasi
dan film dokumenter  yang saya cicil dr hasil tabungan
mengunjungi  pengungsi masyarakat Rohingya di Asia. Semoga nanti perjalanan ini bisa memberi manfaat bagi saya dan juga banyak perempuan. Dan saya berharap dari setiap perjalanan itu nanti bisa memberi jalan untuk sebuah pemukiman layak bagi para perempuan pengunsi ini dan anak-anak mereka. Rumah yang nyaman. Rumah tempat mereka kembali dari lelahnya menjalani hidup. Rumah tempat mereka berkumpul dengan keluarga dan orang-orang yang mereka cintai. Rumah tempat mereka mendidik dan membesarkan anak-anak mereka. Rumah tempat mereka beribadah dengan nyaman. Rumah impian setiap perempuan normal. Rumah dengan air bersih yang cukup. Rumah dengan jendela besar. Rumah dengan sedikit tanah kosong di samping rumah tempat mereka berkebun di sore hari. Rumah dengan dapur nyaman tempat mereka memasak makanan untuk orang-orang terkasih. Rumah impian yang menjadikan bahagia mereka nyata. 







9 komentar:

  1. Mimpimu sangat mulia Mak Irul. Semoga beneran terkabul sehingga banyak yg bisa dilakukan untuk menolong sesama.

    BalasHapus
    Balasan
    1. aamiin. nuwun mak uniek sdh mampir

      Hapus
  2. mak irul aku terharu...kepedulian mak irul nih patut dicontoh..dan mimpinya semoga segera terwujud ya mak....aku tunggu ceritanya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. nuwun mak gurcil...aamiin semoga terwujud :)

      Hapus
  3. Ide Dream Box nya keren mak... Asal lihat box itu pasti jadi kepancing semangat ya... Semoga semua mimpi2 kita terwujud dengan manis ya mak... Amin.
    Salam kenal

    BalasHapus
  4. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  5. Assalamu'alaikum...Mak Irul, terkait foto janda Suriah di Malaysia, adakah memiliki artikel aslinya? Sebab bank data situs berita bumisyam.com sempat diretas dan hilang sebagian besar yang baru. Syukran jazakillah khoiron katsiron

    BalasHapus
    Balasan
    1. wa'alaykumsalam mas Fajar. Saya pernah menulis tentang pengungsi janda Sria itu di postingan saya di blog ini. Tapi sekarang postingan itu sementara saya tarik karena sedang berniat mengumpulkan tulisan terkait pengungsi perempuan. kalau foto2 saya punya. Kalau mas Fajar berkenan artikel tersebut akan sy kirim via email. kontak saja di email saya. jazakallah Khair

      Hapus
  6. Halo Admin / Blogger :)

    Saya sangat suka dengan postingan foto-fotonya di blog, dan info yang disampaikan sangat bermanfaat.

    Perkenalkan, saya dari tim kumpulbagi. saya ingin tau, apakah kiranya anda berencana untuk mengoleksi foto-foto,video,menggunakan disk online yang lain dengan tujuan berbagi informasi ? :)
    Jika ya, silahkan kunjungi website ini www.kumpulbagi.com untuk info selengkapnya.

    Anda bisa dengan bebas mengupload/download foto-foto,video,music dalam jumlah dan waktu yang tidak terbatas, setelah registrasi terlebih dahulu. Gratis :)

    Terima kasih.
    Salam.

    BalasHapus