Rabu, Juli 16, 2014

Mencerdaskan Anak Bangsa Melalui Ibu-Ibu Mereka

Emak School Turut Serta Mencedaskan Anak Bangsa


Bukan sekolah itu saja yang mendidik hati sanubari itu, melainkan pergaulan
di rumah terutama harus mendidik pula!


Sekolah mencerdaskan pikiran namun kehidupan di rumah tangga membentuk watak anak itu. Ibu lah yang menjadi pusat rumah tangga.


Berilah anak-anak gadis pendidikan yang sempurna, jagalah supaya ia cakap kelak memikul kewajiban seberat itu.”


(RA Kartini, dalam surat kepada Tuan dan Nyonya Anton, 04 Oktober 1902)



Images: dokumen pribadi


Seorang ibu adalah pendidik yang utama. Begitulah sebuah kata bijak yang sering terngiang di telinga saya. Di tengah gemerlapnya kehidupan kita hari ini para perempuan Indonesia. Masih banyak perempuan-perempuan yang tak mengenal baca tulis. Tak mengenal internet apalagi facebook. Ketika saya bisa berbagi resep di blog dengan banyak teman lain saya masih bertemu dengan seorang ibu yang terbata-bata membaca selebaran dari sekolah milik anaknya. Saya tinggal di Yogyakarta. Tak jauh dari pusat kota. Tempat yang mendapat gelar ‘Pusat Pendidikan”. Kampung tempat tinggal saya masih bertabur sawah. Jika malam suara tonggeret masih bersahutan. Gemerlap kunang-kunang bahkan masih sempat mengampiri rumah kami.

kelas Emak School kami
images: dokumen pribadi


Awalnya tak pernah terpikir membuat Emak School. Begitulah kami memberi nama komunitas kami. Hanya sebuah sentilan kecil ketika arisan panci di kampung saya begitu ramai. Harap maklum tetangga kiri-kanan bukan orang berada. Jika para ibu rajin berkumpul untuk sesuatu semacam ini. Kenapa tak terpikir membuat sesuatu yang lebih mencerahkan.


Disinilah kami memulai. Berharap kelas Emak School kami ikut serta mencerdaskan anak bangsa. Beralas tikar lusuh dan modul fotokopian sebagai materi di sebuah pojok rumah. Majulah saya berbagi ilmu di hadapan para emak lain yang bahkan di tanggapai dengan cekikikan. Maklum mereka semua tetangga dekat. Tak jarang saya tampil di tengah forum dengan baby yang bersembunyi di dalam kerudung karena masih menyusu pada emaknya. Berbagi ilmu tentang tumbuh kembang anak. Tentang Pentingnya ASI. Tentang makanan sehat. Tentang pola hidup sehat. Tentang tayangan media yang kadang tak bersahabat. Meskipun tinggal dikampung dan dari kalangan kurang mampu semua tetangga saya memiliki televisi bahkan berlayar flat. Ckckckck. Luar biasa bukan?. Dan masih banyak materi lain yang kami bagikan di forum ini.


sedang eksyen di kelas Emak School (abaikan bakul di belakang itu) wkwkwk
images: dokumen pribadi

Dan saya yakin sekali bahwa ibu cerdas adalah aset bangsa. Karena ditangan merekalah anak-anak cerdas dididik dan dipersiapkan untuk membangun bangsa. Dan saya berharap meskipun kecil Emak School turut serta Mencerdaskan Anak Bangsa. Amin. Dan saya berharap akan banyak kelas Emak School lainnya di banyak tempat. Perempuan cerdas adalah aset negara bukan? 


Selasa, Juli 15, 2014

Di Masjid Hatiku Terkait




Masjid adalah pusat kehidupan kaum muslimin. Mengajarkan anak-anak untuk mencintai masjid adalah salah satu kewajiban kami. Mencintai masjid tapi tetap santun di dalamnya adalah peraturan untuk anak-anak saya.
Dan saya meminta anak-anak untuk tidak melanggar batas antara jamah pria dan wanita. Agar anak-anak mengerti adab-adab pria dan wanita dalam Islam








Di balik Tabir

Kajian khusus Akhwat (putri), Masjid Mujahidin Universitas Negeri Yogyakarta





















Senin, Juli 07, 2014

Menjadi Manusia Jujur dan Amanah adalah Kekayaan Bangsa

Akhlak Mulia Adalah Warisan Bangsa


Sebagai mamak dari lima orang putra saya selalu berharap anak-anak saya menjadi anak yang berbudi luhur. Anak-anak saya memang tidak sekolah di sekolah formal. Tetapi bukan berarti kami tidak belajar. Mengajarkan tentang akhlak mulia adalah unsur paling dominan dalam sistem Homeschooling keluarga kami. Banyak hal harus dimulai dari tentang pendidikan adab dan nilai-nilai luhur. Bukannya saya tidak percaya dengan lembaga sekolah. Tapi saya pikir untuk urusan seperti itu maka itu adalah tanggung jawab saya sebagai mamak.

Dan satu hal. Mengajarkan pendidikan karakter adalah salah satu bentuk cinta terhadap Indonesia. Karena karakter bangsa kita sebenarnya adalah berakhlak mulia dan mempesona. Buktinya lihat bagaimana jayanya bangsa kita di masa lalu. Jadi tetap mengajarkan hal-hal mulia dalam keluarga itu artinya sama dengan menjaga warisan leluhur kita.

Nilai-nilai luhur itu diantaranya tentang konsep jujur dan amanah. Klise banget kalau ingat tentang teorinya. Tapi menjalankannya, whuuuuaaaa…sampai nangis-nangis, tapi bukankah kejujuran adalah Mata Uang Yang berlaku dibelahan bumi manapun?. 

Hal sepele yang saya ajarkan pada anak-anak adalah jangan ambil yang bukan hakmu.
Seperti hari itu kami mampir ke sebuah lapak penjual buah. Jika musim hujan semua buah bermunculan, rambutan durian, duku dst…hahahaha sampai pegel bikin listnya. 

Kami mampir membeli rambutan. Setelah memilih kami meminta di timbangkan beberapa kilo. Si penjual dengan sigap menyiapkan pesanan kami. Si abang ngiler melihat beberapa butir rambutan yang lepas dari kerumunannya. Saya menggeleng. Itu bukan bagian yang kami beli. Anak saya mengerti. 

Tak lama masuk seorang ibu dengan dua anaknya yang seusia anak saya. Membeli rambutan pula. Ketika si penjual masuk ke kios menyiapkan pesanan. Dengan santai dua anak ini mencomot rambutan-rambutan yang ada di kios itu. 

Duh, hati saya miris. Si abang melirik saya. Seolah bicara

“ Mak, mereka kenapa boleh mengambil rambutan itu” saya hanya tersenyum. Setelah membayar saya berlalu.

Di jalan saya bilang

“ Rambutan itu kecil sekali suap langsung hilang masuk perut. Harga sebiji rambutan pun sangat murah. Tapi di akhirat, kita tidak akan bisa berlalu dari hadapan malaikat ketika kita tidak bisa menjawab “ Kenapa kau mengambil yang bukan hakmu?”
Sesak dada saya ketika mengucapkan kata-kata itu dihadapan si Abang. 




Nak, ingat selalu pesan emak ya sayang. Semoga Allah memanjangkan umurmu dan melimpahkanmu dengan rejeki yang luas karena kejujuranmu. Amin 
Dan satu hal yang selalu saya tanamkan pada anak-anak. Kejujuran adalah watak bangsa Indonesia. Ia adalah tradisi ketimuran. Menjadi manusia jujur itu sama artinya dengan mencintai Negara. Bayangkan jika manusia Indonesia selalu besikap jujur dan amanah. Berlaku jujur dalam jual-beli sesama manusia. Berlaku jujur sebagai pemimpin. Berlaku jujur dalam memilih pemimpin. Berlaku jujur terhadap orangtua dan sebaliknya anak juga berlaku jujur terhadap orang tua. Dan dilanjutkan berlaku jujur dan amanah terhadap manusia lain. Indonesia akan menjadi bangsa LUAR BIASA.
Terkadang anak-anak saya malu mengakui jika mereka bersikap jujur. Misalnya, mengakui sebuah kesalahan. Saya selalu bilang malu yang kita tanggung karena mengakui kesalahan itu hanya sebentar dibandingkan kita menutupi kecurangan maka rasa bersalah itu akan menjadi beban sepanjang hayat. Meskipun saya belum yakin mereka akan mengerti perkataan emaknya ini tapi saya percaya suatu hari mereka akan mengerti betapa mulianya orang-orang yang jujur dan berlaku amanah. Dan kedua pelajaran itu, bersikap jujur dan amanah, adalah pelajaran WAJIB di rumah kami.


Artikel  ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan: Aku dan Indonesia