Rabu, Desember 11, 2013

sepulang nonton 99 Cahaya di Langit Eropa


Antara Adzan dan menara Eiffel
11-12-13

here

Saya mau berbagi cerita tentang film 99 Cahaya di Langit Eropa. Kemarin hari Selasa, 10 Desember 2013 saya nonton bareng rombongan jeng Desy. Saya bawa si sulung jeng Desy bawa segerbong, mulai dari Oma, adik ipar, anak-anak dan keponakannya. Ini benar-benar No Bar keluarga besar…hahaha. …saya tidak akan menceritakan isi film. Saya ingin berbagi sedikit perasaan saya selama menonton film ini.
Film di buka dengan cerita si Hanum tentang kegiatannya selama menemani suaminya si Rangga yang melanjutkan S3nya di kota Wina. Dari awal saja saya sudah meremang. Entahlah rasanya saya merasa menonton filmnya De Davinci Code tapi versi Muslim. Tentang sejarah-sejarah peninggalan kaum Muslimin di Eropa. Meskipun dengan versi sederhana alias data-data yang di tampakkan tidak sedetil dan serumit De Davinci Code.
Ada perasaan mengharu ketika melihat jejak-jejak peninggalan kaum muslimin di Eropa. Padahal baru sebagian tempat yang ditunjukkan. Semisal Wina dan Paris. Di part berikutnya mungkin akan lebih banyak lagi. Karena film ini memang di bagi menjadi dua part.
Bagusnya lagi bahasa pengantar di film ini kebanyakan bahasa Jerman. Bahasa favoritnya si abang Usamah. Ingatkan tentang kegiatan komunitas HS jogja dalam Germany Day. Saya tahu film ini akan sangat membekas di benak si abang. Meskipun ia diam tapi film ini akan menginspirasinya. Saya yakin. Yakin sekali. Saya doakan Bang semoga segala keinginanmu tercapai.  Amin
Ada yang bikin saya sukses menangis ketika Mariom (Dewi Sandra, dan asli doi cantik bingit dengan hijabnya) meminta Hanum meneliti dengan seksama lukisan Bunda Maria di museum Louvre. Bahwa sebenarnya mascot nya Museum Louvre itu bukan Monalisa tapi Bunda Maria yang kerudungnya ternyata bertuliskan tulisan Arab Laa ilaha illallah…saya bisik2 dengan suara tercekat pada Usamah di sebelah saya..
”Bang besok kita buktikan ya Bang, apa benar tulisan itu ada” si abang mengangguk-angguk mantap.
Ada juga hal yang membuat saya sesak menahan haru ketika Rangga Adzan di puncak menara Eiffel. Itu benar-benar menggugah kesadaran. Sampai rumah saya bilang “ Bang besok adzan juga ya disana” “ iya Mak”….
Atau saat paling emosional ketika si Ayse memakaikan kerudung untuk Marion. Ketika itu Ayse melepas jilbabnya dan memasangkannya untuk Marion padahal kepala Ayse saja plontos karena efek kemoterapi kanker yang dialaminya. Hiks, sakseis nangis berat….dasar emak2 cengeng #lapingus……..
Bahkan ketika Ayse menolak permintaan gurunya untuk melepas kerudung agar ia tidak menjadi bahan olok-olokkan teman-temannya. “ Saya tidak bisa melepaskan kerudung ini” saya langsung mengelus jilbab saya.
juga bagaimana sikap Fatma ketika memilih untuk mentraktir orang yang mencemoh Islam...awesome...^_^

Film ini benar-benar inspiratif…selama ini kan kita melihat film-film tentang semangat untuk pergi ke Eropa adalah karena pendidikan atau pemandangannya atau karena keren. Nah ini melihat dari sisi berbeda. Jempol banget……


Nb: jazakallahkhoir buat mbak Desy yang sudah mentraktir diriku...merci-Danke #sambilbungkuk2...^_^

11 komentar:

  1. saya belum sempat nonton film ini, insya Allah saya akan sempatkan waktu untuk menontonnya

    BalasHapus
  2. visualnya bagus..mungkin karena syuting di Eropa kali ya...:)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mak eehhh... Misii.. Misiii.. Repisi.. Itu bukan sandra Dewi tp dewi sandra.. Secara #bedaorang .. En not miriam.. Tp Marion.. Misiii.. Misiii.. Pareeng.. Mlipirr

      Hapus
  3. aduhhhh mak... *mupengberatsayamah -_-"

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayo mak buruin.. Keburu layare digulung "̮ ♡̬ƗƗɐƗƗɐƗƗɐ (ړײ)

      Hapus
  4. hiks, makin penasaran sama filmnya. sayang di tegal ga ada bioskop, makk T.T

    BalasHapus
  5. Masama mak *bingung ya ma nama, #bajak nama anake wedok, namaku dah pasaran kayanya.... smoga dpt kesempatan lg buat nobar part 2 nya ya mak...., walo dah liat nih pilem kesekian kali, msh ttp mewek jg, note : dari belio pengarangnya... film ini dibuat sekuel dgn maksud agar pesan dan isi dr buku bs maksimal dituangkan, dgn tdk mengurangi esensi..alur dibuat lambat tp ga mbosenin kan.. apalg klo dah ada so stefan.. rasane pengen tak culek.,.heheh

    BalasHapus
  6. @manda..eh dewi sandra ding...hahaha salah org...suka2 kebalik2 aku klo nyebut bedua itu....hihihi....penulis skenarionya l;angsung protes...#ngacir

    BalasHapus
  7. cerita mak ini juga gak kalah sama filmnya... hihihi... :D

    BalasHapus
  8. @Ifan...trims sdh mampir..saya di jogja..dek ifan di jogja juga kan...salam kenal dng emak bawel ini...:)

    BalasHapus
  9. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus