Kamis, Oktober 31, 2013

Mencuci itu jadi mudah jika bersama Rinso Cair


Cerita di Balik Dunia Para Petualang
jika sedang manis, anak-anak itu seperti boneka pajangan yang cantik...^_^
(ini waktu anaknya baru empat)

Urusan mencuci bagi keluarga dengan banyak anak harus pakai STRATEGI. Karena mencuci pakaian itu butuh tenaga banyak, waktu, dan biaya lumayan. Dengan lima anak yang sebagian masih kecil jelas cucian kami segunung. Itu belum ditambah tingkat kekotoran yang bikin pusing. Coba aja ibu Rumah Tangga itu bisa cuti saya pasti milih cuti nyuci. Wkwkwkwk. tapi tugas tetaplah tugas. Apalagi sejak kami meutuskan tidak menggunakan asisten RT. Tahulah sekarang bagiaman susahnya mencari ART. Seperti mencari jarum ditumpukan jerami, beuh, bahasanya.


inilah para bolang dan aktivitas Berani Kotornya...



Dan jangan ditanya bagaimana kotornya pakaian anak-anak saya. Anak-anak saya bersekolah di rumah (homeschooling) judulnya sih sekolah di rumah tetapi kalau belajar jarang di rumah. Belajarnya di kebon tetangga, sawah, saluran irigasi kampung, menangkap belut di sawah, berenang di empang dan kegiatan-kegiatan remeh semisal mengumpulkan batu-batu aneh, daun-daun lucu dan bunga-bunga untuk membuat herbarium. Anak-anak adalah mainan dengan batre yang tidak pernah soak. Mereka senang dan emaknya yang senep. Anak-anak puas emak lemas. Baju-baju pasca outing itu loh, ga nahaaaaaaaaaaaaaan. Hahahaha.


Tetapi seperti saya bilang di awal, hidup itu pakai strategi. Jika cucian banyak dan kotor tapi kita tetap ingin mengerjakan banyak hal lain carilah hal-hal luar biasa yang bisa membantu kinerja kita. Ckckckckberasa manajer pemasaran. Pilihan jatuh di Rinso Cair. Rinso cair itu menurut saya termasuk temuan terhebat abat ini. Hahahaha. Iya bener. Pokoknya semua temuan yang memudahkan urusan pekerjaan perempuan pasti saya apresiasi tinggi. 





dioleskan langsung di noda yang membandel


Untuk pakaian dengan tingkat kekotoran akut saya oleskan Rinso cair langsung di sumber noda. Baru kemudian saya rendam. Untuk cucian dengan kekotoran sedang saya rendam saja dengan Rinso Cair. Ada banyak tips yang bisa didapat ketika kita menyambangi http://www.rinso.co.id/


satu tutup botol untuk cucian satu keluarga.....

Proses merendam ini sangat menguntungkan buat saya. Jeda waktu merendam saya bisa mengerjakan pekerjaan lain. Saya juga mengatur panel pada mesin cuci pada posisi rendam otomatis pada waktu subuh. Nanti ketika matahari sudah muncul cucian saya sudah siap jemur. Praktis bukan.
Yakin bersih? Yakinlah la saya sudah membuktikan. “Rinsocair 2x lebih efektif, meresap lebih ke dalam serat kain saat perendaman, untuk seluruh cucian sehari-hari. Apalagi busa pada Rinso cair itu lebih banyak daripada detergen bubuk sehingga proses pencucian bisa lebih maksimal. Dan menyenangkannya, ga ada tuh ceritanya ada sisa – sisa butir detergen layaknya kalau kita pakai detergen bubuk. Dulu saya suka kesal kalau melihat hasil cucian terutama pakaian dengan bahan jeans. Biasanya ada sisa bubuk detergennya di sela-sela lipatan. Nah itu ga akan terjadi kalau kita pakai Rinso Cair.

Rinso Cair juga lembut di tangan. Kadang tidak semua pakaian masuk mesin cuci. Ada pakaian –pakaian tertentu yang terpaksa saya cuci dengan tangan. Semisal pakaian dalam, jilbab, batik dan kain tenun. Dan senangnya tangan saya ga perih, panas atau mengelupas layaknya kalau kita pakai detergen bubuk. No drama lah pokoknya.^_^.

Dan wanginya Rinso cair itu awet. Jadi ga perlu lagi keluar dana untuk beli pelembut dan pewangi pakaian bahkan cairan khusus untuk menyetrika. Soalnya Rinso cair itu melembutkan pakaian. Bekerja sampai ke serat kain. Meringankan sekali dalam proses menyetrikanya nanti. Top bangetlah judulnya. Harga yang sekarang sudah sangat sepadan untuk hasil maksimal yang di dapat. 

Jadi meskipun anggota keluarga banyak. Pakaian kotor tingkat tinggi ga perlu kemudian melempar pakaian ke jasa Loundry. Hehehe.

Sehingga waktu kita yang biasanya terpakai untuk mencuci bisa dimanfaatkan untuk hal lain. Hidup jadi lebih berkualitas. Waktu bersama anak-anak lebih banyak. Dan anak-anak bebas bereksplorasi untuk mempelajari banyak hal tanpa perlu takut di marahi emaknya karena bajunya yang kotor. Jangan takut kotor. Berani kotor itu baik. Percaya sajalah.....


Tipis, Ringan, Bikin mobile & online Emak makin praktis”

Tipis, Ringan, Bikin mobile & online Emak makin praktis”


bersama emak-emak blogger...



Sejak 10 tahun menikah hampir bisa dipastikan saya tidak pernah lepas dari masa hamil, melahirkan dan menyusui. Tubuh saya benar-benar sudah terlatih selama sepuluh tahun ini untuk ‘angkat beban’…^.^…jika bepergian barang bawaan yang didahulukan pastilah milik anak-anak. Padahal traveling ada dalam jadwal keluarga kami. Keluarga kami memutuskan untuk memilih pendidikan rumah (homeschooling) sehingga dana pendidikan dialihkan ke hal-hal lain yang menunjang proses pembelajaran anak-anak. Dan salah satunya adalah jalan-jalan. Selama ini jika bepergian atau jika mengikuti acara di luar rumah saya lebih memilih membawa smartphone. Alasannya sederhana saja, ringan. Saya pasti berpikir dua kali jika harus membawa laptop jadul milik saya yang beratnya setara dengan berat bayi.


bepergian dengan menggendong baby itu sudah biasa...:P











si emak yang selalu berusaha untuk belajar hal baru







Padahal jika bepergian itu begitu banyak ide berseliweran (langsung melirik ke blog fiksi saya yang ditagih minta di update…). Padahal jika mengetik itu tentu saja paling nyaman dengan laptop. Maklum produk jadul. Rasanya kalo ga pakai kibot itu serasa belum ngetik #dilemparasbak J….biasanya saya menulis di notes smartphone baru kemudian di rumah saya pindahkan ke laptop. Tetapi jika batre samrtphone saya menipis saya hanya memanfaatkan kapasitas otak saya yang terbatas ini. Entar di rumah di coba untuk diingat-ingat lagi apa saja yang tadi di lalui. Meskipun karena U factor (faktor umur maksudnya) banyak moment yang sering terlewat karena lupa, hehehe. Ah seandainya bisa mengetik di waktu-waktu luang saat di perjalanan pasti banyak hal yang bisa terekam. Sekali menulis sepanjang hayat selalu dikenang. Ah. Manisnya.


Saya beruntung saat ini banyak sekali perusahaan gadget ternama berlomba-lomba menawarkan kenyamanan. Buat emak-emak dengan lima anak seperti saya itu suatu harta luar biasa. Karena bagaimanapun urusan anak tidak mungkin saya nomor duakan tetapi jika bisa sambil mengurus anak-anak tetap berkarya kenapa tidak. Pilihan hati langsung jatuh pada produk Acer Aspire E1-432. Rasanya semua bentuk kenyamanan yang saya inginkan ada padanya.
ini loh si Kren itu
 http://www.acerid.com/2013/10/acer-aspire-e1-432-notebook-tipis-dan-hemat-daya-berkat-prosesor-intel-haswell-4th-gen

Tipis. Bayangkan produk ini lebih tipis 30 % dari produk lain dikelasnya. Wah-wah, langsung ngelirik si bapak yang dari tadi manggut-manggut waktu saya kasih tahu tentang keunggulan produk Acer terbaru ini. Meskipun tipis performa bikin gedhek-gedhek (geleng-geleng). Layarnya LED 14” resolusi 1366×768 px yang mumpuni banget buat multimedia, browsing, dan buat office basic. Jadi ga berasa ngintip kayak di smartphone. Eh, masih ada DVD-RWnya lagi. Biasanyakan kalau pakai DVD-RW badan laptop jadi tebal ini enggak tebalnya cuman 25.3 mm. Tipis banget ya untuk sebuah komputer jinjing.

slim
http://www.acerid.com/2013/10/acer-aspire-e1-432-notebook-tipis-dan-hemat-daya-berkat-prosesor-intel-haswell-4th-gen


Meskipun tipis tapi Acer Aspire E1-432 memiliki ‘ colokan ‘kemana saja’. Tersedia tiga buah port USB (salah satunya USB 3,0), sebuah card reader buat membaca SD card dan MMC. Buat yang amateur jepreter seperti saya itu manfaat banget. Memudahkan jika ingin langsung memindahkan hasil jepretan ke draft laptop.


amateur jepreter lagi eksyen


Ohya jangan lupa ya Acer seri ini bisa untuk wifia-an. Jadi kalau bepergian kita bisa terhubung dengan jaringan hotspot disekitar kita. Keren.
Tambah melonjak lagi waktu baca kapasitas batrenya bisa tahan sampai 6 jam buat nonton film, whuaaaa…bakalan betah.




Dan tahu ga kenapa AcerAspire E1-432 ini bisa luar biasa begitu adalah karena menggunakan prosesor Intel 4th Gen terbaru atau lebih keren dikenal dengan Haswell. Intinya dengan prosesor ini Acer E1 Sllim series ini mengalami peningkatan kinerja yang sangat signifikan. Cepat iya (RAM DDR3 sebesar 2GB), muat banyak iya (HD 500 GB),  batrenya juga awet. Produk yang seperti ini bisa jadi impian semua orang. Dan terkaget-kaget juga waktu tahu harganya yang terjangkau. Ga sampai lima jeti. Tepatnya sih Rp.4.749.000,-. Kan lumayan kalau budgetnya lima jeti sisanya bisa buat nambah-nambah buat beli bawang. Xoxoxoxo…. :)))…..dengan Acer E1 Sllim series..dijamin acara ngeblog pasti lebih menyenangkan. Jangan sampai karena alasan berat ketika bepergian blognya jadi lumutan. Kalau itu sampai terjadi gelar Emak-EmakBlogger bisa langsung luntur….hahahaha….


“Tulisan ini diikutsertakan dalam event “30 Hari Blog Challenge, Bikin Notebook 30% Lebih Tipis” yang diselenggarakan oleh Kumpulan Emak Blogger (KEB) dan Acer Indonesia.”



Kamis, Oktober 24, 2013

Bayangkan! Semakin Tipis, Semakin?

Tipis itu Produksis (Produktif dan Eksis).....^.^

Ngeblog sambil momong baby...^.^


Bagi emak-emak seperti saya kosakata produktif itu rasanya keren banget. Saya yang sehari-hari bau daster ini kalau sudah ditempeli kata produktif gitu berasa WAH…hehehe…..#berasaseleb…:P

Kalau kata mbah gugel sih produktif  itu
·        bersifat  atau  mampu menghasilkan (dalam jumlah besar), mendatangkan  (memberi,  hasil,  manfaat, dsb) menguntungkan,
·        mampu menghasilkan terus dan dipakai secara teratur 

Hahaha malah njelimet…..kalau kata temen saya, produktif itu pandai memanfaatkan waktu dan menghasilkan karya. Waduh masih terlalu tinggi bagi emak-emak kayak saya…kalau menurut saya sih produktif itu cukuplah “Hari ini lebih baik dari kemarin dan esok lebih baik dari hari ini” hehehe…..#maksa.

Bekerja dirumah sambil di 'bantu' (di bantu bikin kacau, wkwkwk) oleh anak-anak


jadwal Outing bersama anak-anak saya yang bersekolah di rumah (Homeschooling)


Kalau mengikuti kata hati sih rasanya saya sudah produktif. Kurang apa coba? Ngurus anak lima, tanpa asisten (pake asisten ribet, kebelet pengen punya nyarinya susah….>.< ), sudah gitu anak-anak homeschooling alias belajar dirumah secara mandiri bersama emaknya yang sok produktif ini….. Saya akui tinggal dirumah itu nikmat apalagi sambil liat usaha lancar, ngeliat kulkas penuh, wadah beras penuh, gas penuh, listrik nyala (eh ga juga ding kadang byar pet), keluarga dan anak-anak sehat rasanya hidup itu cukup banget buat saya. Tetapi apa hidup hanya sekedar itu. Saya pernah tertohok ketika dosen saya pernah bilang bahwa beliau merasa bersalah ketika tidak bisa melakukan apapun untuk membantu para petani di Gunung Kidul yang tanamannya terserang hama uret padahal beliau seorang Doktor ahli insect pathologhy lulusan Tokyo ”…..”saya merasa bersalah jika tidak berkarya”…Oh my..kemana saya selama ini?.....soalnya waktu itu saya komentar “ya mau  bagaimana lagi Pak lha wong kondisi geografisnya memang membuat uret betah disana”….#komentar asal keluar…kelihatan banget bloonnya…dan kelihatan ga mau mikirnya…#disambit arit sama petani se-Gunung Kidul.

Tapi sejak itu saya benar-benar ikut merasa bersalah jika tidak berkarya untuk kebaikan. Bukan untuk mencari popularitas tapi benar-benar menerapkan  “ manusia yang terbaik adalah yang memberi manfaat bagi orang lain”

Lalu apa hubungannya dengan saya sekarang ini. Sejak itu saya bertekad meskipun akhirnya saya memilih dirumah bukan berarti saya tidak bisa memberi manfaat bagi diri sendiri dan orang lain.
Ngeblog adalah cara paling sederhana buat produktif meskipun dirumah. Blogwalking ke ‘rumah-rumah’ teman sesama Kumpulan Emak-emak Blogger  yang  lain. Mengambil manfaat dari banyak karya hebat mereka. Bahkan saking hebatnya mereka, saya sering tidak berani meninggalkan koment takut salah…hehehe…padahal mereka sangat welcome…#dasaremakminder ^_^

Membaca dan Menulis adalah cara paling sederhana buat saya dalam berkarya.
Ibnul Jauzi pernah berkata dalam autobiografinya; " Aku menulis dengan jariku ini sebanyak dua ribu jilid” Oh well…dua ribu jilid?....pake tangan, dengan tinta bulu ayam?...mana pakai nangkap ayamnya dulu lagi (hehehe, abaikan yang terakhir), bayangkan?...MashaAllah.

Atau seperti kata Pramoedya Ananta Toer: “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”….

Selama ini saya memanfaatkan netbook butut milik saya. Yang saking beratnya sudah berkali-kali jatuh jika dibawa anak-anak. Netbook yang pinggirannya sudah mangap karena terhempas saat di bawa kesana kemari oleh si kecil. Harap maklum dirumah kami internet adalah salah satu sumber belajar. Kalau anak-anak saya bangun begitu banyak pertanyaan yang muncul. Jadi ‘bu guru’ ini harus mencari akal agar jawaban yang disampaikan itu benar-benar jawaban yang bisa dipertanggung jawabkan. Kami biasanya mencari jawaban kalau tidak di buku ya di mbah gugel. Otomatis butuh sekali dengan perangkat komputer yang memadai. Selama ini pilihannya ada pada PC yang di khususkan untuk menunjang usaha saya di rumah, netbook jadul milik saya, dan tablet yang seringnya malah jadi bahan rebutan dengan anak-anak saya. Apalagi struktur jari saya jempol semua. Sering typonya. Repotnya kalau kami outing di luar. Membawa netbook yang segedhe bantal bayi itu terasa sekali repotnya. 

Saya juga memanfaatkan netbook butut ini untuk mengajar para emak di kampung saya. Dalam rangka mencoba memberi manfaat dengan berbagi ilmu, saya dan teman-teman mendirikan “Emak School” postingan bisa dilihat disini dan disini . Saya mengajari ibu-ibu ini sambil nggendong bayi usia 13 bulan dan momong balita 3,5 tahun….jadi bayangkanlah emak-emak sok pinter (karena pegang leptop tapi digondeli bayi dan balita) nyerocos ke sana- kemari sambil di tanggapi cekikikan oleh para ibu-ibu tetangga…hahahaha. Jangan bayangkan emak school ini kayak kelas parenting keren dengan fasilitas mewah ya. Kelas ini hanya sebuah tempat di pojokkan ruang TK PKK beralaskan tikar butut dan makalah fotokopian. Meskipun demikian rasanya bahagia melihat semua yang hadir bersemangat.
lagi eksyen di kelas " Emak School"


inilah kelas " Emak School" kami..riweuh ya...>.<




Saya membayangkan jika memiliki perangkat yang lebih tipis dan ringan pasti sangat memudahkan emak-emak saperti saya. Sambil gendong anak masih bisa melakukan banyak hal. Harapannya sih meskipun tipis kemampuannya mengolah data harus memadai. Apalagi bisa untuk nyetel DVD-RW…karena lapi saya ga bisa untuk nyetel DVD-RW. Oia kalau bisa trackpadnya jangan terlalu licin ya (banyak maunya)..jadi yang agak ngrundul-nggrundul gitu…^_^. Selain itu yang batrenya tahan lama, biar ga repot ngecharge terus..bahaya kalau bawa anak-anak sering deket-deket sumber listrik. Bisa-bisa jadi mainan si kecil kabelnya. Bahaya!!! Selain itu emaknya jadi ga konsen juga. Hehehe. Kecepatan mengakses internet juga harus kenceng. Bisa wifi-an jadi kalau pergi masih bisa ngenet. Bisa untuk presentasi (lagaknya kayak emak-emak kantoran aja ) jadi segala colokan ke ' mana saja' harus ada. 
Dulu rasanya aneh ngeliat laptop yang tipis, ringan tetapi performa maksimal. terkaget- kaget juga waktu melihat produk Acer Aspire E1 Series apalagi waktu tahu harganya terjangkau. Ya Harapannya sih, dengan perangkat yang memadai saya menjadi lebih produktif dan bisa bermanfaat bagi sesama ^_^....


“Tulisan ini diikutsertakan dalam event “30 Hari Blog Challenge, Bikin Notebook 30% Lebih Tipis” yang diselenggarakan oleh Kumpulan Emak Blogger (KEB) dan Acer Indonesia.”

Selasa, Oktober 15, 2013

Ied Mubarak






Bonne fête de l'Aïd El-Kebir



، اَللّهُ اَكْبَرُ،اَللّهُ اَكْبَرُ،اَللّهُ اَكْبَرُ، لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللّهُ اَللّهُ اَكْبَرُ، اَللّهُ اَكْبَرُ، وَلِلّهِ الْحَمْدِ



Senin, Oktober 14, 2013

Pantai Kartini dan Sepenggal cerita ubur-ubur yang malang

mencoba merenung ala RA. Kartini..tapi ga bisa lama (panas oyy)



Liburan di pantai itu memang menyenangkan. Meskipun sering banget berkunjung ke pantai kami tak pernah bosan. Apalagi di Yogyakarta berderet pantai-pantai indah. Mulai dari Parangtritis (yang sekarang ga indah lagi ) sampai deretan pantai-pantai di Gunung Kidul yang berpasir putih serta pemandangan sunsetnya yang amazing itu.
deretan kapal yang siap mengantar pengunjung menyebrang ke Pulau Panjang











Kali ini kami sekeluarga mengunjungi pantai Kartini di Jepara, Jawa Tengah. Pantai ini di beri nama pantai Kartini karena konon dulu sering digunakan oleh RA. Kartini untuk melarikan diri kebisingan (jiaah, kebisingan, apa coba?). Pantai ini bisa ditempuh sekitar dua jam naik mobil dari kota Kudus. Karena kebetulan kami saat itu menginap di Kudus. Tapi jika ingin menginap disekitar pantai sepertinya tersedia penginapan terjangkau. Karena pantai ini banyak dijadikan tempat pemberangkatan jika ingin mengunjungi Karimunjawa.



kapal untuk menyebrang ke pulau



pelampung tersedia di setiap kapal. tapi sepertinya tidak sesuai jumlah penumpang


Penyu, Ikon pantai Kartini










Ikon pantai Kartini itu gedung berbentuk Kura-kura atau penyu...............kayaknyanya Penyu deh..hehehe. Pantainya berbatu-batu. Dan asyiknya kita bisa nyebrang ke pulau Panjang. Hanya sekitar 10 menit dari pantai juga keliatan. Kalau mau ke Karimunjawa naik speedboat sekitar dua jam kalau naik kapal..haduh ga tau deh nyampainya kapan..hahaha…kalau mau ke pulau Panjang cukup bayar 13 rebu per-orang. Kalau mau ke Karimunjawa sekitar 110 ribu per-orang (pakai kapal). Tapi memang kalau ke Karimunjawa ada jam-jam dan hari-hari tertentu tertentu kapalnya berangkat. Karena kami bawa anak-anak segambreng dan tidak persiapan juga mau ke Karimunjawa akhirnya kami ke Pulau Panjang saja..entar ke Karimunjawanya berdua aja sama bapaknya  :D….
Sebenarnya jika mengikuti standart kemanan penyebrangan dengan kapal kita harus menggunakan pelampung. Tapi saya malu mengenakannya. Mosok saya sendiri yang pake, eh, disebelah ada anak-anak naik dan langsung memakai pelampung..jempol deh untukmu Nak...


gerbang selamat datang




sepertinya tulisan ini tidak memberi pengaruh apapun :(






salah satu vegetasi / tanaman yang ada di pulau Panjang (ga tau namanya)









Oia pulau Panjang itu sebenernya indah banget. Pasirnya putih, banyak pohon-pohonya. Sayangnya kurang terawatt. Fasilitasnya kurang memadai. Aku gemes liatnya bayangin kalau dilirik orang asing pasti sudah berdiri bungalow-bungalow keren disitu dan harganya mahal dan orang-orang kayak saya jadi ga bisa masuk lagi…pilihan yang rumit..ciaaa, Ah, sudahlah biar pak Beye yang mikirin…:P
Ada warung-warung kecil disana. Ya, lumayanlah kalau mau cari Pop Mie (maaf sebut merk), segelas es teh atau sebotol Mizone….sayangnya kotak sampahnya sangat-sangat-sangat tidak memadai. Harapannya sih mungkin pengunjung membawa kembali sampahnya. Tetapi pada kenyataannya malah pada buang ke laut…haduh pengen nangis saya…..asli pengen nangis, pulau seindah ini tidak lama lagi hanya menjadi tempat gunungan sampah.




pulau Panjang diliat dari kapal..pantainya pasirnya putih banget





Saya sudah wanti-wanti sama anak-anak bahwa tidak diperkenankan membawa apapun mahkluk hidup dari pantai ini. Karena mereka tidak akan bisa hidup kalau kita pelihara..coba piker emang dese bisa nyediain air laut setiap hari. Tetapi sedihnya lagi, hampir semua pengunjung membawa pulang botol yang isinya ikan-ikan mungil sejentik, ubur-ubur bahkan kerang-kerang dan kepiting laut. Sepertinya kita memang harus mengajarkan dengan benar-benar pada anak-anak kita bahwa sesuatu itu sudah di berikan tempat yang paling sempurna, jika kita memindah habitatnya ke tempat lain tanpa alasan yang ilmiah (semisal untuk penelitian) maka itu sama dengan berlaku dzalim pada makhluk hidup tersebut.  Saya sampai gimana gitu ketika teman seperjalanan kami membawa botol yang isinya ikan hias dan ubur-ubur hasil tangkapan anaknya. Ada rasa bangga terselip karena bisa menangkap ikan. Dan melihat wajah anak saya yang kecut karena saya minta mengembalikan kepitingnya kembali ke laut. "Nak, Emak berharap ketika di masa depan kau bisa mengingat moment ini dan mengambil pelajaran". Amin



Saya jadi merenung, mengajarkan matematika bisa dalam waktu 6 bulan sudah kelihatan hasilnya tetapi nilai-nilai luhur perlu waktu bertahun-tahun. Nilai-nilai luhur seperti membuang sampah pada tempatnya, menghargai makhluk hidup, dan sejenisnya itu butuh kesabaran. Tetapi jika tidak diajarkan seperti apa masa depan mereka kelak?..#selfreminder…




Sebagai oleh-oleh kami memilih membeli kaus bertuliskan Pantai Kartini dan Karimunjawa, okelah belum sampai Karimunjawa nyicil kaosnya dululah...hahahah. Ini lebih baik daripada bawa botol berisi ubur-ubur yang ujung-ujungnya hanya mati. Sebenarnya kita bisa membawa pulang kerupuk ikan dan ikan asin. Tetapi saya langsung menolak, kepikiran nanti di mobil baunya kemana-mana….
Setelah puas keliling dan main air, kami kembali ke pantai. kemudian leyeh-leyeh dulu menikmati indahnya pantai..dan pulang deh.....

Kamis, Oktober 03, 2013

Burlian Pasai...serial anak-anak Mamak oleh Tere Liye

hari pertama #31hariberbagicerita 


agak burem, njepretnya malem sih ....>.<


“Begitu pula sekolah Burlian, Pukat. Sama seperti menanam pohon…pohon masa depan kalian. Semakin banyak ditanam, semakin baik dipelihara maka pohonnya akan semakin tinggi menjulang. Dia akan menentukan seberapa baik kalian menghadapi kehidupan. Kalian tidak mau seperti Bapak, bukan? Tidak sekolah, tidak berpendidikan, tidak punya pohon raksasa yang dari pucuknya kalian bisa melihat betapa luasnya dunia. Menjadi seseorang yang bermanfaat untuk orang banyak. Kau akan memiliki kesempatan itu Burlian, karena kau berbeda. Sejak lahir kau memang sudah special. Juga Kau Pukat, karena kau anak yang jenius”


Kalau ditanya siapa penulis favorit saya. Jawabanya ada banyak #dasar ga punya pendirian..tapi  jujur saya punya banyak bukunya bang Tere Liye..pake bang ya…soalnya dulu gue kira Tere Liye itu perempuan. Makanya aku kalau ditanya pengarang bukunya ini siapa aku jawabnya mbak Tere Liye #ampoon ya Bang tere…^^

Nah buku yang mau saya resensi ini adalah satu dari empat seri dari serialnya anak-anak mamak. Tiga bukunya sudah keluar nah yang terakhir Amelia katanya keluar bulan Oktober ini. Kita tungguin aja bareng2 ya…#sambil elus2 dompet..^_^


Judul buku  : Burlian
Penulis     : tere Liye
Penerbit      : Penerbit Republika
Jumlah halaman: 343 halaman
Cetakan pertama : November 2009


Burlian ini adalah nama anak kedua dari si mamak. Si Burlian ini punya julukan Spesial. Si mamak dan bapak meskipun tinggalnya dipelosok di kaki bukit barisan sana ngerti banget deh kayaknya tentang cara mendidik anak. Buktinya semua anaknya punya julukan luar biasa. Si Burlian ini anaknya cuek tidak seperti abangnya yang serius banget. Tapi orangnya outstanding deh. Setia kawan dan idenya banyak. Dan juga nekat.
Ada 24 part dalam novel ini. Semuanya diceritakan dengan apik dan deskripsinya itu loh. Apalagi bahasa ala Melayunya itu yang buat saya kesengsem sama tulisan Bang Tere. Harap maklum saya #fansTereLiyeGarisKeraz..:)….


Kisah si Burlian ini diceritakan dengan apik sama bang Tere. Tahulah gimana seorang Tere Liye kalau menggambarkan sosok seseorang. Kita jadi kayak kenal banget sama si Burlian ini. Apalagi dikisahkan si Burlian ini termasuk jenis anak yang berani mencoba sesuatu dan kadang melanggar larangan…ada satu moment dimana si Burlian ini terjebak di sebuah lubuk yang berisi buaya ganas. Waktu baca aja saya sampai tahan nafas. Ga sabar membalik halaman mencari tahu apa yang terjadi dengan si Burlian special ini…#gethok kepala Burlian.
Dibalik moment yang bikin geli ada juga saat-saat yang membuat saya sampai menangis sesenggukan dipojokan kamar. Iya beneran nangis. Ketika bapak bercerita pada Burlian tentang ketulusan cinta mamak padanya. Pokoknya baca sendiri deh part yang ini. Kalau ga nangis gue sumpahin yang baca di entup tawon…(hahaha).

Ada juga cerita tentang mudahnya si Burlian ini kenal dengan banyak orang akhirnya membawa keberuntungan buatnya. Dimana akhirnya si Burlian bisa keluar juga dari kampong pelosok di kaki bukit Barisan itu dan mengecap pendidikan sampai ke Tokyo. Disini di ceritakan tentang semangat, tentang impian tentang cita-cita dan harapan. Tentang kasih sayang dan ketulusan.

Dari kisah Burlian ini juga saya belajar bahwa menjadi seorang mamak atau ibu itu tidak melulu lembut, halus dan menuruti semua permintaan buah hatinya. Ada saatnya juga sosok ibu menunjukkan pada anak-anaknya bahwa mereka bisa marah juga pada anak-anak. Bahwa cinta itu tidak melulu tentang mengerti pendidikan anak ala buku-buku psikologi. Cinta itu berbicara tentang ketulusan. Tentang pengorbanan. Tentang kasih sayang dan keikhlasan. Saya sampai kaget juga waktu baca gimana sosok si mamak ini yang galak dan teguh pendirian. Hahaha ini mah gue banget #caripendukungceritanya….>.<….

images from: flickr


Eniwey….cerita di novel ini benar-benar membuka mata tentang mendidik dengan tulus. Mencintai tanpa pamrih dan berkorban dengan ilmu. Banyak twistnya juga yang ga terduga-duga. Rugi kalau ga baca.

Cuman ga sregnya sama novel ini, sampulnya tipis. Jadi mudah ketekuk-tekuk…secara saya ini ga setiti kalau punya barang. Apalagi pembaca dirumah saya ga cuman saya. Si baby yang umurnya 13 bulan itu juga suka bongkar-bongkar rak buku. Jadi gitu deh….


Mungkin resensi ini ga begitu jelas. Untuk lebih jelasnya baca aja bukunya…harganya murah koq..ga lebih mahal dari harga sepatu apa dompet…wkwkwkwk..selamat baca buku aslinya yaaaa…..