Ketika anakku TIDAK SEKOLAH jilid I


           































                 Apa yang anda bayangkan dan ucapkan  ketika melihat seorang anak tidak pergi kesekolah dipagi hari, bukan waktu libur. "Dasar pemalas, pembolos," atau "Orangtuanya kemana sih", atau "Kasihan" atau "Sebodo teuing, anak anak orang bukan anak gueh"....
           Ketika saya dan anak-anak memutuskan untuk tidak sekolah begitu banyak jawaban yang akan kami persiapkan jika orang bertanya. Bahkan saya sendiri membuka banyak referensi agar bisa menjawab pertanyaan orang yang berkaitan dengan tidak sekolah ini. Sampai akhirnya saya sadar kenapa sekarang subyeknya adalah orang lain bukannya anak-anak yang notabene adalah sebagai pelaku. Tapi butuh waktu berbulan-bulan agar kami tidak peduli dengan banyak pertanyaan orang diluar sana. Saya hanya perlu meyakinkan diri kami sebagai orang tua dan juga anak-anak agar kami bisa mencapai semaksimal mungkin apa yang kami harapkan. 
         

         Saya berharap banyak agar anak-anak mendapatkan pendidikan yang terbaik dan bagus. yang ramah anak dan ramah otak. tapi semakin saya menunjukkan kriteria yang saya inginkan semakin kecewa saya dengan kenyataan. semakin saya berharap semakin tinggi dilangit harapan itu menggantung. Seperti kata Ayah Edy penggagas Indonesia Strong From Home     



"Banyak orang berpikir agar Negeri ini bisa berubah mestinya presidennya harus begini, menterinya harus begitu....
Mengapa kita terus berharap pada orang lain, mengapa kita terus berfokus pada apa yg tidak bisa kita lakukan." (Ayah Edy, Indonesia strong From Home)

Banyak keluarga yang heboh menjelang tahun ajaran baru seperti sekarang. Karena pendidikan adalah prioritas utama bagi banyak keluarga. Memang pendidikan adalah investasi abadi bagi setiap orang. Tapi bagi keluarga kami tahun ajaran baru seperti hari biasa. Bukan berarti kami mengabaikan pendidikan bagi ke5 buah hati kami. Bahkan pendidikan menjadi pilar dalam keluarga kami. Bahkan bagi kami keharusan untuk terus belajar menjadi kewajiban yang harus dipenuhi. Bukan apa-apa, karena ke-4 anak-anak kami tidak menempuh pendidikan normal. Mereka bersekolah dirumah (Homeschooling).
Banyak orang tidak bisa membedakan tidak sekolah dengan bersekolah dirumah. Sekolah hari ini adalah di gedung bagus, seragam keren dan bersepatu. Duduk manis mendengarkan guru dan menjawab ketika ditanya. Adalah sebuah keanehan melihat anak belajar sendiri, mengaduk pasir, menimbang adonan roti didapur pada jam-jam sekolah. Bagi kami sekolah bisa dimana saja tidak terikat waktu dan ruang. Belajar matematika bagi anak-anak adalah membawa uang dan kantong belanja ke pasar. Memilih bahan untuk dimasak dan menawar harganya dan kemudian membayarnya. Belajar sains bagi anak-anak adalah terjun langsung kesawah, menangkap kodok, menghitungnya, melihat cara hidupnya dan kalau perlu memelihara telurnya didalam toples dan menyimpannya dikamar tidur. Dulu saya harus berpikir keras bagaimana mengajarkan nilai pecahan matematika pada anak-anak. Ternyata, membagi pizza ataupun cake bundar dan mengiris semangka adalah cara mudah menghitung pecahan. Belajar bahasa asing tak harus mahal biarkan anak bertanya tentang apa saja dan jawablah dengan bahasa asing yang kita kuasai. Jika sebagai ibu kita belum bisa bahasa asing ya belajarlah bersama anak-anak. Percayalah itu akan lebih mudah dibanding kita belajar sendiri. 



Anak-anak yang bersekolah dirumah juga tidak kekurangan teman. Malah mereka bergaul dengan siapa saja dibanyak tempat. Mereka bertemu orang baru setiap hari. Ya sejak anak-anak bersekolah dirumah sebagai ibu saya banyak belajar hal baru. Dan saya kadang takjub dengan semangat pembelajar anak-anak. Mereka belajar karena dua hal: ketidaktahuan dan keingintahuan. Ah rasanya menyenangkan jika kita terus belajar hal-hal baru seperti anak-anak.




Harus kami akui betapa cobaan kami sangat besar membentang didepan kami. tapi bukankah seperti kata pepatah bahwa " kapal yang berlabuh di dermaga akan aman dari badai dan gelombang tapi bukan untuk itu tujuan kapal itu dibuat". Ya-Ya, setiap masalah sebenarnya adalah pelajaran hidup yang akan semakin menguatkan kita. Dan saya ingin anak-anak juga belajar langsung pada kehidupan. Target kami saat ini sederhana (?) bukan anak pandai matematika, pandai cas-cis-cus bahasa asing atau mengerti semua percobaan IPA yang tampaknya terpelajar dan ilmiah itu (yang sejatinya sederhana) target kami sangat sederhana (?) yakni: ketika Adzan salat memanggil mereka sudah tidak perlu lagi diingatkan untuk salat, dan langsung berlarian kemasjid untuk berada dibarisan paling depan, yang ketika selesai salat mengangkat ke-2 tangannya mendoakan emak dan bapaknya yang banyak dosa ini dan senantiasa untuk "IQRA" segala hal yang memang membuat mereka menjadi manusia yang lebih baik dari hari kemarin dan mengerti untuk apa mereka diciptakan.


Kadang-kadang terselip rasa'minder' ketika melihat anak kerabat, tetangga atau teman yang baru saja mendapat pelajaran tambahan ini-itu disekolah yang sepertinya terlihat hebat. Tapi kemudian saya kembali mematut diri. Ada banyak hal yang dipelajari oleh anak-anak dibandingkan teman-temannya yang sekolah disekolah formal. 


 ini adalah foto jepretan Usamah (kebetulan dia sangat visual), karyanya lumayan 'aneh-aneh'


Seperti beberapa waktu lalu saya agak gemes dengan kemampuan anak-anak dalam masalah penambahan dan pengurangan. Mereka tidak mau mengerjakan latihan soal matematika jika lebih dari 3 angka (maksudnya ratusan). OKE pelajaran saya hentikan. Esoknya saya menceritakan pada mereka tentang gugatan Apple pada Samsung yang berbuah 9 trilyun untuk Apple. Saya minta mereka menghitung jumlah angka nolnya. " Lihat bagaimana mereka tidak menguasai dunia, angka nol dibelakangnya saja ada DUABELAS. Sedangkan kita masih pada tahap menghitung ratusan saja sudah tidak mau. Bagaimana bangsa Yahudi tidak menindas kita ketika mereka hitungan sudah sampai trilyunan kita baru masuk ratusan udah gitu masih salah lagi".....hehehe, sejak itu anak-anak tidak pernah sudi lagi diberi soal pada tahap ratusan. Mereka sudah jutaan dan milyaran. Meskipun sekarang mereka sudah menggunakan komputer untuk berhitung. Tapi saya ingin mereka berpikir bahwa ada hal yang penting dan krusial kenapa kita harus belajar matematika. Bukan nilai atau pujian yang dikejar. Tapi jauh lebih mulia daripada itu.
Sungguh saya takjub dengan kemampuan belajar setiap anak. Sungguh anak-anak adalah pembelajar sejati. Teruslah Belajar Nak....ada banyak hal INDAH diluar sana.
Si gadis Manis

“Barangsiapa yang diberi cobaan dengan anak perempuan kemudian ia berbuat baik pada mereka, maka mereka akan menjadi penghalang baginya dari api neraka.” (HR. Al-Bukhari no. 1418 dan Muslim no. 2629)

Al-Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa Rasulullah  menyebutnya sebagai ibtila’ (cobaan), karena biasanya orang tidak menyukai keberadaan anak perempuan. (Syarh Shahih Muslim, 16/178)

             Sebagai seorang mamak dengan lima anak jangan pernah bayangkan rumah kami sepi dari keributan dan kegaduhan. sebelum subuh rumah saya sudah heboh. bahkan sampai malam menjelang. diantar lima orang itu nyelempit satu gadis cantik julita...saking jelitanya jadi julita. yah sudah nasibnya terlahir diantara 4 orang sodara lelakinya. sudah begitu dia anak ke-3 alias tepat ditengah-tengah jagoan ganteng abang-abang dan adek-adeknya.hufff sempurna sudah nasib (?) nya...

             Tapi saya sadar...gadis kecil ini sebenarnya adalah kembaran masa kecil saya, lasak, ga bisa diam, sok tau (banget), sok pinter (hehehe), dan atribut lain yang melengkapi sosoknya sebagai gadis kecil 'pecicilan'. pernah sehabis bermain dia menceramahi abang2 dan adek2nya..
"MasyaAllah,...dibilangin malah ngeceeeeeee"...ya ampun..ini kan gue banged (banget nya pake D, udah gitu ngomongnya kaya keselak biji duren..bhuuuangeeeddd)...kata suami, bener-bener kayak emaknya. Ya Alloh...ampun, karma gue udah keluar... :D

             Gadis ini sebenernya manis (sekali, hehehe pake sekali)... tapi saya ga kuat kalo rengekannya sudah keluar. sekali dia merengek dipagi hari. mood saya langsung ambles sepanjang hari.hadeeh...benar-benar ga nguatin. makanya diantara ke-4 saudaranya hanya dia yang giginya gigis. semua saudaranya bergigi bagus, putih, rapi dan cemerlang. sedangkan doi gigi depannya lintang pukang. bukan apa-apa saya ga tahan dengerin rengekannya kalo mau sikat gigi dimalam hari. mending langsung tarik selimut daripada memaksa dia gosok gigi....kalo yang lain cukup diingetin langsung "siap laksanakan" lah yang ini pake acara ngesot, merengek, mewek, berlinangan airmata (belum ditinggal perang aja udah bersimbah airmata), keluar deh gaya rayuan mautnya itu loh. kadang-kadang saya ga habis pikir...jangan2 saya banyak amnesianya nih, kalo sebenernya sana kecil juga begini cuman saya aja yang lupa.
             Jujur dia hampir bisa dibilang 'musuh ' saya sepanjang hari...hahaha, berbeda dengan bapaknya..sstttt, doi kesayangan ayahnya...bener deh kalo Pakdhe Paul Walker bilang "anak gadis membuat lembut hati ayahnya" heeeeeeeeh..emang bener kali ye. klo si bapak lagi keluar kota klo nelpon lama banget pas digiliran dia. emaknya aja cuman say hello ajah, belum selesai emaknya laporan, si bapak sudah nanyain anak perawannya...si emak punya saingan sekarang.
             Tetapi diantara semua badai itu...tetap tersimpan satu harapan besar dipundaknya....bukankah Allah menjanjikan bahwa anak perempuan yang di didik dengan baik sampai ia dewasa kelak menjadi penghalang orangtuanya dari api neraka. Subhanallah..
paling tidak ia bisa bantu-bantu emaknya (eh kayaknya ga juga), ada yang bantuin sebagai Toa jika emaknya butuh bantuan untuk memanggil saudaranya yang lain. ia benar-benar bisa diandalkan :D...suaranya itu loh, bikin abang-abangnya ga tahan kalo dipanggil ga nyahut..hahaha
tapi saya dan suami juga sadar betapa ujian kami dalam mendidiknya sudah tertampang didepan mata. mangkanya dari sekarang saya dan suami lumayan ketat menjaganya. padahal hobbynya ga jauh beda dengan saudara lelakinya. main sepeda, manjat pohon, main bola, berenang, nangkap belut disawah, ngejar belalang disawah, etcetera....hadeeeh..mumet emaknya.
maka nya tak heran begitu panjang doa saya untuknya. karena saya tau penjagan kami sebagai orang tua sangat terbatas maka saya langsung memohon pada Penjaga Yang Maha Hebat untuk menjaganya. apalagi jika membaca berita-berita dikoran.deg-deg an saya dibuatnya. tapi sungguh Hanya Allah lah tempat kami bersandar
Ya Allah Dzat yang tidak pernah tidur, jagalah Gadis kami ini dari kejahatan Jin dan Manusia. Tetapkanlah ia selalu dalam lindungaMu, berilah dia limpahan hidayah dan Rahmatmu. sungguh aku mencintainya karena engkau ya Allah. dan semoga kelak ia menjadi hiasan mata yang indah karena ke Shalihahannya dengan sempurna menutup auratnya dan menjaga kehormatan diri dan keluarganya dan dikarunia keturunan yang shalih -shalihah. amin Ya Rabb.

waktu luang Untuk anak Kita

 
            Jika kita menunggu luang waktu untuk menemani anak-anak kita, maka masa itu adalah ketika kita tua. Itu pun amat mungkin kita masih sibuk dengan berbagai urusan. Tetapi tatkala kita telah begitu banyak memiliki waktu luang, anak-anak sudah beranjak dewasa. Mereka tak punya waktu untuk kita.... sebab kita tak mengajari mereka untuk sengaja meluangkan waktu Adakah itu akan terjadi pada kita? Maka saat berharga untuk anak kita, manfaatkanlah. Selagi anak-anak itu amat memerlukan perhatian kita, luangkan waktu untuk membersamai mereka. Hari ini, sudahkah engkau berbincang bersama mereka? Bukan sekedar berbicara kepada mereka.(Mohammad Fauzil Adhim)

        
“Anak batita, menurut kamus, adalah anak kecil yang baru bisa berjalan atau berjalan dengan langkah terhuyung-huyung. Menurut kata orang bijak anak kecil dengan langkahnya yang kecil akan menjerumuskan anda ke dalam masa-masa paling menjengkelkan dalam kehidupan anda sebagai orang dewasa. Beberapa orang menyebutkan mereka mengesalkan, sebagian lagi menyebut mereka mengagumkan (tapi saya menduga orang-orang ini tidak pernah mempunyai anak batita dalam hidup mereka). Dan bagi saya anak batita adalah mengagumkan dan sekaligus menjengkelkan.

hari-hari saya bersama lima anak yang semuanya adalah mainan dengan batre yang tidak pernah soak. apalagi 3 diantaranya adalah Balita. sampai pernah saya merasa benar-benar kelelehan luar biasa. menghadapi tingkah mereka yang kadang diluar nalar saya sebagai orang dewasa. bahkan kadang berpikir jangan2 sebenarnya ini adalah saya ketika kecil dulu. mereka adalah potret sejati diri saya dan suami. mereka adalah diri saya mini.


  Dari sekian alasan saya untuk tetap dirumah dan tidak bekerja pada satu instansi adalah agar dapat menemani anak-anak tumbuh dan berkembang menjadi muslim yang baik. lebih baik dari emak dan bapaknya. dulu saya sangat pede lho dengan kata-kata ini. tetapi kemudian hari saya menyadari saya ternyata HANYA BERMULUT BESAR. buktinya saya menemani anak disisa waktu luang setelah mengurus seluruh pekerjaan rumah. saya mendidik anak disambi masak, disambi mencuci pakaian, diselingi setrikaan menggunung, ditemani cucian piring berlemak, dan segudang urusan domestik lainnya. yang pada akhirnya anak-anak hanya mendapatkan waktu sisa. Ya Allah ampuni saya....saya tau dan sadar bahwa masa-masa penuh kerepotan mengurus anak-anak akan saya rindukan kelak dihari tua...saya yakin pasti saya akan merindukan masa sekarang. ketika mereka entah sudah dimana, mencari hidup mereka sendiri. tinggalah saya yang menyesali betapa sedikitnya waktu yang saya sisakan untuk mereka.

BAHAGIA ITU SEDERHANA




seorang anak menulis seperti ini:

"bahagia itu sederhana

nggak mesti bisa bahasa inggris
nggak mesti bisa matematik...
nggak mesti bisa komputer
nggak mesti ganteng
nggak mesti cantik
nggak mesti kaya
nggak mesti keluar negeri
nggak mesti keren
nggak mesti bisa bawa mobil
nggak mesti masuk UI
nggak mesti masuk UGM
nggak mesti masuk ITB
nggak mesti punya BB
nggak mesti punya i pad
nggak mesti punya galaxy tab
nggak mesti punya akun FB
nggak mesti bisa nge tweet
nggak mesti .....

# bagaimana pendapat anda....????

Emak School jilid II, MODUL untuk ANAK LIFE READY


Membesarkan anak adalah tugas monumental yang akan memberikan hadiah yang tak ternilai yang akan diterima setelah beberapa tahun bekerja keras. Betapa menyenangkan melihat mereka tumbuh besar dan sampai kemudian kita sadar ternyata hilang sudah semua kelucuannya ketika kecil. Betapa kita akan merindukan saat-saat bagaimana kesalnya kita atas tingkah polah mereka. Tapi semua itu tidak dapat kembali bukan. Berjanjilah mulai hari ini untuk mendampingi mereka dengan waktu yang sudah diberikan allah yang menjadi jatah kita. Semoga Allah memberkahi semua waktu kita yang kita habiskan bersama mereka.

           Stimulasi sederhana yang dapat dilakukan dirumah jika anda mempunyai anak usia 1, 3, dan 5. Ini adalah beberapa saran yang dilakukan untuk menstimulasi anak-anak tanpa harus mengeluarkan banyak uang untuk berbagai alat permainan edukatif buatan toko dan berat dikantong.
1.      Buat Peti Roti untuk didapur

Mengerjakan pekerjaan didapur menjadi lebih mudah dengan bantuan peti ini. Untuk anak usia dibawah 3 tahun pilih benda2 yang tidak mudah tertelan. Diutamakan juga benda yang tumpul(tidak berujung lancip). Peti roti ini bisa dibuat dari kardus biasa kemudian diisi dengan : cetakan kue dari plastik, mangkuk plastik, sendok plastik ukur, gelas ukur, sendok kayu, sendok plastik, piring plastik dan benda-benda yang menstimulasi anak untuk meniru anda untuk membuat makanan sehat. Bisa juga berbagai tiruan makanan sehat semacam sayur, buah, ikan, daging dll yang terbuat dari plastik. Untuk anak yang lebih besar dibuatkan clay dari tepung (pembuatan terlampir)

2.      Buat peti sibuk serba guna

Peti sibuk ini bisa dibuat dari kardus biasa yang lebih kokoh. Untuk anak-anak usia dibawah 3 tahun perhatikan dan pilih benda2 yang aman dan tidak melukai. Secara umum dapat disi dengan krayon, spidol warna-warni, buku mewarnai, kertas, pita, stiker, dll. Untuk anak yang lebih tua dapat disi dengan gunting, khusus anak-anak, cat air, plastisin, botol bekas beserta tutupnya, berbagai karton bekas susu berbagai ukuran, gelas plastik beraneka warna, jepitan baju warna-warni, majalah bekas warna-warni, batu beraneka bentuk, botol semprot bekas, sikat gigi bekas bersih, tali sepatu, magnet, kuas, paper clip, lem, kertas tisu, sapu tangan, sedotan,


3.      Peti panggung

Peti ini disi dengan berbagai aneka barang bekas untuk membantu mengembangkan daya imajinatif anak dalam bermain peran. Dapat diisi dengan: baju bekas ayah-ibu yang unik, sepatu hak tinggi, sepatu bot, topi coboy, syal, dompet, kartu-kartu yang sudah tidak terpakai, aneka topeng, rambut palsu kalau ada, gigi palsu dari plastik, kostum binatang jika memungkinkan, boneka yang bisa didandani,


4.      Peti hari hujan

Mendekati hari hujan dan terjadi dimusim liburan adalah hari paling melelahkan bagi para ibu. Buatlah peti  hari hujan. Gunakan hanya pada musim saja ya. Jadi bisa menjadi semacam kejutan buat anak-anak. Anda dapat mengisinya dengan : resep kue favorit, benda-benda untuk berhias diri, video baru, atau film baru, buku cerita bergambar baru, permaian an baru atau bisa juga barang-barang baru yang baru saja kita temukan dijalan. Semisal batu dengan bentuk dan warna unik, biji-bijian dengan bentuk aneh, atau apa saja yang nampak baru dan aneh.



Aneka stimulasi untuk anak life ready.



 SEHAT


Pekan pertama

1 +         

Bahan    : biskuit susu aneka bentuk (bagus lagi jika tengahnya berlubang), tali kasur bersih, buah anggur atau segala macam buah yang dipotong pas untuk dimakan anak-anak usia 1+, bagus lagi jika berasal dari buah lokal

Cara       : buatlah kalung dari aneka makanan tadi biarkan sikecil mencoba membuatnya sendiri. Untuk biskuit mungkin anda harus melubangi tengahnya dengan hati-hati. Jika ternyata bentuk nya jelek tetap saja menyenangkan buat anak-anak. Biarkan mereka memakai kalung tersebut dan memakannya diwaktu makanan selingan mereka.

3+

Bahan    : buah aneka warna dipotong sesuai selera, air matang atau air berwarna atau susu, cetakan es batu aneka bentuk

Cara       : memasukkan buah diwadah es batu penuhi dengan air atau sirup, atau susu. Bekukan. Setelah jadi biarkan anak-anak mengambilnya sendiri dan menyajikannya untuk makanan selingan mereka.

5+

Bahan    : pisau khusus yang tidak terlalu tajam, semua bahan makanan yang memungkinkan anak-anak membantu kita, resep sehat untuk anak life ready yang praktis, dan mudah dibuat

Cara       : biarkan anak-anak membantu memotong bahan, menguleg bumbu, membaca resep, mencicipi, menyiapkan bahan, mencuci peralatan, menyiapkan wadah untuk masakan, menyiapkan meja makan, dll.


PERCAYA DIRI

Pekan ke-1

1+

Bahan    : mainan favoritnya (bisa boneka, mobil-mobilan atau apa saja kesukaannya). Tali kasur atau benang wol.

Cara       ; ikat mainan tersebut dengan tali. Ulur tali sesuka anda. Sembunyikan mainan dimana saja, kemudian biarkan talinya terlihat. Minta anak mencari mainannya sampai ia menemukannya. Ulang sampai anak bosan (yang ada biasanya anda yang bosan ). Ini sangat memacu rasa percaya diri anak atas kemampuannya.

3+

Bahan    : selotip, botol bekas, atau kaleng bekas, atau kotak bekas makanan (misal karton susu)

Cara       : biarkan anak-anak membuat bentuk apa saja yang dia sukai. Semakin banyak bahan semakin  percaya diri anak membuat apa saja yang dia inginkan

5+

Bahan    :



MUDAH BERGAUL

Pekan ke-1

1+

Bahan    : undang anak-anak sebayanya makan selingan dirumah, biarkan mereka saling menghidangkan makanan. Atau bisa juga anda

3+

Bahan    : kotak bekas makanan, botol bekas, aneka bungkus bekas bersih, dll.

Cara       : buatlah semacam toko makanan dan biarkan anak berbagi tugas siapa yang menjaga toko dan siapa pembelinya atau tambahkan siap satpam, petugas cleaning service sdb.

5+

Bahan    : peti panggung

Cara       : biarkan anak bersama teman-temannya mencoba berbagai peran mereka inginkan dan gunakan bangku atau kursi sebagai panggungnya.


KREATIF

Pekan ke-1

1+

Bahan    : clay buatan

Cara       : biarkan anak membuat apa saja yang mereka inginkan. Atau minta mereka membuat sesuatu yang mereka sukai misalnya bebek mandi minta mereka membuat bebek mandi ala dia

3+

Bahan    : keluarkan majalah bekas warna-warni, gunting, spidol, krayon, lem, selotip

Cara       : bercereritalah tentang apa yang ada dimajalah dan biarkan anak membuat ala mereka apa yang ada di gambar. Tempel didinding hasil karya mereka. Minta mereka memberi nama hasil karya mereka. Jika memungkinkan foto hasil karya mereka dan biarkan mereka memperbaikinya dikemudian hari

5+

Bahan    : sesuatu yang bisa di jadikan ide untuk diputar terbalik

Cara       : berpikir secara terbalik. Sediakan sebuah benda. Kemudian minta anak untuk mencari ide lain apa fungsi benda tersebut selain yang sudah ada dengan hanya merubah posisinya misal: payung, selain untuk payung bisa untuk apa lagi. Biarkan mereka menyebutnya sesukanya>misal: untuk parabola, untuk pot atau untuk apa saja. Minta mereka menuliskannya atau menggambarkan nya sesuai keinginan mereka


BERJIWA PEMIMPIN

Pekan ke-1

1+

Bahan    : sediakan permainan yang bisa dimainkan bersama. Misal bermain bola.

Cara       : ajak anak bermain bersama teman atau saudaranya. Biarkan mereka bermain bersama. Biarkan anak-anak itu mengatur permainan mereka sendiri. Kita cukup mengawasi.

3+

Bahan    : beri permainan yang bisa dilakukan bergiliran, misal: ular tangga sederhana.

Cara       : biarkan anak bermain dan belajar menunggu giliran. Biarkan mereka sendri menegur temannya yang tidak sabar ketika menunggu giliran

5+

Bahan    : permainan yang bisa dimainkan bersama tetapi dengan aturan main yang lebih rumit semisal: monopoli, atau dakon, atau lego

Cara       : biarkan mereka bermain bersama. Anda hanya meminta mereka saling menjelaskan aturan main. Dan biarkan mereka mengajari temannya yang belum mengerti aturan mainan tersebut.

 temukan banyak ilmu tentang pengasuhan Anak Life Ready di http://www.facebook.com/home.php?ref=tn_tnmn#!/DancowParentingCenter?fref=ts

Nasihat bagi suami oleh ust. felix Siauw


mencintai dalam diam | bagus bagi yang belum sanggup | tapi dilarang bagi yang sudah dalam pernikahan :D
dalam pernikahan | sayang harus diungkapkan | karenanya berpahala di akhirat dan menyenangkan di dunia
suami terbaik adalah yang paling memuliakan istri | jadikan istri laksana putri, diistimewakan dan terpuji | dengan lisan dan perbuatan
beda dengan suami yang bila dipuji besar kepala | istri yang dipuji justru makin tundukkan kepala | takluk pula hatinya
kata-kata 'sayang, cinta, manis, cantik' dan perilaku mesra bukan sebuah dosa | justru ia madu yang merekatkan romantisme keluarga
tersipu malunya istri karena godaan suami itu pahala | merona merahnya pipi istri karena candaan suami itu bahagia!
gombalnya suami-istri itu indah, tiada banding dan tanding deh! | gombalnya pacar haram jadah, nguras laut aja deh!

Melatih anak belajar tengkurap





Meskipun sudah mempunyai lima anak, dan sudah lumayan terlatih dengan kemampuan anak-anak. tapi saya tetap takjub dengan tumbuh kembang mereka. seperti hari ini bungsuku sudah berusia 4 bulan. dan hooop, dia berhasil tengkurap. dari kemaren rasanya geli melihat doi sampai berliuran untuk bisa tengkurap. sampai termiring-miring. dan jika sudah miring ga mau langsung dibalikin lagi....hihihi lucunya anak-anak itu...mereka benar-benar pembelajar sejati.
INI saya berbagi sedikit tentang kemampuan tengkurap. yang saya ambil dari Kompas.com
Saat bayi sudah bisa tengkurap, orangtua akan merasa bangga. Kemampuan tengkurap diawali dengan kemampuan bayi mengangkat kepalanya dan berguling. Keterampilan ini mulai terlihat ketika bayi memasuki usia dua bulan.

Sebelum menstimulasi keterampilan tengkurap, cermati terlebih dahulu kemampuan bayi mengangkat kepalanya. Bantu bayi mengangkat kepala, caranya menggoyang-goyangkan mainan warna-warni yang berbunyi agar merangsang bayi untuk mengangkat kepala hingga lehernya kuat.

Bila lehernya sudah kuat dan ia mampu mengangkat kepalanya, rangsang bayi untuk berguling. Caranya silangkan paha bayi agar badannya ikut bergerak miring, sehingga memudahkan bayi berguling dan tengkurap.

Letakkan mainan berwarna cerah di dekat bayi, kemudian pindahkan benda tersebut ke sisi lain dengan perlahan untuk memancing kembali bayi berguling dan tengkurap.


Makanan Bayi Tak Perlu Garam

Makanan Bayi Tak Perlu Garam
 
Dalam rangka Peluncuran katering khusus makanan Bayi kami "Auladi baby foods" maka saya sedikit berbagi informasi tentang makanan bayi.....
tapi pada postingan ini saya tidak melampirkan resep, insyaAllah pada postingan selanjutnya akan saya postingkan.....
Selamat Menikmati

Hasil penelitian di Jerman
menunjukkan bahwa makanan bayi
tak perlu dibubuhi garam. Mengapa?
Rasa ingin tahu Anda terjawab di sini.

Bolehkah menambahkan garam pada
bubur bayi? Jangan! Karena, reaksi bayi
terhadap garam sangat sensitif.
Begitu dia menerima garam dari makanannya, tekanan darahnya akan melonjak tinggi. Hal ini dapat berdampak jangka panjang. Di satu tahun pertama, usahakan makanan yang diberikan pada bayi tidak
diberikan garam sama sekali. Dalam ASI,sayuran, kacang-kacangan dan daging sebenarnya sudah terdapat kandungan garam alami yang mencukupi kebutuhan bayi.

Jadi, haruskah makanan bayi hambar? Kitalah yang merasakan bubur bayi hambar, karena selera makan kita sudah terbiasa dengan rasa asin. Sementara pada bayi, langit-langit mulutnya belum berkembang sempurna dan dia belummemiliki preferensi rasa asin! Jadi, makanan yang kita anggap hambar, untuk bayi enak-enak saja.

Apakah ginjal bayi belum dapat memproses garam? Ya, ginjal bayi belum dapat memproses garam dalam jumlah tinggi. Bayi memiliki sistem pencernaan yang masih sangat rapuh, dan ginjal adalah
salah satu organ bayi yang paling rapuh. Terlalu banyak garam dari sumber selain makanan alami seperti ASI, susu formula, sayur dan buah-buahan, dapat merusak ginjal bayi, bahkan dapat menyebabkan kerusakan otak. Apa yang terjadi pada garam di ginjal? setelah tubuh mengambil sari-sari makanan yang dibutuhkan dari makanan yang dikonsumsi, sisanya akan dibawa darah menuju ginjal. Jika ginjal tidak membuang sisa sari makanan tersebut, maka akan menumpuk dan merusak tubuh. Tugas ginjal adalah memastikan zat-zat seperti natrium (salah satu unsur
garam), fosfor dan kalium dilepaskan ke darah untuk diedarkan kembali dalam tubuh. Dengan cara inilah ginjal menjaga keseimbangan zat-zat tersebut.

Jadi, kapan makanan anak boleh diberigaram? Kebutuhan garam bagi anak usia 6-12 bulan hanya 1 gram per hari dengan kandungan natrium 0,4 gram. Jumlah ini sudah terpenuhi dari ASI dan makanan pendamping ASI. Untuk anak dengan usia yang lebih besar, kebutuhan garam sedikit lebih banyak: usia 1-3 tahun butuh sampai 2 gram per hari (mengandung natrium 0,8 gram). Di usia ini Anda dapatmanambahkan garam maksimal ¼ sendok teh garam dapur sehari.

Bagaimana dengan keju, margarin dan mentega sebagai penambah rasa? Keju, margarin dan mentega (butter) memiliki rasa yang dapat membangkitkan selera makan anak. Mengingat anak yang lebih besar yang sudah dapat mentolelir lebih banyak garam, maka akan lebih baik bila keju, margarin dan mentega diberikan pada anak yang sudah siap menerima produk ini, yaitu usia 8 bulan. Carilah keju,
margarin dan mentega yang rendah natrium dengan memeriksa label kemasan. Biasanya, dengan keterangan unsalted pada kemasannya.

Lalu, bagaimana dengan kebutuhan kolesterol untuk tumbuh kembang otak bayi usia 6-8 bulan yang belum boleh mengonsumsi margarin dan mentega? Kebutuhan tersebut bisa diperoleh dari ASI yang memenuhi 80% kebutuhan bayi. Bila Anda akan menambahkan kolesterol “baik” (High Density Lipoprotein –HDL) pada bubur bayi, bisa dengan minyak extra virgin olive oil. Tambahkan setelah makanan bayi matang dan dalam kondisi hangat.
 
Apakah bayi mau makan makanan dengan tambahan rempah dan bawang putih? Bayi adalah kosumen makanan yang pasif. Artinya, dia akan menerima makanan apa pun yang kita hidangkan
untuknya. Namun, perlakukan tambahan“perasa alami” berupa rempah-rempah dan bawang putih seperti makanan baru bagi bayi Anda. Berikan tambahan satu per satu setidaknya selama empat hari,
untuk membantu Anda mengidentifikasi dan menghindari bayi alergi padamakanan tambahan alami ini.

sumber : ayahbunda

EMAK SCHOOL jilid 1


Bukan sekolah itu saja yang mendidik hati sanubari itu, melainkan pergaulan di rumah terutama harus mendidik pula!

Sekolah mencerdaskan pikiran namun kehidupan di rumah tangga membentuk watak anak itu. Ibu lah yang menjadi pusat rumah tangga.

Berilah anak-anak gadis pendidikan yang sempurna, jagalah supaya ia cakap kelak memikul kewajiban seberat itu.”

(RA Kartini, dalam surat kepada Tuan dan Nyonya Anton, 04 Oktober 1902)

          Tidak ada sekolah untuk orang tua, yang ada kita para orangtua khususnya para ibu diminta untuk selalu belajar. ....ya teruslah belajar dan berbagi ilmu sehingga selalu bermanfaat.

setelah ikut training Duta Dancow parenting Center yang diadakan di Hotel saphire. saya terpikir membuat sekolah gratis untuk para ibu...awalnya setelah membaca surat RA kartini diatas....ada rasa yang membuncah...ketika sebenarnya begitu banyak ibu,mamak, emak, biyung, ina dan para bunda diluar sana yang ingin berbagi tentang bagaimana mendidik anak mereka menjadi anak luar biasa, anak LIFE READY, anak yang kelak menjadi saksi di akhirat bahwa kita sudah berbuat kebaikan dengan mendidik mereka dengan baik....

dulu ketika hamil dan menyusu saya rajin ikut KP Ibu (kelompok pendamping Ibu hamil dan menyusui yang diadakan disetiap pedukuhan di daerah Bantul)...tapi setelah masa hamil dan menyusui lewat saya agak sungkan untuk datang. padahal banyak hal lagi harus saya pelajari untuk membesarkan anak. sebenarnya ide itu sudah mulai dicicil ketika saya dan teman-teman mendirikan komunitas Jogja Islamic parenting Club. tapi lingkupnya terbatas. nah ketika saya diminta membuat project oleh Team dancow Parenting center bismillah saya ingin mewujudkan ide ini. meskipun ketika nantinya project ini tidak lolos verifikasi (cie) saya dan teman2 tetap akan melanjutkan. karena paling tidak mungkin dari sini kami bisa berbagi sedikit manfaat bagi para ibu yang lain.

bagaimana program ini dijalankan:

1. berbagi penjelasan tentang Anak life ready dan membuat modul tentang stimulasi sederhana yang dapat dilakukan para emak dirumah dengan cara yang gampang, murah meriah, praktis tapi disukai anak-anak.

2. membuat kelompok-kelompok kecil para emak. sebaiknya tidak terlalu banyak. bisa dimulai dari para ibu yang ada di KP ibu, kumpulan arisan, pengajian, para ibu wali murid sekolah anak-anak kita atau kelompok2 kecil disekitar kita. saat ini kami sudah memulainya dengan bergabung dengan KP ibu wilayah banguntapan, pengajian ibu-ibu daerah sribit sendang tirto sleman, dll. ada sekitar 7 kelas yang siap dimulai.

3. apa saja materi kelas tersebut.tentu saja berbagi tentang dunia tumbuh kembang anak, berbagi resep anak sehat, berbagi cara membuat Alat Permainan Edukatif sederhana, dan saling mengevaluasi tahap-tahap tumbuh kembang anak. siapa yang mengisi. tentu saja teman-teman dari Jogja islamic parenting club dan para ahli yang mau bekerjasama dengan kami

4. hanya itu ? tentu saja tidak Mak, modul stimulasi anak akan dibuat untuk satu semester. nanti setiap enam bulan sekali kita ngadain acara gedhe.....bisa disi dengan workshop atau seminar parenting, demo masak, demo kerajinan, dan tidak lupa ada bazarnya juga lhoooooo.....

5. siapa yang boleh ikut?

semua ibu-ibu, emak-emak, bunda-bunda, biyung, ina, para mama-mami, dan semua wanita yang ingin belajar tentang dunia kepengasuhan anak.selain itu kelas ini GRATISSSSSS lho...kita usahakan saling mencukupi bersama anggota yang lain.

KISAH SEORANG IMAM MASJID DI LONDON



KISAH SEORANG IMAM MASJID DI LONDON

Seorang imam masjid di London, setiap hari pergi pulang dari rumahnya ke masjid dengan mengendarai bus umum. Ongkos bus tersebut dibayar pakai kartu (card), atau langsung ke sopir karena bus tidak memiliki kondektur. Setelah bayar, baru kemudian cari tempat duduk kosong.

Sang imampun membayar ongkos pada sopir lalu menerima kembalian, sebab hari itu ia tidak punya uang pas, baru kemudian duduk di bangku belakang yang kosong.

Di tempat duduknya dia menghitung uang kembalian dari sopir yang ternyata lebih 20 sen. Sejenak iapun terpikir, uang ini dikembalikan atau tidak yah? Ah cuma 20 sen ini, ah dia (sopir) orang kafir ini atau aku masukin saja ke kotak amal di masjid?

Setelah sampai di tempat tujuan, ia pun hendak turun bus dengan berjalan melewati sopir bus tersebut. Dalam hatinya masih bergejolak atas uang 20 sen itu, antara dikembalikan atau tidak. Namun ketika sampai di dekat sopir, spontan iapun mengulurkan 20 sen sambil berkata: “Maaf, Uang kembaliannya tadi berlebih 20 sen.”

Tanpa disangka tanpa dinyana, sopir itu mengacungkan jempol seraya berkata:

“Anda berhasil!”

“Apa maksud anda?” Tanya imam masjid.

“Bukankah anda imam masjid yang di sana tadi?” Tanya sopir.

“Betul” jawabnya.

Lantas sopir itu berkata…

“Sebenarnya sejak beberapa hari ini saya ingin datang ke masjid anda untuk belajar dan memeluk Islam, tapi timbul keinginan di hati saya untuk menguji anda sebagai imam masjid, apa benar Islam itu seperti yang saya dengar: jujur, amanah dan sebagainya. Saya sengaja memberikan kembalian berlebih dan anda berhasil. Saya akan masuk Islam”. Kata sopir tersebut.

Alangkah tercengangnya imam masjid tersebut, sambil beristighfar berkali-kali menyesali apa yang dipikirkannya tadi. Hampir saja ia kehilangan kepercayaan hanya dengan uang 20 sen itu.

Astaghfirullah …

Bagikan tausiyah ini kepada teman-temanmu

SEKOLAH BAYI?...KEMANA PARA IBU?

 
Sekolah Bayi vs Sekolah Ibu

Sejak umur enam bulan bayi sudah harus melakoni rutinitas bernama sekolah.

Lima bayi berusia kurang dari dua tahun, berseragam putih biru, sedang belajar pagi itu. Di dalam ruang kelas berukuran sekitar 4x8 meter bercat warna-warni itu, mereka diajari mengenal berbagai jenis bunga.

Bayi-bayi menggemaskan yang belum bisa bicara itu memperhatikan gerak-gerik guru yang membawa bunga. “Coba lihat ya, ini namanya flower,” ujar Julian Reny, guru di Baby Smile School, Surabaya. Dia lantas menyebut nama-nama bunga tersebut. Guru lain yang mendampinginya menirukan ucapan Julian dengan suara jenaka. Para murid tampak menyimak ucapan para guru.

Orlando, salah seorang murid, tampak menatap dengan ekspresi heran ke arah bunga-bunga tersebut. “Ayo sini Orlando,” panggil Julian. Bayi berusia sekitar 1,5 tahun itu langsung mendatangi Julian.

“Ini aunty kasih hadiah ya,” ujar Julian sambil menyerahkan bunga tulip kepada Orlando. Guru dan para pengasuh yang berada di ruang itu langsung bertepuk tangan. “Thank you aunty,” sahut para pengasuh dan guru hampir bersamaan. Orlando tampak tersenyum senang saat menerima bunga tersebut.

Bukan hanya nama bunga yang diajarkan para guru yang disebut aunty itu. Tetapi, warna dan bentuk bunga juga dikenalkan kepada para siswa. Selanjutnya, siswa diajak membuat bunga dari kertas dengan cara sederhana

Itulah sekilas aktivitas di sekolah bayi.Sekolah ini bukan sembarangan, karena mereka juga memiliki kurikulum. Bahkan, ada yang mengadopsinya dari Amerika Serikat. Seperti di Gymboree Baby School, Surabaya, yang mengutamakan pembelajaran motorik dan musik. Waktu belajarnya 45–60 menit, 2-3 kali per minggu.

Disfungsi Ibu

Apa yang diajarkan sekolah-sekolah bayi tersebut, sejatinya sangat sederhana. Hanya mengenalkan nama-nama benda, warna, angka dan cara berbicara kepada bayi. Betapa miris! Pemberian rangsangan sederhana seperti itu saja, tak mampu lagi dilakukan para ibu masa kini. Merekapun memilih menyerahkan bayinya ke sekolah.

Apakah para ibu ini sedemikian krisis rasa percaya diri untuk mendidik dan mengasuh anaknya sendiri? Sangat ironis dengan kemapanan status sosial dan pendidikan para perempuan masa kini. Semakin banyak perempuan berpendidikan tinggi, namun semakin kehilangan kemampuannya untuk mendidik bayinya sendiri.

Semakin banyak perempuan mandiri secara ekonomi, semakin kehilangan waktu untuk mengenalkan dunia pada buah hatinya sendiri. Ia lebih memilih membayar pihak lain demi rangsangan dasar pada bayinya yang notabene sangat mudah.

Tampak jelas hilangnya fungsi ibu di tangan sistem kapitalis-sekuler yang diterapkan negara ini. Fungsi ibu telah dikapitalisasi demi profit. Bagaimana tidak, untuk sekadar merangsang saraf sensorik dan motorik para bayi ini, orang tua dikenai tarif Rp 200–400 ribu sebulan. Itu belum biaya pendaftaran mulai Rp 2–5 juta.

Sekolah bayi atau juga penitipan bayi (baby care), telah mengambil-alih tugas kaum ibu hingga mereka semakin abai atas tugasnya. Mereka semakin nyaman meninggalkan buah hatinya untuk aktivitas lain di ranah publik. Bahkan, dengan bangga mereka memamerkan bayinya yang terlihat lebih cerdas dan menggemaskan setelah disekolahkan. Bukannya malah malu, karena kepintaran sang bayi bukan hasil sentuhan tangannya.

Sekolah Ibu

Untuk melahirkan bayi-bayi yang cerdas, memang dibutuhkan rangsangan sejak dini. Rangsangan itu hanya bisa dilakukan secara efektif oleh pengasuh yang paling dekat dengan bayi. Idealnya, tentu ibunya. Karena itu, sejatinya yang dibutuhkan adalah ibu yang cerdas. Ibu yang mampu menjalankan fungsinya mengasuh dan mendidik anak dengan maksimal.

Bayangkan, betapa repotnya jika seluruh ibu di negeri ini rame-rame mengirimkan anaknya ke sekolah karena khawatir anaknya tertinggal kecerdasannya. Betapa berjubelnya sekolah-sekolah bayi dan betapa menggunungnya profit mereka.

Betapa sibuknya ibu-ibu yang memiliki anak, karena sejak bayinya usia enam bulan sudah harus mengantarkannya ke sekolah. Betapa besarnya ongkos ekonomi fenomena ini, padahal sejatinya upaya pencerdasan bayi itu bisa dilakukan dengan gratis.

Kalau mau, yang dibutuhkan adalah sekolah para ibu atau calon ibu, bukan bayinya yang disekolahkan. Sekolah (calon) ibu ini pun tak harus diadakan secara khusus dalam sebuah lembaga. Karena, bisa jadi ini pun akan menjadi ajang untuk mencari profit semata, mengingat di alam kapitalisme saat ini, apa sih yang tak bisa dijadikan uang? Sekarang saja, seminar-seminar parenting mendadak laris manis meski biayanya selangit. Sebuah bukti akan hausnya para orangtua akan ilmu-ilmu kerumah-tanggaan dan pendidikan anak.

Padahal, pembekalan menjadi calon ibu, bisa dibenamkan dalam kurikulum pendidikan yang ada saat ini. Seperti pelajaran keterampilan, gizi keluarga, parenting, dll. Tentu harus berbasis aqidah Islam, dimana anak didik –khususnya perempuan-- diberi pemahaman mengenai tugas dan fungsi utamanya kelak saat berumah tangga.

Tidak seperti sekarang, banyak perempuan berpendidikan tinggi, bahkan mencapai gelar doktor atau profesor, tetapi tidak terampil ilmu-ilmu kerumahtanggaan. Kalau toh mau cerdas, kaum ibu ini terpaksa otodidak dari sumber sana-sini yang belum tentu mumpuni. Trial by error, learning by doing. Kaum perempuan tak pernah disiapkan secara khusus menjadi ibu rumah tangga yang tangguh.

Padahal, di sinilah ladang pahala kaum perempuan. Di antara sederet pahala yang disediakan untuk perempuan yang menjalankan fungsinya di rumah adalah sebagai berikut: Rasulullah SAW pernah bersabda: “Wanita yang tinggal bersama anak-anaknya akan tinggal bersama aku (Rasulullah SAW, red) di surga.”

Sabda lainnya: “Barang siapa mempunyai tiga anak perempuan atau tiga saudara perempuan atau dua anak perempuan atau dua saudara perempuan, lalu dia bersikap ihsan dalam pergaulan dengan mereka dan mendidik mereka dengan penuh rasa takwa serta bertanggungjawab, maka baginya adalah surga”.

Daripada Aisyah ra “Barang siapa yang diuji dengan sesuatu daripada anak-anak perempuannya, lalu dia berbuat baik kepada mereka, maka mereka akan menjadi penghalang baginya daripada api neraka.”

Riwayat lain menyebutkan, apabila semalaman ibu tidak tidur dan memelihara anaknya yang sakit, maka Allah SWT memberinya pahala seperti memerdekakan 70 orang hamba dengan ikhlas untuk membela agama Allah SWT.

Betapa Maha Pemurahnya Allah SWT kepada kaum ibu, tanpa repot-repot meninggalkan rumahnya pun, gundukan pahala menanti di sana. Anda juga mau, bukan?(kholda)
source: mediaumat.com
Sekolah Bayi vs Sekolah Ibu


Sejak umur enam bulan bayi sudah harus melakoni rutinitas bernama sekolah.

Lima bayi berusia kurang dari dua tahun, berseragam putih biru, sedang belajar pagi itu. Di dalam ruang kelas berukuran sekitar 4x8 meter bercat warna-warni itu, mereka diajari mengenal berbagai jenis bunga.

Bayi-bayi menggemaskan yang belum bisa bicara itu memperhatikan gerak-gerik guru yang membawa bunga. “Coba lihat ya, ini namanya flower,” ujar Julian Reny, guru di Baby Smile School, Surabaya. Dia lantas menyebut nama-nama bunga tersebut. Guru lain yang mendampinginya menirukan ucapan Julian dengan suara jenaka. Para murid tampak menyimak ucapan para guru.

Orlando, salah seorang murid, tampak menatap dengan ekspresi heran ke arah bunga-bunga tersebut. “Ayo sini Orlando,” panggil Julian. Bayi berusia sekitar 1,5 tahun itu langsung mendatangi Julian.

“Ini aunty kasih hadiah ya,” ujar Julian sambil menyerahkan bunga tulip kepada Orlando. Guru dan para pengasuh yang berada di ruang itu langsung bertepuk tangan. “Thank you aunty,” sahut para pengasuh dan guru hampir bersamaan. Orlando tampak tersenyum senang saat menerima bunga tersebut.

Bukan hanya nama bunga yang diajarkan para guru yang disebut aunty itu. Tetapi, warna dan bentuk bunga juga dikenalkan kepada para siswa. Selanjutnya, siswa diajak membuat bunga dari kertas dengan cara sederhana

Itulah sekilas aktivitas di sekolah bayi.Sekolah ini bukan sembarangan, karena mereka juga memiliki kurikulum. Bahkan, ada yang mengadopsinya dari Amerika Serikat. Seperti di Gymboree Baby School, Surabaya, yang mengutamakan pembelajaran motorik dan musik. Waktu belajarnya 45–60 menit, 2-3 kali per minggu.

Disfungsi Ibu

Apa yang diajarkan sekolah-sekolah bayi tersebut, sejatinya sangat sederhana. Hanya mengenalkan nama-nama benda, warna, angka dan cara berbicara kepada bayi. Betapa miris! Pemberian rangsangan sederhana seperti itu saja, tak mampu lagi dilakukan para ibu masa kini. Merekapun memilih menyerahkan bayinya ke sekolah.

Apakah para ibu ini sedemikian krisis rasa percaya diri untuk mendidik dan mengasuh anaknya sendiri? Sangat ironis dengan kemapanan status sosial dan pendidikan para perempuan masa kini. Semakin banyak perempuan berpendidikan tinggi, namun semakin kehilangan kemampuannya untuk mendidik bayinya sendiri.

Semakin banyak perempuan mandiri secara ekonomi, semakin kehilangan waktu untuk mengenalkan dunia pada buah hatinya sendiri. Ia lebih memilih membayar pihak lain demi rangsangan dasar pada bayinya yang notabene sangat mudah.

Tampak jelas hilangnya fungsi ibu di tangan sistem kapitalis-sekuler yang diterapkan negara ini. Fungsi ibu telah dikapitalisasi demi profit. Bagaimana tidak, untuk sekadar merangsang saraf sensorik dan motorik para bayi ini, orang tua dikenai tarif Rp 200–400 ribu sebulan. Itu belum biaya pendaftaran mulai Rp 2–5 juta.

Sekolah bayi atau juga penitipan bayi (baby care), telah mengambil-alih tugas kaum ibu hingga mereka semakin abai atas tugasnya. Mereka semakin nyaman meninggalkan buah hatinya untuk aktivitas lain di ranah publik. Bahkan, dengan bangga mereka memamerkan bayinya yang terlihat lebih cerdas dan menggemaskan setelah disekolahkan. Bukannya malah malu, karena kepintaran sang bayi bukan hasil sentuhan tangannya.

Sekolah Ibu
Untuk melahirkan bayi-bayi yang cerdas, memang dibutuhkan rangsangan sejak dini. Rangsangan itu hanya bisa dilakukan secara efektif oleh pengasuh yang paling dekat dengan bayi. Idealnya, tentu ibunya. Karena itu, sejatinya yang dibutuhkan adalah ibu yang cerdas. Ibu yang mampu menjalankan fungsinya mengasuh dan mendidik anak dengan maksimal.

Bayangkan, betapa repotnya jika seluruh ibu di negeri ini rame-rame mengirimkan anaknya ke sekolah karena khawatir anaknya tertinggal kecerdasannya. Betapa berjubelnya sekolah-sekolah bayi dan betapa menggunungnya profit mereka.

Betapa sibuknya ibu-ibu yang memiliki anak, karena sejak bayinya usia enam bulan sudah harus mengantarkannya ke sekolah. Betapa besarnya ongkos ekonomi fenomena ini, padahal sejatinya upaya pencerdasan bayi itu bisa dilakukan dengan gratis.

Kalau mau, yang dibutuhkan adalah sekolah para ibu atau calon ibu, bukan bayinya yang disekolahkan. Sekolah (calon) ibu ini pun tak harus diadakan secara khusus dalam sebuah lembaga. Karena, bisa jadi ini pun akan menjadi ajang untuk mencari profit semata, mengingat di alam kapitalisme saat ini, apa sih yang tak bisa dijadikan uang? Sekarang saja, seminar-seminar parenting mendadak laris manis meski biayanya selangit. Sebuah bukti akan hausnya para orangtua akan ilmu-ilmu kerumah-tanggaan dan pendidikan anak.

Padahal, pembekalan menjadi calon ibu, bisa dibenamkan dalam kurikulum pendidikan yang ada saat ini. Seperti pelajaran keterampilan, gizi keluarga, parenting, dll. Tentu harus berbasis aqidah Islam, dimana anak didik –khususnya perempuan-- diberi pemahaman mengenai tugas dan fungsi utamanya kelak saat berumah tangga.

Tidak seperti sekarang, banyak perempuan berpendidikan tinggi, bahkan mencapai gelar doktor atau profesor, tetapi tidak terampil ilmu-ilmu kerumahtanggaan. Kalau toh mau cerdas, kaum ibu ini terpaksa otodidak dari sumber sana-sini yang belum tentu mumpuni. Trial by error, learning by doing. Kaum perempuan tak pernah disiapkan secara khusus menjadi ibu rumah tangga yang tangguh.

Padahal, di sinilah ladang pahala kaum perempuan. Di antara sederet pahala yang disediakan untuk perempuan yang menjalankan fungsinya di rumah adalah sebagai berikut: Rasulullah SAW pernah bersabda: “Wanita yang tinggal bersama anak-anaknya akan tinggal bersama aku (Rasulullah SAW, red) di surga.”

Sabda lainnya: “Barang siapa mempunyai tiga anak perempuan atau tiga saudara perempuan atau dua anak perempuan atau dua saudara perempuan, lalu dia bersikap ihsan dalam pergaulan dengan mereka dan mendidik mereka dengan penuh rasa takwa serta bertanggungjawab, maka baginya adalah surga”.

Daripada Aisyah ra “Barang siapa yang diuji dengan sesuatu daripada anak-anak perempuannya, lalu dia berbuat baik kepada mereka, maka mereka akan menjadi penghalang baginya daripada api neraka.”

Riwayat lain menyebutkan, apabila semalaman ibu tidak tidur dan memelihara anaknya yang sakit, maka Allah SWT memberinya pahala seperti memerdekakan 70 orang hamba dengan ikhlas untuk membela agama Allah SWT.

Betapa Maha Pemurahnya Allah SWT kepada kaum ibu, tanpa repot-repot meninggalkan rumahnya pun, gundukan pahala menanti di sana. Anda juga mau, bukan?(kholda)
 
source: mediaumat.com