Jumat, November 30, 2012

Filter Air sederhana ala anak -anak HS


   mengumpulkan kerikil                                   filter ala Abang Usamah n Shuhaib




air kotor disaring dengan filter sederhana....voilaaaaaaaaaaa.....
hehehe belum jernih banget sih , tapi lumayan.
 

Akhirnya Negara Seluruh Dunia Menyatakan Palestina Sebagai Sebuah Negara Berdaulat

Akhirnya Negara Seluruh Dunia Menyatakan Palestina Sebagai Sebuah Negara Berdaulat

                   GAZA – Rakyat seluruh Palestina berpesta di Jalur Gaza, dan di berbagai pelosok negara Palesrina Jumat (30/11/2012) tengah malam tadi, untuk menyambut kabar gembira yang sangat ditunggu-tinggu bertahun-tahun, pengakuan PBB terhadap status negara Palestina. Putusan telak Sidang Majelis Umum PBB diambil sesudah voting Anggota PBB di markas PBB di New York, Amerika Serikat (AS), Kamis (29/11/2012).
Pengamatan dari sumber media onlinedetikcom di Gaza, Palestina, Rakyat Gaza tumplek ke jalan tidak lama setelah Negara Palestina yang dipimpin Presiden Mahmoud Abbas telah sebagai suatu negara yang berdaulat. Sontak kabar mengharukan ini diapresiasikan dengan cara merayakan penetapan Palestina seperti warga Jakarta merayakan acara tahun baru. Warga turun ke jalan. Sebagian dari mereka membawa mobil, motor dan membunyikan klakson sepanjang perjalanan menuju pusat kota. Bunyi petasan besar maupun kecil terdengar menggaung di seantero Palestina khusunya Gaza. Warga Gaza berpawai di jalan-jalan pusat kota. Banyak diantara mereka membawa berbagai tulisan yang ditumpahkan dalam spanduk dan beberapa bendera yang beragam warna.
             Bendera berwarna kuning Fatah mendominasi jalanan Gaza. Tapi tidak sedikit terlihat bendera hijau Hamas sang Oposisi Palestina segaligus musuh Israel, berkibar bebas di jalanan. Selain kedua bendera itu, ada juga bendera warna merah. Tidak terlihat ada perbedaan, semua masyarakat Gaza tengelam dalam euforia ini.
Salah satu warga bernama Husein mengatakan bahwa kemenangan ini tidak hanya sebuah kemenangan Fatah atau Hamas. Ini adalah kemenangan bersama seluruh Palestina.
“Bukan hanya Fatah, ataupun Hamas, ada juga partai lain yang larut dalam kegembiraan ini. Tak ada perbedaan, ini adalah kemenangan seluruh Palestina,” ujar Husein dengan bahasa Inggris yang terbata-bata.
           Riuh perayaan ini tidak hanya terjadi di Gaza. Perayaan yang lebih meriah malah terjadi di Ramallah, Ibu Kota Tepi Barat. Seluruh Rakyat Palestina menyambut penetapan PBB ini. Walaupun belum menjadi anggota sepenuhnya, Palestina bisa bergabung dengan badan-badan PBB dan berpotensi bergabung dengan Mahkamah Pidana Internasional yang akan secara tidak langsung bisa mengadukan hal ini tentang kekejaman Israel terhadap mereka.
           Perkara tersebut merupakan langkah lebih maju diplomasi Palestina untuk memperoleh pengakuan kemerdekaan yang benar-benar bonafit, kredibel dan sangat berdaulat dimata negara manapun tak terkecuali Israel dan para sekutunya.
Semoga kedepan lebih baik, tiada peperangan lagi, dan Hamas bisa menahan diri lebih dalam. Sedangkan Israel bisa lebih mau diajak berunding untuk tercapainya nohkta perdamaian diantara kedua belah pihak. Semoga saja sepakat.
Selamat Palestine, Rakyat Indonesia Mendukungmu.
Sumber : detik.com solopos.com dll

Kamis, November 29, 2012

ASI tidak Gratis

tulisan ini saya ambil dari Kompasiana...silakan di nikmati...masihkah ada alasan untuk tidak memberi ASI oleh:Niken Satyawati www.kompasiana.com/nikensatyawati

                   Inget Ahok (Basuki Tjahaja Purnama) saat sidak di suatu kantor kecamatan? Dia melihat seorang ibu hamil. Wagub DKI itu lantas memastikan instansi itu dilengkapi lemari es dan ruang laktasi bagi pegawai perempuan. Ahok tidak mau pegawai perempuan memeras ASI di kamar kecil yang penuh dengan bakteri. Top abis! Saya acungi dua jempol! Seandainya semua pejabat berwenang seperti Ahok, maka makin banyak ibu/pegawai bekerja yang tetap memberikan ASI buat bayinya. Dengan demikian, anak-anak Indonesia di masa depan akan lebih sehat dan cerdas. Semua juga sudah tahu, air susu ibu (ASI) adalah yang terbaik bagi bayi. ASI mengandung zat-zat yang tak tergantikan oleh susu formula. ASI memang ajaib.
                  Di antara keajaiban itu adalah: # Mengandung imunoglobulin alami, dan juga kolostrum yang sangat penting untuk daya tahan tubuh bayi. Kolostrum yang kali pertama keluar dari payudara ibu, khasiatnya 20 kali lipat lebih baik dibanding yang selanjutnya ada dari ASI. Dengan demikian pemberian ASI juga sangat membantu menghindarkan bayi dari infeksi dan berbagai alergi. # Mengandung protein khusus yaitu taurin, dengan laktosa dan lemak ikyatan panjang yang jauh lebih banyak dibanding yang ada pada susu sapi. Taurin penting untuk perkembang otak secara maksimal # Protein ASI sangat spesifik, amat sangat jarang menimbulkan alergi. Hal ini berbeda dengan susu sapi yang kadang menimbulkan alergi seperti kulit bintil-bintil pada bayi. # Pemberian ASI adalah bentuk kasih sayang. Thus, ASI meningkatkan bonding/ikatan batin antara ibu dan anak.
                  Saya beruntung, dianugerahi payudara yang selalu siap dan lancar mengucurkan ASI. ASI telah dirangsang keluar oleh bayi saya sendiri, tepat saat dia lahir ke dunia, dengan inisiasi menyusu dini (IMD). Hari kedua setelah melahirkan, ASI saya biasanya keluar. Jadi memang ketika habis melahirkan, pada hari pertama biasanya bayi saya sempat minum susu formula (sufor) beberapa tetes. Ini dilakukan dengan sangat terpaksa. Saya selalu khawatir bayi lapar, sehingga setengah hari setelah melahirkan, dengan menandatangani pernyataan, saya mengizinkan pihak RS memberi bayi saya sufor. Namun itu biasanya hanya berlangsung satu hari. Mulai hari kedua dan selanjutnya, bayi-bayi saya minum ASI murni. Anak pertama dan kedua minum ASI saja hingga 3 bulan. Selanjutnya mereka tetap minum ASI ditambah sufor hingga 6 bulan. Lali ASI tetap saya berikan ditambah makanan pendamping hingga mereka berusia 2 tahun. Usia mereka kini 10 tahun dan 5 tahun. Khusus bayi ketiga, seiring dengan gencarnya kampanye pemberian ASI eksklusif, dan berbagai fasilitas yang mendukung ibu menyusui di tempat kerja, saya bertekad memberikan ASI saja hingga 6 bulan. Hingga saat tulisan ini saya tulis, pemberian ASI sudah berlangsung 3,5 bulan. Sementara saya sudah 1 bulan lebih bekerja. Memang tidak mudah. Tapi bisa dilakukan demi kesehatan bayi dan keuntungan-keuntungan lain yang didapat ibu dan anak. Caranya? Di sela-sela kerja, saya menyempatkan diri memeras ASI. Butuh ruangan khusus yang tertutup dan sesteril mungkin untuk memeras. Dan saya beruntung karena ada sejumlah ruangan yang bisa digunakan di tempat kerja saya. Lebih beruntung lagi, karena ada lemari es di setiap lantai, di mana saya bisa menyimpan ASI agar lebih awet.Di suhu biasa, ASI bisa bertahan hngga 6 jam. Di suhu lemari es (bukan freezer), ASI bisa bertahan hingga 24 jam. Di freezer, ASI bisa bertahan hingga 4 bulan! Biasanya saya memeras 2 hingga 3 kali di tempat kerja. Saat ada rapat, saya kadang keluar sebentar untuk memeras ASI. ASI lalu saya taruh di lemari es. Ketika saya pulang, ASI saya ambil dan saya bawa pulang, lalu sesampai di rumah saya simpan di lemari es yang ada di rumah. Saat di rumah, bayi minum langsung dari payudara. Jadi ASI yang disimpan di lemari es hanya dipakai ketika saya pergi kerja atau ke tempat lainnya. Ketika bayi lapar, ASI dicairkan/dihangatkan dengan cara merendam wadahnya (saya pakai kantong plastik) dalam air panas. Setelah kira-kira sehangat air susu ibu asli, ASI siap diminumkan. Yang agak repot adalah ketika saya harus dinas ke luar kota. Saya harus menenteng-nenteng cooler bag berisi sejumlah kristal es atau bisa diganti sebongkah es batu. Saya pernah memeras di mobil karena perjalanan cukup jauh. kadang juga memeras di kantor orang, ketika mengunjungi suatu instansi. ASI lalu dimasukkan cooler bag agar tetap dingin sehingga tidak kedaluwarsa. Walau ribet, semua saya lakukan dan juga dilakukan banyak ibu bekerja, demi bisa memberikan ASI kepada bayinya. Faktanya, cuti hamil resmi pada umumnya di Indonesia adalah 3 bulan, sesuai UU Ketenagakerjaan. Cuti itu diambil 1,5 bulan sebelum melahirkan dan 1,5 bulan setelahnya. padahal ASI eksklusif itu mestinya diberikan 6 bulan. Jadi perjuangan memeras, menenteng cooler bag dan lain-lain untuk memberikan ASI harus dilakukan 4,5 bulan. Kalau negara ini berniat membentuk generasi yang sehat dan tangguh, memang mestinya cuti melahirkan itu 7,5 bulan. Satu setengah bulan sebelum melahirkan dan 6 bulan setelah melahirkan. Mimpi kali yeee???? Well.. ASI memang harus dibayar dengan pengorbanan dari seorang ibu untuk memeras dan tetek bengek lain yang saya ceritakan di atas. Di samping itu pada malam hari, ibu harus bangun berkali-kali untuk memberikan ASI bagi anaknya. Lambung bayi yang kecil memang menuntutnya sering minum dengan porsi tidak banyak. Makanya saya memaklumi bila masih banyak ibu yang kesulitan memberikan ASI bagi anaknya. Biar gampang, akhirnya mereka rela anaknya mengonsumsi sufor. Masih bilang ASI itu gratis?

Sabtu, November 24, 2012

Syair nan Cantik Ustadz Felix Siauw

‎01. cinta seringkali datang dari hal-hal sederhana bukan mewah | seperti kaus kaki yang kau kenakan saat gerimis di tengah sawah
02. saat engkau tunjukkan pekerti yang memikat hati | cerminkan kehormatan diri dan taatmu jadi jaminan hari nanti
03. walau jilbabmu terbasah lumpur yang menggenang | jangan tanya kaus kaki yang kotor bukan kepalang
04. namun engkau tetap tenang tak bergeming | memikirkan taatmu pada siapa? itu yang buat merinding
05. tanpa kusadari ada rasa haru menelisik masuk | romantisme manapun tidak ada saingan bagi takjub yang merasuk
06. namamu pun aku tak tahu, tapi yang tersebut justru nama Tuhan-mu | "subhanAllah yang telah menciptakan Muslimah taat semisalmu"
07. karena taat pada Allah maka seorang Muslimah layak dinikahi | sebab mendidik anak yang menyembah Allah perlukan iman yang sejati
08. cinta itu membutakan, cinta karena Allah lebih tak peduli | urusan apa asal etnis dan kekayaan, bila sudah taat Allah apa lagi dicari?
09. kukirimkan sepucuk surat padamu, isinya permintaan pernikahan | karena Allah sudah menjaminmu, tiada kuperlukan pacaran
10. tak perlu lagi berkenalan, karena kauskaki kotor sudah jadi saksi | jika perintah Allah engkau dengarkan, begitu juga kelak pinta suami
11. engkau balas surat dengan kata "engkau belum mengenalku" | aku memang belum mengenalmu, tapi yang kutahu lebih dari cukup bagiku
12. pantang menyia-nyiakan Muslimah yang taat Allah | di rumah tangga kelak yang begini yang mengundang berkah
13. kaus kaki kotor berbicara lebih banyak daripada lisan | memberitahu lebih banyak dari kebohongan bertopeng pacaran
14. adakala kejujuran lebih mudah dilihat dari perbuatan | namun pacaran sudah pasti mensyaratkan kebohongan
15. kaus kaki memang tak bisa bicara, namun ia tiada berdusta | beda dengan pacaran yang katanya cinta, namun minta pemuas nafsu nista
16. ingatkah engkau tentang pasangan aktivis-pacaran yang menuding | bahwa pernikahan kita tak didahului pacaran karenanya tak langgeng?
17. tahun demi tahun tanganmu tetap kugenggam hingga hari ini | sementara yang berpacar tiada menikah dengan alasan itu dan ini
18. tidak salahlah aku memilihmu, berbekal telaah kaus kaki | hatimu mudah menerima nasihat, asalkan ada hadits dan ayat
19. tiada salah aku menunda kenikmatan masa muda | karena sekarangpun aku pun tak ingat lagi -dan tak peduli- pernah muda
20. sabar menanti yang halal akan berakhir satu saat nanti | namun nikmat bersama yang tak halal akan jadi penyesalan nanti
21. dulu aku berusaha jadi ksatria, tidak memenuhi kepalamu dengan janji | komitmenku adalah akad nikah, ucapan sayang masih banyak masa
22. sekarang akupun tetap ksatria, mencari bagimu hanya yang halal | berucap padamu hanya yang baik, dan mengajarmu hanya yang benar
23. dan ksatria itu adalah menikahi, atau sudahi | bukan memulai yang tak bisa diselesaikan dengan menikahi
24. jelas bukan ksatria yang mengucapkan cinta, sayang | sedang bertemu wali dan tentukan tanggal saja banyak alasan
25. bila betul niatmu mencintai karena Allah | maka menikah itu pahala bagimu, bila belum siap dan berpisah itupun pahala bagimu
26. didik dirimu dengan Al-Qur'an, latih dirimu bergerak dalam dakwah Islam | itu jaminan hari tua, engkau bersama dengan orang yang benar
27. hormati dirimu, muliakan kehormatanmu | berikan pada lelaki yang siap mengambilnya dengan menikahimu, bukan menjanjikan harapan palsu
28. tutupi auratmu, pakai kaus kakimu | karena lelaki baik akan menundukkan pandangan, karenanya akan melihat kebawah kakimu :D

Cerita Dibalik Nama USAMAH Sang Panglima

             Banyak orang yang antusias klo urusan memberi nama anak.....pengennya yang bagus, bermakna, penuh doa, unik, ga ada yang nyamain (ga seru kan klo waktu dipanggil separuh kelas nyahut semua). waktu saya hamil anak pertama, waduh berburu nama itu seperti berburu emas rasanya.deg2an nya hampir nyamain waktu dilamar(hehehe klo ini lebay kayaknya).maklum Anak pertama sodara-sodara. tapi saya dan suami sepakat pengennya anak kami kelak namanya diambil dari nama para Shahabat Nabi. waktu itu tahun 2000an kan lagi seru2nya nama Osama bin laden cetar membahana(ih kayak Syahroni aja). saya sih menisbatkannya pada sahabat Usamah bin Zaid, Shahabat mulia yang menjadi Panglima perang diusia muda. Bayangkan anak seusia itu sudah menjadi Panglima Perang. zaman sekarang anak seumur itu bisanya tawuran, 18 tahun boooo. saya sampai baca kisah Usamah bin Zaid berulang-ulang dan anehnya ga bosan tuh. akhirnya meskipun baru hamil 2 bulan saya sudah memanggil janin yang diperut saya dengan nama Usamah sang Panglima. pede banget ya, belum USG aja udah nebak kalo yang diperut ntar laki-laki. itulah asal muasal nama Usamah Abdusshabuur disematkan. Makanya saya selalu bercerita pada si sulung saya bahwa mereka yang bernama Usamah sepanjang sejarah adalah orang-orang mulia.jadi kalo kamu jadi orang ecek-ecek kamu sudah merusak sejarah (wuih anak saya sampai ngeri ngedengernya)
              Ketika Anak kedua lahir saya dan suami tetap mencari nama dari kalangan Shahabat. karena anak ini tampan, jadi kami memilih nama Shuhaib Abdurrahim untuk disematkan pada dirinya....bayangkan seorang pemuda tampan, Shalih, bermata biru, berbadan tegap, berkulit putih rupawan, nah seperti itulah shuhaib arrumi digambarkan. dan anak kedua ini memang rupawan (cuit2)...bahkan anak2 tetangga klo lewat depan rumah yang dipanggil si Shuhaib bukan abangnya...(maaf-maaf-maaf, abang Usamah jangan cembokur ya). Nah waktu anak ketiga lahir, alhamdulillah akhirnya saiya punya juga anak perempuan. bagaimanapun saiya pengen punya anak perempuan, paling ga bisa bantu2 emaknya (kenyataannya ga juga,qiqiqi). bingung banget mau kasih nama apa....nama2 yang bagus udah dipake semua....nama istri Rasulullah sudah banyak yang pake.haduh saya dan abinya sampai bongkar buku, bongkar catatan, bongkar google, bongkar celengan (yang terakhir memang iya, soalnya u biaya syukuran). cari sana cari sini. sampai saya dapet satu kisah tentang istrinya shahabat Saad bin Abi Waqosh, dialah Salma. eh kayaknya kedengerannya bagus ya Bi, hooh kata si boz. yaudah jadilah nama itu kami ambil dan ditambahkan Qaulan Sadida. Hufff, akhirnya nama si gadis manis ini ditemukan (jangan bayangkan dia sekarang menjadi gadis manis, yang ada adalah gadis mungil dengan senyum manisnya jauh disana, diatas pohon dibelakang rumah)..
              Setelah tiga tahun si kak Salma lahir, lahir lah bayi kami yang ke-4. badannya gempal, bobotnya saja mencapai 3700 gram. hampir empat kilo. saya harus menunggu dari jam 8 pagi sampai jam 6 sore sampai akhirnya si bayi ini lahir kedunia...benar-benar menguras energi. melihatnya saya langsung tercetus untuk mencari nama Shahabat yang kekar, kuat, perkasa, penunggang kuda, ahli perang, dan sederet gelar untuk para lelaki di medan perang. akhirnya terpilih nama Zoebair Abdurrahman...ya dia kami nisbatkan pada Shahabat Nabi yang mulia Zoebair bin Awwam. si pemilik 1000 kuda perang. tapi memang pada kenyataannya anak ini sangat kuat. Abang-abang dan kakaknya saja memilih mengalah daripada harus berurusan dengan si Zoe. Dirumah kami semua jendela adalah pintu buat Zoebair. sangat terobsesi jika melihat kuda, untunglah rumah kami tak seberapa jauh dengan lapangan pacuan kuda dan Stable. Dan kami perkenalkan inilah jagoan kami yang ke-5. Mush'ab Abdullah yang kami berharap kelak ia seperti Shahabat Nabi yang mulia Mush'ab Bin Umair. Bangsawan Quraisy yang tampan rupawan, kaya raya, dan terkenal dengan tutur katanya yang pandai dan menawan banyak orang.
                    Entahlah jika kelak Allah masih memberi kami kepercayaan untuk memberi kami momongan maka saya dan kekasih saya tetap akan memilih nama dari kalangan Shahabat Nabi. toh, saya yakin kami tidak akan pernah kehabisan ide. bukankah seluruh Shahabat Nabi mempunyai akhlaq mulia nan mempesona. buat teman-teman dan sodara-sodara yang bingung nyari nama bayi bisa tuh bongkar sirah Nabi dan mencari nama para Shahabat Nabi yang keren-keren. sudah namanya keren-keren  akhlaq dan perilakunya juga keren2. Wallahu'alam.http://www.armitaconsultant.com/
                           Dan khusus buat teman yang sedang deg2an menanti jagoannya “BEAUTIFUL NAME FOR SMART BABY by Armita Fibriyanti” saya usul nama Ukasah...dia Shahabat Nabi yang beruntung yang  Nabi yang mulia berkata padanya" jika Allah menginjinkan maka engkau akan masuk surga bersamaku" ih keren ya.http://menarahati.wordpress.com/2012/11/20/welcoming-baby-giveaway/

Jumat, November 23, 2012

Beginilah Anak-anak Israel Dididik

Beginilah Anak-anak Israel Dididik; Penjelasan untuk Kebiadaban Serdadu Zionis

saya ambil dari tulisan di Kompasiana
Pemuda berdarah Duri (Sebuah suku kecil di Sul-Sel), sedang merantau dan belajar di Jogja. tertarik pada sastra dan ushul fikih...perpaduan yang aneh memang :) dan dituangkan di http://ayubalmarhum.blogspot.com/ dan http://ayubmenulis.blogspot.com/

1353475554650587954
Buku yang mengungap Paradigma Pendidikan Israel Thd Palestina

Ditengah kecamuk pembantaian di Palestina, beragam pertanyaan tentu menyerang kesadaran setiap manusia yang masih memiliki rasa kemanusiaan di dalam dirinya : kapan semua ini berakhir?. Ya ini adalah pertanyaan yang akan ditanyakan oleh semua orang, tak peduli apakah ia seorang Kristen, Muslim, Yahudi (non-Zionis), atau atheis sekalipun, tak memandang apakah ia seorang Arab, Indonesia, Eropa, (etnis) Yahudi, selama ia masih memandang dengan kaca mata kemanusiaan. Untuk menjawab pertanyaan ini, salah satu yang bisa kita lakukan adalah mengintip isi kepala generasi dari dua kubu yang berseteru, terutama dari pihak penginvasi. Alasannya jelas, merekalah yang kelak akan menjadi penerus pemegang kendali negara Israel, kemana arah konflik ini sedikit banyak dipengaruhi oleh cara mereka melihat diri mereka, orang-orang Palestina, doktrin the promised land, dan penggunaan kekerasan.
Barangkali hal itulah yang menjadi motivasi dari seorang peneliti dari London Institute For Economic Studies bernama Ary Syeraby seperti dikutip Rakhmat Zaenal di dalam bukunya Makelar Dongeng Holocoust Catatan Perjalanan Dari Dalam. Ary yang merupakan mantan anggota satuan khusus Anti-Terror di ketentaraan Israel itu membuat sebuah penelitian dengan sampel 84 anak-anak Israel. 84 anak itu diminta menulis surat imajiner kepada seorang anak Palestina dengan keyakinan bahwa surat itu memang akan sampai dan dibaca oleh anak Palestina yang mereka kirimi surat. Hasinya mencengangkan, atau malah mudah ditebak. Penelitian yang dilakukan ditengah menggeloranya Intifadah yang telah ‘merepotkan’ Israel semalama 11 bulan itu dimuat di koran ternama Israel Maarev edisi 26 Agustus 2001 Israel (Zaenal, 2006 : 25). Dan inilah beberapa surat imajiner anak Israel kepada rekan-rekan mereka dari Palestina ;
Seorang gadis kecil berusia 9 tahun menulis surat kepada seoang bocah Palestina yang dihayalkannya bernama Muhammad, isi surat tersebut ;
Saya akan menanyaimu tentang sesuatu yang tidak bisa saya pahami. Apakah kamu akan menjawabku? Kenapa kamu selalu terlihat baik-baik dan tampan padahal kalian kelihatan berkulit gelap, rakus, dan berbau? Kenapa kalau saya keluar dari rumah dan mencium bau busuk, saya selalu menoleh dan mendapati bahwa salah satu dari kalian lewat di dekatku?
Seorang bocah Israel mengirim kepada anak Palestina yang juga dibayangkannya bernama Muhammad :
Kepada Muhammad yang berbisa… saya mengharap kamu mati. Shalom untukku, dan tidak untukmu.
Anak Israel yang lain menulis kepada anak Palestina yang direkanya bernama Yaser ;
Wahai Arab, wahai brengsek, dan goblok… kalau saya melihat kamu dekat rumah kami, saya akan meminum darahmu, wahau Yaser.
Surat yang paling memprihatinkan dan membaut kita merasa kasihan kepada bukan hanya rakyat Palestina tapi juga anak-anak Israel adalah surat yang ditulis oleh seorang putri berusia 8 tahun kepada anak Palestina rekaannya yang dibayangkannya juga berusia sama :
Sharon akan membunuh kalian dan penduduk kampung … dan jari-jari kalian dengan api. Keluarlah dari dekat rumah kami wahai monyet betina. Kenapa kalian tidak kembali ke tempat di mana kalian datang? Kenapa kalian mau mencuri tanah dan rumah kami? Saya persembahkan untukmu gambar ini supaya kamu tahu apa yang akan dilakukan Sharon pada kalian. Ha…ha…ha…
Gambar yang ditunjukkan bocah itu tidak lain adalah gambar Sharon dengan kedua tangannya membawa dua kepala anak Palestina yang berlumuran darah.
Mengapa anak-anak Israel itu bisa menulis surat bernada demikian kepada anak-anak Palestina? Jawabannya mungkin adalah sistem pendidikan mereka yang memang mengarahkannya demikian. Nurit Peled-Elhanan Seorang Profesor Bahasa dan Pendidikan dari Universitas Hebrew pernah melakukan penelitan terhadap materi ajar di sekolah-sekolah Israel lalu menuliskannya di dalam sebuah buku berjudul Palestine in Israeli Schoolbooks : Idealogy and Propoganda In Education. Di dalam sebuah wawancara yang diunggah ke situs Youtube, Elhannan menyampaikan isi bukunya yang terbit November 2011 lalu itu. Ia menyampulkan bahwa buku-buku teks (textbooks) yang digunakan di sekolah-sekolah Israel dipenuhi dengan ideologi pro-Israel, dan konten buku-buku tersebut berperan besar dalam menggiring anak-anak Israel untuk mengikuti pelayanan militer terhadap negara. Elhanna menganalisa tampilan dari gambar-gambar, peta, bahkan tata letak buku dan penggunaan gaya bahasa di dalam buku-buku pelajaran Sejarah, Geografi, dan Kewarga negaraan. Hasil analisisnya itu menunjukan bagaimana buku-buku tersebut memarginalisasi orang-orang Palestina, memberikan legitimasi kepada tindakan-tindakan militer Israel dan memperkuat identitas teritorial Yahudi-Israel.
Jadi jika kita melihat tindakan-tindakan biadab dari serdadu yang disebut penyanyi Rap Inggris Lowkey sebagai soulless soldiers dari kesatuan tentara Israel tidaklah mengherankan meskipun memang mengerikan. Hal tersebut adalah bukti berhasilnya sistem pendidikan di negara Israel. Dan jika kita bertanya apakah mereka tidak memiliki rasa kemanusiaan? Jawabannya mungkin bisa ditelusuri pada klasifikasi manusia menurut Talmud, kaum Yahudi adalah manusia seutuhnya, sedangkan manusia lain termasuk Arab-Palestina adalah kaum ghoyim. Ghoyim itu bukan manusia, jadi tidak butuh perlakuan manusiawi, sebagaiamana kita yang bisa dengan enteng menyembelih ayam potong. Terakhir, tulisan ini bukannya hendak menyebar rasa benci, sekedar berupaya memberkan jawaban terhadap pertanyaan tadi ; sampai kapan semua pembantaian itu berlangsung? Tampaknya jawabannya adalah keberhasilan sistem pendidikan Israel mewariskan semangat semboyan Manachem Begin “aku berperang maka aku ada” maka petaka ini akan terus berlangsung hingga Allah Yang Maha Adil memenangkan pihak yang berhak menang.

buat yang cari-cari bahan belajar yang ASYIK

http://www.primaryresources.co.uk/maths/cards.htm

Kamis, November 22, 2012

semakin Banyak Keluarga Muslim Barat yang Memilih Home Schooling


 

 

 

 

 

 

  

Semakin Banyak Muslim AS Memilih PendidikanHomeschooling

E-mail Cetak PDF
LOUDOUN COUNTY (Berita SuaraMedia) - Pada sore hari yang dingin di barat Loudoun County, sekelompok anak-anak menggunakan pinset untuk mengambil tulang-tulang hewan pengerat dari muntahan burung hantu. Seorang anak laki-laki membangun sebuah peluncur dari Lego. Seorang gadis berlatih tulisan tangan. Di dinding, ada plakat yang bertuliskan, "Aku berpuasa di bulan Ramadan", "Aku membayar zakat", dan "Aku akan pergi haji". Selamat datang di rumah Priscilla Martinez - dan sekolah anak-anaknya, di mana Martinez adalah guru, kepala sekolah dan sekaligus konselor pembimbingnya, dan di mana kredo "Allah menciptakan segala sesuatu" diajarkan di samping matematika, tata bahasa dan ilmu pengetahuan.
Martinez dan enam anak-anaknya, usia 2-12, adalah bagian dari peningkatan jumlah umat Muslim yang menjalani home-schooling. Di kawasan Washington, Martinez mengatakan, ia telah melihat jumlah homeschooler yang meledak selama lima tahun.
Meskipun tiga perempat dari sekitar 2 juta homeschooler di negara itu mengidentifikasi diri mereka sebagai Kristen, jumlah umat Islam bertumbuh "relatif cepat" dibandingkan dengan kelompok lain, kata Brian Ray, presiden dari National Home Education Research Institute.
Mereka berbuat demikian, katanya, karena alasan yang sama sebagai non-Muslim: "Akademisi yang lebih, lebih banyak waktu dengan keluarga, mereka ingin panduan interaksi sosial, menyediakan tempat yang aman untuk belajar dan... Mengajar mereka nilai-nilai, keyakinan dan pandangan dunia."
Orangtua mengatakan itu adalah alternatif yang menarik dari sekolah-sekolah umum, dengan tradisi dan nilai-nilai yang mereka tidak selalu merasa nyaman, dan sekolah-sekolah Islam, yang mungkin terlalu jauh, terlalu banyak biaya atau kurangnya kekakuan akademik.
Jika umat Islam telah menjalani home schooling daripada yang lain, mungkin sebagian karena begitu banyak umat Islam di Amerika Serikat adalah pendatang yang mungkin tidak sadar akan adanya pilihan. Bahkan, bagi banyak pendatang, gagasan tentang home schooling bertentangan dengan alasan mereka untuk datang ke Amerika, yang sering mencakup kesempatan pendidikan yang lebih baik. Dan sekolah umum telah lama dipandang sebagai kunci portal ke asimilasi.
Ketika Sanober Yacoob tiba dari Pakistan 13 tahun yang lalu dan mulai menjalankan home-schooling untuk ketiga anaknya, dia adalah satu-satunya pendatang yang melakukannya. Yang lain "berpikir aku aneh," katanya. "Salah satu dari mereka berkata kepadaku, 'Aku harap Anda tidak akan menghancurkan diri andasendiri, dan mereka akan menjadi bodoh." "
Sekarang, lebih banyak yang mengikuti langkah-langkahnya, dan banyak menggunakan kurikulum Calvert yang sangat dihargai untuk para homeschooler.
Maqsood dan Zakia Khan dari Sterling, yang beremigrasi dari Pakistan dua dekade lalu, mengatakan home schooling telah memungkinkan mereka untuk meningkatkan dan menginternasionalisasi kurikulum anak-anak mereka. Sekarang, di samping mata pelajaran standar, anak-anak mereka, usia 15, 14 dan 9, mempelajari Al-Quran selama setengah jam sehari, satu-lawan satu, dengan seorang wanita yang mengajar secara online dari Pakistan.
"Kalau mereka pergi ke sekolah, kita tak pernah bisa melakukan itu," Maqsood Khan. "Anda menghabiskan berjam-jam di sekolah, anda lelah, otak Anda sudah penuh dan Anda tidak ingin menghabiskan berjam-jam dengan studi Islam. Tapi sekarang itu bagian dari kurikulum mereka, kami menjadikannya sebagian waktu mereka."
Keluarga Khan memutuskan untuk homeschooling empat tahun lalu setelah seorang guru taman kanak-kanak, tidak sadar tentang isu-isu agama, mengatakan kepada anak mereka bahwa dia tidak bisa menolak makanan sekolah karena memakan makanan yang telah dibawa dari rumah. Insiden makanan itu kecil, tetapi menyoroti isu-isu yang oleh banyak Muslim mengatakan dihadapi anak-anak mereka setiap hari sebagai minoritas yang tidak merayakan Natal, Halloween atau pesta ulang tahun, yang tidak makan daging babi dan yang berpuasa selama bulan Ramadhan.
Keluarga tidak mempertimbangkan sekolah-sekolah Islam, Zakia Khan berkata, karena "mereka belajar lebih banyak di rumah daripada yang mereka pelajari di sekolah."
Sebaliknya, Abdul Rashid Abdullah dari Herndon mengatakan bahwa ia mempertimbangkan sebuah sekolah Islam untuk putranya yang 11 tahun, yang sedang berjuang di sekolah umum, jika bukan karena biaya.
"Anak-anak saya sangat sadar bahwa mereka adalah Muslim, dan mereka sangat sadar bahwa orang lain tidak," kata Abdullah, yang istrinya, seorang pendatang Malaysia, mulai menjalankan homeschooling putra mereka musim gugur yang lalu. Dua dari anak-anak pasangan muda itu, yang berusia 10 dan 6, tetap di sekolah umum; anak keempat mereka masih 3 tahun. "Ada budaya mainstream, dan anak-anak saya bukan bagian dari budaya mainstream... Dan untuk mendengar, 'Kami tidak melakukan ini, kita tidak melakukan itu,' bagaimana perasaan mereka ketika mereka sedang duduk di kursi itu? Home schooling benar-benar mengurangi tekanan."
Martinez, muallaf Islam keturunan Meksiko dan dibesarkan di Texas, mengatakan bahwa meskipun stereotip dari homeschooler biasanya tertutup dari dunia, tujuannya bukan untuk membatasi anak-anak dari budaya mainstream sama seperti untuk memastikan mereka tidak tersesat dalam arus.
"Kami tidak mengisolasi diri dari seluruh dunia dan duduk di sini di rumah hanya karena tidak terbiasa dengan komunitas kita dan identitas kita sebagai orang Amerika," katanya. "Tapi kita juga tidak mengirimkan mereka ke sekolah di mana secara umum mereka harus meninggalkan sebagian besar identitas mereka di pintu."
Ada juga alasan-alasan religius. "Kami jelas belajar dari pandangan dunia yang berbeda," katanya. "Semuanya memiliki Tuhan sebagai pusatnya. Kami tidak hanya mempelajari lebah, tetapi kita mempelajari apa yang dikatakan Al-Quran tentang lebah dan banyak berkah dan madu.... Kita mendapat pelajaran agama dari itu, kita peroleh biologi dari itu dan juga kimia."
Ide mengajar anak-anak di rumah telah lebih diterima komunitas Muslim sejak Yacoob mulai melakukannya. Sekarang, katanya, mantan penentang memberinya selamat pada anak-anaknya, yang sedang mengejar gelar sarjana. Putranya Saad, sekarang 21 tahun dan mengambil jurusan bahasa Inggris di George Mason University, berhasil menghafal Al-Quran ketika berada di home-schooling. "Orang yang sama (yang pernah mengkritik dirinya) menghentikan saya, dan ia mengatakan pada saya, Kami sangat bangga akan Saad!"
Seperti halnya homeschooler dari setiap afiliasi, pertanyaan muncul tentang sosialisasi. Abdul-Malik Ahmad, pengembang Web berusia 34 tahun, dulunya adalah homeschooler di Beltsville pada tahun 1980-an dan 90-an. Sementara ia mengatakan secara keseluruhan itu adalah pengalaman yang positif (dia sekarang menjalankan homeschooling untuk putrinya ), itu memiliki kekurangan.
"Ada sangat sedikit Muslim, dan kami sangat tersebar, dan masyarakat tidak begitu berkembang seperti sekarang," katanya. "Jadi kami tidak punya kesempatan untuk bersosialisasi sebanyak yang kita bisa sekarang. Butuh waktu bagi saya untuk menyesuaikan begitu kuliah."
Untuk memudahkan transisi itu, beberapa homeschooler mengatakan mereka berencana untuk mengirim anak-anak mereka ke sekolah menengah umum begitu karakter mereka terbentuk secara utuh. "Bukan berarti Anda tidak ingin mereka tahu dunia," kata Norlidah Zainal Abidin, istri Abdullah, "Tapi Anda ingin menanamkan nilai-nilai tertentu di dalamnya terlebih dahulu."
Maqsood Khan mengatakan anak-anaknya terhubung dengan dunia luar melalui pramuka Islam dan kunjungan ke mal. "Mereka tipikal remaja; mereka mendengarkan musik yang penuh ledakan, tetapi mereka mendengarkan musik Islam."
Putrinya Meena, 15, yang menghadiri Sekolah Menengah Sterling sampai ia menyelesaikan kelas enam empat tahun lalu, berada di rumah baru-baru ini dalam kaus Redskins dan jilbab hitam. Dia mengatakan ada hal-hal yang ia rindukan tentang sekolah umum, termasuk klub Harry Potter.
"Saya suka pergi. Saya mendapat nilai bagus," katanya. "Tapi kami tidak mendapatkan cukup studi Islam."
Banyak homeschooler mencari interaksi sosial di luar kelompok kelas atau perjalanan lapangan. Pada suatu sore baru-baru ini di Cascades Perpustakaan di Sterling, ibu-ibu dengan jilbab menurunkan anak-anak mereka di sebuah ruangan di mana narasumber Jean McTigue sedang mengajar seni Muslim bagi anak-anak homeschooler. Ketika anak-anak dan perempuan memandang reproduksi Dalis dan Goyas, McTigue, yang anak-anaknya sendiri ada di kelas, mengatakan tak ada kesempatan yang sama untuk putra tertuanya, yang berusia 15. "Ketika Yusuf 6 tahun, dia ingin sekali melakukan sesuatu seperti ini, tapi benar-benar tidak ada apa-apa."
Di bawah, di antara ibu-ibu yang menunggu, Ayesha Khan mengatakan bahwa lima tahun yang lalu teman-teman dan keluarganya di Pakistan telah mengkritik keputusannya untuk melakukan homeschooling bagi anak-anaknya, yang sekarang 10 dan 8 tahun. Tetapi ketika mereka melihat anak-anak, mereka terkesan. 

penakluk Roma

sekarang dirumah lagi demam Roma. Bukannya RHoma Irama untuk RI satu ya. tapi Roma beneran. barat sono. ceritanya anak-anak barusan ikutan Tabligh Akbarnya ustadz felix Siauw. Anka-anak tergugah bener sama cerita penaklukan Roma itu. apalagi ditambah dengan cerita umiya setelah baca bukunya Sultan Muhammad Al Fatih 1453 yang dibelikan abiya di acara itu. tambah semangat deh anak-anak biar bisa jadi si Penakluk Roma yang dijanjikan itu. keuntungan buat Umiya dan Abiya.
1. anak-anak jadi rajin banget shalat berjamaah di masjid, alasannya sederhana.Waktu bagian Muhammad Al Fatih bilang siapa yang sejak balighnya tidak pernah meninggalkan shalat wajib berjamaah dimasjid silakan tetap berdiri. hehehe...anak-anak takutnya entar pas bagian itu kelak anak-anak sudah rejek duluan alias kena sortir ga masuk jadi pasukan penakluk Roma.
ini acara bersih2 rumah ceritanya setelah lama ga mampir....